Berita

Capres petahana Joko Widodo/Net

Politik

Jokowi Jangan Jumawa, Meninjau Tol Pekerjaan Mandor

SABTU, 23 MARET 2019 | 03:36 WIB | LAPORAN: ADITYO NUGROHO

Calon presiden petahana Joko Widodo (Jokowi) diminta untuk tidak meremehkan jasa-jasa presiden terdahulu.

"Pak Jokowi, benar Anda berjasa membangun beberapa ruas tol tapi jangan jumawa dan membanding-bandingkan dengan presiden sebelumnya. Semua presiden memiliki jasa tersendiri kepada bangsa ini," kata politisi Gerindra Sya'roni melalui pesan elektronik kepada Kantor Berita Politik RMOL, Jumat (23/3).

Di hadapan pendukungnya di Istora Senayan, Kamis (21/3), Jokowi pamer telah delapan kali mengunjungi proyek tol Trans Sumatera. Jokowi menyombongkan diri sekaligus menantang untuk menunjukkan kepada dirinya siapa presiden yang pernah mengecek jalan hingga delapan kali. Menurut Sya'roni, Jokowi tak pantas mendegradasi peran presiden pendahulunya.


"Kesannya Anda lah yang paling pontang-panting membangun negeri ini. Sadarlah, negara ini dibangun secara berkelanjutan. Pak Jokowi, ketika Anda menjadi Presiden, Indonesia sudah memiliki segalanya sehingga Anda mudah meneruskan proyek-proyek yang sudah ada. Sekali lagi, Anda itu meneruskan jerih payah para presiden sebelumnya, tak pantas mendegradasi peran mereka," imbuh Sya'roni.

Caleg DPR RI Dapil Jateng II meliputi Demak, Jepara dan Kudus ini mencontohkan Bung Karno berperan membebaskan Indonesia dari penjajah. Gus Dur mempercepat pemulihan ekonomi dan memberikan kesetaraan kepada kelompok minoritas. SBY melunasi hutang IMF dan memasukkan Indonesia ke dalam kelompok G-20. Dia mengingatkan proyek-proyek yang digagas Jokowi seperti mobil Esemka dan tol laut yang hingga sekarang tidak jelas kelanjutannya justru dipertanyakan publik.

Sya'roni berpandangan meninjau tol hingga delapan kali bukanlah tugas Presiden melainkan pekerjaan seorang mandor. Presiden memiliki tanggung jawab yang lebih besar antara lain mempercepat pertumbuhan ekonomi yang tinggi serta memerangi pengangguran dan kemiskinan.

"Sekali-kali tinjaulah kondisi rumah warga yang gara-gara menerima program PKH harus rela ditempel label/stiker sebagai keluarga miskin. Rasanya kok tidak manusiawi sekali," demikian kata Sya'roni.

Populer

Dicurigai Ada Peran Mossad di Balik Pengalihan Tahanan Yaqut

Senin, 23 Maret 2026 | 01:38

Kehadiran Anies di Cikeas Jadi Masalah Serius

Jumat, 27 Maret 2026 | 02:08

Mengapa Kapal Pertamina Tidak Bisa Lewat Selat Hormuz?

Sabtu, 28 Maret 2026 | 02:59

SBY Menolak Silaturahmi Lebaran Anies?

Jumat, 27 Maret 2026 | 03:43

Nasib Hendrik, SPPG Ditutup, 150 Karyawan Diberhentikan

Jumat, 27 Maret 2026 | 06:07

Dubai Menuju Kota Hantu

Selasa, 31 Maret 2026 | 13:51

Permohonan Pengosongan Rumah Anak Zulhas Diajukan ke PN Jaktim

Rabu, 01 April 2026 | 18:05

UPDATE

Austria Tolak Wilayah Udaranya Dipakai AS untuk Serang Iran

Jumat, 03 April 2026 | 00:15

Memutus Mata Rantai Rabun Jauh Birokrasi

Kamis, 02 April 2026 | 23:50

PHE Tampilkan Inovasi Hulu Migas di Ajang Offshore Internasional

Kamis, 02 April 2026 | 23:21

Spirit ‘Kurban’ Prajurit UNIFIL

Kamis, 02 April 2026 | 22:57

Pencarian Berakhir Duka, Achmad Ragil Ditemukan Meninggal di Sungai Way Abung

Kamis, 02 April 2026 | 22:39

Robert Priantono Dicecar KPK soal Pungutan Tambang Kukar

Kamis, 02 April 2026 | 22:01

China Ajak Dunia Bersatu Dukung Inisiatif Perdamaian di Wilayah Teluk

Kamis, 02 April 2026 | 21:42

DPR: BPS Bukan Sekadar Pengumpul Data, tapi Penentu Arah Pembangunan

Kamis, 02 April 2026 | 21:31

78 Pejabat Pemkot Surabaya Dirotasi, Ada Apa?

Kamis, 02 April 2026 | 21:18

OJK Siap Luncurkan ETF Emas Akhir April 2026

Kamis, 02 April 2026 | 21:08

Selengkapnya