Berita

Arief Poyuono/Net

Politik

Pasca OTT Bowo, BPN Minta Bawaslu Periksa Golkar

JUMAT, 29 MARET 2019 | 14:44 WIB | LAPORAN:

Operasi tangkap tangan (OTT) Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap Bowo Sidik Pangarso berbuntut panjang.

Jurudebat Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo-Sandi, Arief Poyuono memastikan bahwa pihaknya dalam waktu dekat ini akan melaporkan adanya dugaan pelangggaran pidana pemilu ke Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu).

"Kita akan ke Bawaslu untuk melaporkan hal ini, agar Bawaslu memeriksa kalau Golkar dibiayai dari uang hasil korupsi ya," katanya saat berbincang dengan Kantor Berita Politik RMOL, Jumat (29/3).


Jika terbukti bersalah, kata Arief, Golkar harus dibubarkan dan pasangan Jokowi-Maruf harus didiskualifikasi.

“Karena Ada dugaan money politics terstruktur menggunakan uang BUMN," lanjutnya.

Untuk itu, pihaknya mendesak KPK segera mempertontonkan ratusan ribu amplop yang diduga berlogo jempol, identik dengan pasangan simbol Jokowi-Maruf. Tidak hanya mempertontonkan 84 kardus berisi pecahan uang Rp 20 ribu dan Rp 50 ribu itu.

"Sudah jelas kasus amplop Bowo Pangarso ada kaitan kuat dengan Partai Golkar dan pasangan Joko Widodo-Maruf Amin," duga Arief yang juga wakil ketua umum Partai Gerindra ini.

Anggota DPR Bowo Sidik Pangarso diduga telah menerima suap dari Marketing Manager PT Humpuss Transportasi Kimia (HTK), Asty Winasty. Suap itu diduga kuat berkaitan dengan kerjasama pengangkutan bidang pelayaran untuk distribusi pupuk.

Adapun total uang yang disita KPK sebesar Rp 8 miliar dan Rp 89,4 juta. Tak hanya itu, diduga sebelumnya Bowo juga sudah 6 kali menerima suap selain Rp 89,4 juta yang telah disita. Yakni uang senilai Rp 1,5 miliar, yang terdiri dari USD 85.130 dan Rp 221 juta.

Uang sejumlah Rp 1,5 miliar itu, sudah termasuk dalam Rp 8 miliar yang dipecah menjadi pecahan Rp 50 ribu dan Rp 20 ribu yang kesemuanya dimasukkan ke dalam 400 ribu amplop.

Populer

Dicurigai Ada Peran Mossad di Balik Pengalihan Tahanan Yaqut

Senin, 23 Maret 2026 | 01:38

Kehadiran Anies di Cikeas Jadi Masalah Serius

Jumat, 27 Maret 2026 | 02:08

Mengapa Kapal Pertamina Tidak Bisa Lewat Selat Hormuz?

Sabtu, 28 Maret 2026 | 02:59

SBY Menolak Silaturahmi Lebaran Anies?

Jumat, 27 Maret 2026 | 03:43

Nasib Hendrik, SPPG Ditutup, 150 Karyawan Diberhentikan

Jumat, 27 Maret 2026 | 06:07

Dubai Menuju Kota Hantu

Selasa, 31 Maret 2026 | 13:51

Permohonan Pengosongan Rumah Anak Zulhas Diajukan ke PN Jaktim

Rabu, 01 April 2026 | 18:05

UPDATE

Austria Tolak Wilayah Udaranya Dipakai AS untuk Serang Iran

Jumat, 03 April 2026 | 00:15

Memutus Mata Rantai Rabun Jauh Birokrasi

Kamis, 02 April 2026 | 23:50

PHE Tampilkan Inovasi Hulu Migas di Ajang Offshore Internasional

Kamis, 02 April 2026 | 23:21

Spirit ‘Kurban’ Prajurit UNIFIL

Kamis, 02 April 2026 | 22:57

Pencarian Berakhir Duka, Achmad Ragil Ditemukan Meninggal di Sungai Way Abung

Kamis, 02 April 2026 | 22:39

Robert Priantono Dicecar KPK soal Pungutan Tambang Kukar

Kamis, 02 April 2026 | 22:01

China Ajak Dunia Bersatu Dukung Inisiatif Perdamaian di Wilayah Teluk

Kamis, 02 April 2026 | 21:42

DPR: BPS Bukan Sekadar Pengumpul Data, tapi Penentu Arah Pembangunan

Kamis, 02 April 2026 | 21:31

78 Pejabat Pemkot Surabaya Dirotasi, Ada Apa?

Kamis, 02 April 2026 | 21:18

OJK Siap Luncurkan ETF Emas Akhir April 2026

Kamis, 02 April 2026 | 21:08

Selengkapnya