Berita

Nasaruddin Umar/Net

Etika Politik Dalam Al-Qur'an (52)

Pelajaran Diplomasi Publik (18)

Menjauhi Gratifikasi Seksual
MINGGU, 24 MARET 2019 | 08:16 WIB | OLEH: NASARUDDIN UMAR

PENULIS masih mengin­gat sebuah film yang di­rilis tahun 1994 berjudul Disclosere. Film ini dib­intangi artis cantik Holly­wood Demi Moore yang berperan sebagai Meredith Johnson dan actor tampan Michael Douglas yang berperan sebagai Tom Sander. Film ini menceritakan adanya unsur gratifikasi seksual, ketika Meredith Johnson disusupkan bekerja pada perusa­haan computer "Digicom Corporation" yang sedang berkembang pesat. Simbol di balik perusahaan ini ialah Tom Sander, seorang yang sangat expert dalam computer sci­ence. Ternyata Meredith Johnson adalah bekas girlfriend Tom Sander dan sama-sa­ma sebagai mahasiswa di salahsatu Univer­sity di Seattle, Washington. Akhirnya skandal yang melibatkan dilakukan keduanya mem­buat perusahaan computer itu guncang. Di balik keguncangan perusahaan ini ada peru­sahaan yang berhasil meraih keuntungan.

Gratifikasi seksual juga menjadi cerita legendaris pada kerajaan-kerajaan Romawi kuno, kerajaan-kerajaan Arab, dan seperti gunung es, negara-negara modern, termasuk Indonesia juga tidak luput dari praktek grati­fikasi seksual ini. Banyak sekali pemerin­tahan dan perusahaan jatuh karena skandal gratifikasi seksual. Bagaimana akibat negatif gratifikasi uang atau barang tidak kalah den­gan gratifikasi seksual ini. Bahkan pesoalan­nya bisa menjadi lebih rumit, kerena selain menimbulkan masalah hukum juga menim­bulkan masalah moral dan kesusilaan.

Hanya saja masalahnya, ketentuan hukum di negeri kita belum diatur secara tegas seperti halnya di beberapa negara lain. Di Singapu­ra, sudah ada dasar hukum yang tegas un­tuk menjerat gratifikasi seksual, bahkan sudah menjerat beberapa korban. Gratifikasi seksu­al sesungguhnya bertujuan memberikan "ser­vice" khusus kepada orang-orang yang me­nentukan di dalam sebuah proyek atau tender pengadaan barang dan jasa. Termasuk juga untuk mempengaruhi kebijakan pejabat yang berwenang. Biasanya pejabat yang sudah kaya mereka menginginkan bonus atau had­iah dalam bentuk lain seperti gratifikasi seksual dari relasinya. Mungkin itu bisa dilakukan di da­lam negeri atau mencari tempat lebih aman di luar negeri dengan satu paket perjalanan, yang di dalamnya sudah diatur sedemikian rupa dan rapi pelayanan seksual di dalamnya.


Di Negara tetangga kita, Singapura, su­dah menetapkan peraturan khusus tentang gratifikasi seksual. Bahkan sudah pernah menjerat beberapa korban, sebagaimana dapat disaksikan dalam media elektronik, yaitu mantan Direktur Biro Narkotika Pusat (CNB) Singapura Ng Boon Gay dihukum karena menerima gratifikasi seksual dari se­orang karyawati perusahan rekanan yang kerap memenangkan tender. Demikian pula bekas komandan Angkatan Pertahanan Sipil Singapura (SCDF), Peter Lim terjerat dalam kasus yang sama, yaitu menerima gratifikasi seksual berupa tiga perempuan yang dise­diakan oleh rekanannya.

Bagaimanapun juga, gratifikasi seksual harus dihukum seberat-beratnya karena melakukan kejahatan kemanusiaan ganda, yaitu korupsi dan berzina. Jika ketentuan hukum gratifikasi seksual ini belum diakomodasi oleh hukum positif kita maka sudah sangat mend­esak untuk segera diundangkan. Jika terus dibiarkan gratifikasi semacam ini maka dikha­watirkan datangnya kemurkaan Tuhan yang akan menimpa, bukan hanya yang bersang­kutan tetapi termasuk orang-orang yang tak berdosa, sebagaimana diisyaratkan dalam Q.S. al-Anfal/8:25). Maknay itu perlu diingat terus firman Allah Swt: "Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk" (Q.S. al-Isra'/17:32). Mendekati saja di­larang apalagi melakukannya.

Populer

Kematian Penjaga Rumah Febrie Harus Diusut Tuntas

Senin, 27 Juli 2026 | 19:53

Jubir IKN Troy Pantouw Sempat Telepon Keluarga Sehari Sebelum Ditemukan Meninggal

Minggu, 26 Juli 2026 | 20:58

Putusan Eksepsi Dokter Tifa Berujung Antiklimaks

Minggu, 02 Agustus 2026 | 05:20

Oknum Brimob Jadi Tersangka, KPK Pastikan Sanksi Pidana hingga Etik Menanti

Jumat, 31 Juli 2026 | 13:44

15 Jeriken Bensin yang Menenggelamkan Jabatan Ayah

Senin, 27 Juli 2026 | 01:03

Dana Nasabah Rp2,58 Miliar Raib, BCA Digugat ke PN Jakpus

Selasa, 28 Juli 2026 | 16:02

KPK Konstruksikan Dugaan Fee Rp3,5 Miliar dari Waskita untuk Eks Ketum HIPMI

Minggu, 02 Agustus 2026 | 14:18

UPDATE

Ruang Digital Kondusif Faktor Penting Jaga Stabilitas Ekonomi dan Politik

Rabu, 05 Agustus 2026 | 04:03

Dibungkam Maung Bandung 2-1, STY Sebut Pemain Persija Belum Maksimal

Rabu, 05 Agustus 2026 | 03:43

Kuliah Koperasi untuk Feri Amsari

Rabu, 05 Agustus 2026 | 03:18

Gagasan Anti-Penjajahan Soemitro jadi Modal Bangsa Hadapi Dinamika Global

Rabu, 05 Agustus 2026 | 02:55

BRI Gelar Kick-Off BRIncubator 2026 Songsong Akselerasi UMKM Naik Kelas

Rabu, 05 Agustus 2026 | 02:33

Ziarahi Makam Bung Karno, Muzani Tegaskan Indonesia Rumah Bersama

Rabu, 05 Agustus 2026 | 02:12

Penentu Tingkat Kesuksesan suatu Negara

Rabu, 05 Agustus 2026 | 01:43

Ikan Gabus Baik untuk Ibu Pascamelahirkan, Begini Penjelasannya

Rabu, 05 Agustus 2026 | 01:17

Indonesia-Thailand Makin Mantap Jaga Kawasan Selat Malaka

Rabu, 05 Agustus 2026 | 00:58

Utang Pinjol Warga RI Naik 25,88 Persen, Tembus Rp105 Triliun Hingga Juni 2026

Rabu, 05 Agustus 2026 | 00:30

Selengkapnya