Berita

Foto:Net

Politik

PILPRES 2019

Pengamat: Survei Litbang Kompas Menunjukkan Jokowi Sangat Mungkin Dikalahkan

RABU, 20 MARET 2019 | 10:54 WIB | LAPORAN:

. Hasil survei Litbang Kompas menunjukkan bahwa posisi Joko Widodo sebagai petahana sangat mungkin dikalahkan oleh sang penantang Prabowo Subianto.
Pengamat politik, Bin Firman Tresnadi mengatakan, idealnya, tingkat elektabilitas yang aman bagi seorang petahana berada di atas 60 persen.

"Elektabilitas 49,2 persen yang dikeluarkan Litbang Kompas ini sudah menunjukkan akan kekalahan Jokowi," ujar Bin Firman kepada redaksi, Rabu (20/3).

Litbang Kompas merilis survei pada Maret 2019, yaitu tingkat elektabilitas Jokowi-Maruf hanya 49,2 persen, sementara Prabowo-Sandi kian mendekati yaitu 37,4 persen. Terpaut hanya 11,8 persen. Sementara itu responden yang masih merahasiakan pilihan sebanyak 13,4 persen.

Litbang Kompas merilis survei pada Maret 2019, yaitu tingkat elektabilitas Jokowi-Maruf hanya 49,2 persen, sementara Prabowo-Sandi kian mendekati yaitu 37,4 persen. Terpaut hanya 11,8 persen. Sementara itu responden yang masih merahasiakan pilihan sebanyak 13,4 persen.

Menurut Direktur Eksekutif Indonesia Development Monitoring (IDM) ini, selisih 11,8 persen bukanlah hal yang tidak mungkin untuk dikejar oleh Prabowo-Sandi.

Apalagi survei itu dilakukan sebelum Operasi Tangkap Tangan (OTT) yang dilakukan oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap salah satu petinggi Tim Kampanye Nasional (TKN) Jokowi-Maruf, M. Romahurmuziy. OTT tersebut diyakini sangatlah merugikan bagi tingkat elektabilitas Jokowi-Maruf.

"Ingat, survei ini dibuat sebelum terjadinya kasus Romi, yang tentunya akan menggerus elektabilitas petahana," sebut Bin Firman.

Belum lagi, imbuhnya, belakangan gerakan-gerakan golput yang dimotori oleh NGO (ormas) semakin mendapat sambutan dari masyarakat. Padahal pada Pilpres 2014 lalu, NGO-NGO itu lebih condong mendukung Jokowi.

"Dengan meluasnya dukungan golput artinya akan semakin turun elektabilitas Jokowi," pungkas Bin Firman.

Populer

Permohonan Pengosongan Rumah Anak Zulhas Diajukan ke PN Jaktim

Rabu, 01 April 2026 | 18:05

Kehadiran Anies di Cikeas Jadi Masalah Serius

Jumat, 27 Maret 2026 | 02:08

Mengapa Kapal Pertamina Tidak Bisa Lewat Selat Hormuz?

Sabtu, 28 Maret 2026 | 02:59

SBY Menolak Silaturahmi Lebaran Anies?

Jumat, 27 Maret 2026 | 03:43

Nasib Hendrik, SPPG Ditutup, 150 Karyawan Diberhentikan

Jumat, 27 Maret 2026 | 06:07

Dubai Menuju Kota Hantu

Selasa, 31 Maret 2026 | 13:51

KPK Klaim Status Tahanan Rumah Yaqut Sesuai UU

Jumat, 27 Maret 2026 | 12:26

UPDATE

Menteri Ekraf: Kreativitas Tak Bisa Dihargai Nol atau Dipatok

Jumat, 03 April 2026 | 20:06

Pelaku Penembakan Rombongan Tito Karnavian Diringkus

Jumat, 03 April 2026 | 19:59

Harga Plastik Dalam Negeri Meroket, Ini Kronologinya

Jumat, 03 April 2026 | 19:42

Kapolda Riau Perketat Penanganan Karhutla Hadapi Ancaman Super El Nino

Jumat, 03 April 2026 | 19:18

Upacara Penghormatan UNIFIL untuk Tiga Prajurit TNI di Lebanon

Jumat, 03 April 2026 | 19:01

Labirin Informasi pada Perang Simbolik

Jumat, 03 April 2026 | 18:52

KPK Siapkan Pemeriksaan Ono Surono Usai Penggeledahan

Jumat, 03 April 2026 | 18:35

BNPB: Tidak Ada Tambahan Korban Gempa Magnitudo 7,6 Sulut dan Malut

Jumat, 03 April 2026 | 18:31

Resiliensi Bangsa: Dari Mosi Integral 1950 hingga Geopolitik Kontemporer 2026

Jumat, 03 April 2026 | 18:03

FWP Polda Metro Hibur Anak Yatim ke Wahana Bermain

Jumat, 03 April 2026 | 17:45

Selengkapnya