Berita

Refrizal/net

Politik

Pendukungnya Kembali Ditangkap KPK, Jokowi Maksimal 45 Persen?

KAMIS, 28 MARET 2019 | 20:44 WIB | LAPORAN: ADITYO NUGROHO

Penangkapan KPK atas anggota DPR RI yang diduga kuat berasal dari Partai Golkar pasti berpengaruh pada elektabilitas capres petahana Joko Widodo.

KPK diduga menangkap politikus Golkar, Bowo Sidik Pangarso, dalam operasi tangkap tangan yang berlangsung sejak Rabu malam hingga Kamis dini hari.
Memang belum ada keterangan pasti dari KPK. Namun, DPP Golkar sudah memutuskan pemecatan Bowo dari keanggotaan DPR RI dan jabatan Ketua Bidang Pemenangan Pemilu Jawa Tengah I.

Politikus Partai Keadilan Sejahtera (PKS), Refrizal, yakin elektabilitas Jokowi semakin merosot akibat terulangnya penangkapan KPK terhadap elite partai pendukung Jokowi-Maruf Amin.

Politikus Partai Keadilan Sejahtera (PKS), Refrizal, yakin elektabilitas Jokowi semakin merosot akibat terulangnya penangkapan KPK terhadap elite partai pendukung Jokowi-Maruf Amin.

Sebelum Bowo, KPK menangkap politikus PPP, Romahurmuziy atau Romi, di Surabaya terkait jual beli jabatan di Kementerian Agama, pada Jumat (15/3).

"Banyak sedikitnya berdampak (ke elektabilitas Jokowi). Kan sudah dekat, 21 hari lagi (menuju Pilpres). Sekarang sudah menurun, pasti nanti menurun lagi,” ungkap Refrizal.

Anggota Komisi XI DPR itu mengingatkan, sebuah lembaga survei menyebut elektabilitas Jokowi merosot 5-8 persen akibat perkara Romahurmuziy.

“Mungkin juga sekarang (OTT Bowo Sidik) bisa turun sekitar 2-3 persen,” tambah Refrizal.

Ia prediksi, pada hari pencoblosan tanggal 17 April mendatang, elektabilitas Jokowi stagnan di sekitar 40 persen. Itu pun belum termasuk dampak dari OTT yang menimpa direksi BUMN PT Krakatau Steel beberapa hari lalu.

“Paling tinggi elektabilitas Jokowi hanya 45 persen di 17 April nanti," ujar Refrizal.

Populer

Dicurigai Ada Peran Mossad di Balik Pengalihan Tahanan Yaqut

Senin, 23 Maret 2026 | 01:38

Kehadiran Anies di Cikeas Jadi Masalah Serius

Jumat, 27 Maret 2026 | 02:08

Mengapa Kapal Pertamina Tidak Bisa Lewat Selat Hormuz?

Sabtu, 28 Maret 2026 | 02:59

SBY Menolak Silaturahmi Lebaran Anies?

Jumat, 27 Maret 2026 | 03:43

Nasib Hendrik, SPPG Ditutup, 150 Karyawan Diberhentikan

Jumat, 27 Maret 2026 | 06:07

Dubai Menuju Kota Hantu

Selasa, 31 Maret 2026 | 13:51

Permohonan Pengosongan Rumah Anak Zulhas Diajukan ke PN Jaktim

Rabu, 01 April 2026 | 18:05

UPDATE

Austria Tolak Wilayah Udaranya Dipakai AS untuk Serang Iran

Jumat, 03 April 2026 | 00:15

Memutus Mata Rantai Rabun Jauh Birokrasi

Kamis, 02 April 2026 | 23:50

PHE Tampilkan Inovasi Hulu Migas di Ajang Offshore Internasional

Kamis, 02 April 2026 | 23:21

Spirit ‘Kurban’ Prajurit UNIFIL

Kamis, 02 April 2026 | 22:57

Pencarian Berakhir Duka, Achmad Ragil Ditemukan Meninggal di Sungai Way Abung

Kamis, 02 April 2026 | 22:39

Robert Priantono Dicecar KPK soal Pungutan Tambang Kukar

Kamis, 02 April 2026 | 22:01

China Ajak Dunia Bersatu Dukung Inisiatif Perdamaian di Wilayah Teluk

Kamis, 02 April 2026 | 21:42

DPR: BPS Bukan Sekadar Pengumpul Data, tapi Penentu Arah Pembangunan

Kamis, 02 April 2026 | 21:31

78 Pejabat Pemkot Surabaya Dirotasi, Ada Apa?

Kamis, 02 April 2026 | 21:18

OJK Siap Luncurkan ETF Emas Akhir April 2026

Kamis, 02 April 2026 | 21:08

Selengkapnya