Prabowo Subianto dan Joko Widodo/Net
Debat keempat Pilpres 2019 akan digelar pada Sabtu (30/3) mendatang di Hotel Shangri La, Jakarta Pusat.
Debat antarcapres ini mengangkat tema ideologi, pertahanan dan keamanan serta hubungan Internasional.
Menanggapi hal ini, analis sosial Universitas Bung Karno, Muda Saleh menyatakan bahwa di antara keduanya, Jokowi akan mengalami banyak kesulitan, terutama soal ideologi. Ia menilai, capres petahana tersebut memilik arah ideologi yang jauh dari Pancasila, serta Trisakti yang digagas Bung Karno.
"Presiden itu kan pemimpin bangsa, paling mudah lihatnya karena ia merupakan satu orang yang dilihat dari seluruh rakyatnya. Lihat aja dari kebijakannya, gampang kan? arahnya ke mana, tujuannya ke mana, dan cita-citanya apa,†ujarnya dalam keterangan tertulis, hari ini (Kamis, 28/3).
Muda menilai Jokowi belum berhasil menanamkan ideologi Pancasila di Indonesia. Hal ini menurutnya, karena adanya pergesekan, di mana terjadi stigma anti-Islam menjadi penanda mundurnya kualitas politik elektoral di Indonesia.
"Lihat saja, adanya isu kriminalisasi ulama, pemeriksaan terhadap para ulama, belum lagi ajak-ajak ulama sebagai poros kekuatan dukungan dalam Pilpres, mau gak mau ini terlihat di depan mata. Dan, upaya menggandeng Pak Ma’ruf membuktikan bahwa ia (Jokowi) memiliki rasa was-was dan menilai seolah pak Ma’ruf mewakili para ulama,â€" jelas Muda.
Muda menilai konsepsi agama sebagai salah satu solusi dalam Pilpres yang muncul karena penanaman ideologi di Indonesia saat ini tidak kuat.
"Tidak kuat. Padahal, dari ideologi yang kuat akan menciptakan kekuatan bangsa dan sulit kena guncangan apapun, baik dari dalam maupun luar negara, dan itu artinya kita butuh presiden yang memiliki ‘taring’ dalam dunia internasional, nggak bisa cuma jago kandang," jelasnya.
Terlebih saat ini ia mencermati telah terjadi pergeseran terhadap peradaban masyarakat Indonesia.
"Saya juga bingung, saat ini para pendukung saling hujat, saling sikat, padahal kita ini rakyatnya, dan capres adalah pelayannya, sampai hal ini saja masyarakat kita lupa, bahkan menilai capres adalah sosok yang harus dipuja-puji. Kita ini milih pembantu rakyat," tambahnya.
Muda pun meminta kepada presiden terpilih nanti agar tidak menjadi sosok pemimpin yang otoriter dan bisa mendengar aspirasi rakyat.
"Satu syarat pemimpin besar adalah memegang teguh ucapannya, menjaga kestabilitasan nasional, juga luar negeri tentunya. Ini yang saat ini terjadi, Jokowi belum sanggup membuat rakyat hepi, bahagia. Banyak contohnya, impor, pendidikan di Indonesia , budaya kita belum top di dunia Internasional dan bahkan bergeser sehingga masyarakat mudah goyang, karena penanaman ideologi secara fundamental belum ada, ini memperihatinkan untuk setiap generasinya dalam lima tahun ini," urainya.