Berita

Wasekjen PAN, Faldo Maldini/RMOL

Bisnis

Soal Nasib CPO, Wasekjen PAN: Prabowo Akan Lebih Bernegosiasi

JUMAT, 22 MARET 2019 | 21:13 WIB | LAPORAN:

. Wasekjen Partai Amanat Nasional (PAN), Faldo Maldini menilai wajar dengan kondisi komoditi perkebunan minyak kelapa sawit (Crued Palm Oil/CPO) yang mulai tak mendapat tempat di Uni Eropa.

Ia pun meminta kepada semua pihak untuk tidak terlalu polos dengan menolak diskriminasi CPO di dunia. Sebab, hal itu merupakan risiko yang wajar dalam bisnis global.

"Kita jangan lupa ini adalah tata dagang global kok, jadi kita nggak bisa menolak dengan naif tentang globalisasi pangan, mungkin aktivis lingkungan ngritik saya dengan statement ini, tapi ini kita udah pake beginian (CPO) aja duit negara kita masih kurang, mau pakai apa lagi?" ungkapnya kepada Kantor Berita Politik RMOL usai diskusi 'Politisi Milenial Menjawab Tantangan Bonus Demografi' di Kampus Atma Jaya, Jakarta, Jumat (22/3).


Menurutnya, Indonesia memiliki kekayaan CPO yang melimpah, di mana pendapatan ekonomi Indonesia didapatkan atas ekspor CPO tersebut.

"Kita punya minyak kelapa sawit ya wajar dong kita ekspor kelapa sawit. Pendapatan kita dari situ, masa kita pakai bunga matahari," kata dia.

Atas dasar ini, ia pun beranggapan bahwa peran presiden di dunia, khususnya di sektor perdagangan perlu ditonjolkan. Hal itulah yang menurutnya ada pada sosok Capres Prabowo Subianto yang berpasangan dengan Sandiaga Uno.

"Yaudah kita pertama diplomasi dengan harapan new pride presiden will be akan bisa lebih bernegosiasi (di dunia)," tutur Faldo.

"Indonesia sebagai country, sebagai sebuah negara ya harus mampu terlibat dalam perdamaian dunia. Menyadari bahwa ini adalah tata dagang dunia, tapi yang paling penting ya jangan sampai kepentingan negara kita kena," lanjut dia.

Sebelumnya UE telah meluncurkan Delegated Regulation Supplementing Directive of The EU Renewable Energy Direcyive II (RED II) yang dibuat 13 Maret lalu oleh Komisi Eropa kepada parlemen Eropa. Parlemen Eropa masih meninjau kebijakan tersebut selama dua bulan.

Dengan waktu dua bulan itu, di bawah kabinet kerja Presiden Joko Widodo, Indonesia tengah berupaya agar CPO tidak didiskriminasi dan akan melaporkan UE kepada World Trand Organization (WTO) jika CPO resmi dihapuskan.

Populer

Kekayaan Ibas Demokrat Naik Lebih 700 Persen dalam Empat Tahun, Total Rp354,7 Miliar

Kamis, 25 Juni 2026 | 05:22

KPK Sakit Jiwa

Kamis, 25 Juni 2026 | 15:08

Penggunaan Gedung Kemenhut oleh PSI Berpotensi Melanggar Hukum

Minggu, 28 Juni 2026 | 00:26

Mitra MBG Ultimatum BGN Cabut SE 12/2026 2x24 Jam

Selasa, 23 Juni 2026 | 18:32

Karier Gila-gilaan Mufli Budi Ananda: Dari Asisten Raffi Ahmad Jadi Komisaris Krakatau Posco

Senin, 29 Juni 2026 | 00:00

KPK Didesak Bongkar Dugaan Aliran Dana ke Oknum Polisi dalam Kasus Bea Cukai

Jumat, 26 Juni 2026 | 01:30

Tim Mawar dan Tambang

Minggu, 28 Juni 2026 | 04:59

UPDATE

Legislator Nasdem: Bukan Hal Sulit bagi Polri Kejar Spam Judol

Kamis, 02 Juli 2026 | 19:57

Aksi Dramatis Anggota TNI Selamatkan Balita dari Cengkeraman Paman Sakau

Kamis, 02 Juli 2026 | 19:45

Sempat Lolos OTT KPK, Bos PT MSA Fika Nur Alawi Resmi Pakai Rompi Oranye

Kamis, 02 Juli 2026 | 19:35

Lagu ‘Mas Bahlil Ganteng’ Berdampak Positif terhadap Citra Golkar

Kamis, 02 Juli 2026 | 19:10

Cak Imin Pastikan Sekolah Rakyat Sukoharjo Siap Sambut Tahun Ajaran Baru

Kamis, 02 Juli 2026 | 19:07

Telkom Akses Perkuat Kompetensi SDM Digital di Daerah 3T

Kamis, 02 Juli 2026 | 18:48

Aliansi Kontraktor Geruduk Sudin PRKP Jakut Gegara Dugaan Monopoli Proyek

Kamis, 02 Juli 2026 | 18:41

Peresmian Kantor UN Tourism Kukuhkan Spanyol di Garda Terdepan Multilateralisme

Kamis, 02 Juli 2026 | 18:30

Kejagung Endus Dugaan Keterlibatan Kolonel TNI Aktif dalam Korupsi MBG

Kamis, 02 Juli 2026 | 18:25

Baru Tiga Bulan Menjabat, Dirut Pos Indonesia Mundur

Kamis, 02 Juli 2026 | 18:21

Selengkapnya