Nasaruddin Umar/Net
Nasaruddin Umar/Net
PILIHAN kebijakan Nabi meskipun agak kontroverso tetapi ternyata pada akhirnya itu yang terbaik. Sekiranya para pelintas batas kaum kafir Quraisy harus ditahan di Madinah maka sudah barang tentu akan memberikan beban ekonomi tambahan bagi masyarakat Madinah yang sudah kebanÂjiran pengungsi dari Mekkah. Sebaliknya kaÂlau para pelintas batas dari Madinah ditahan di Mekkah dibiarkan, karena pasti mereka itu para kader dan dapat melakukan upaya politik pecah-belah di antara suku-suku yang ada di dalam masyarakat Quraisy. Pada saat bersamaan, Rasulullah terus menggalang pengaruh dengan kabilah-kabilah pinggiran dan karena kepiawaiannya, maka Rasulullah berhasil memukau sejumlah kabilah-kabilah kecil dan bersatu di bawah kekuatan RasuÂlullah. Kabilah-kabilah yang tadinya terpecah belah di kawasan Yatsrib (Madinah), RasuÂlullah berhasil disatukannya, terutama dua suku besar yaitu suku 'Aus dan suku KhazÂraj. Akhirnya kekuatan umat Islam yang juga didukung oleh umat Agama lain semakin beÂsar. Pada saat bersamaan, diplomasi publik dan diplomasi internasional Rasulullah jalan terus, melampaui batas-batas geografis Arab, termasuk menjalin kerjasama dengan negara adidaya Romawi Bizantium di Barat dan Persia di Timur.
Kafir Quraisy Mekkah semakin terkucil karena kabilah-kabilah kecil yang berada di bawah pengaruhnya satu per satu meningÂgalkannya dan bergabung dengan kekuatan Rasulullah. Pengaruh Rasulullah semakin tak terbendung. Namun tidak berarti kaum kafir tidak memiliki kekuatan. Sisa-sisa kekuatan mereka sewaktu-waktu dihimpun untuk meÂnyerang kekuatan Rasulullah, tetapi kekuaÂtan-kekuatan mereka tetap dipatahkan. TenÂtara-tentara kaum kafir Quraisy seringkali kehilangan fokus sehingga meskipun jumÂlah mereka besar tetapi mereka tetap tidak berdaya menghadapi pasukan Rasulullah yang sudah dilatih dengan menghadirkan pelatih-pelatih asing profesional, termasuk di antaranya yang amat terkenal sebagai arsiÂtek perang Rasulullah, yaitu Salman al-FariÂsi, seorang expertist perang dari Persia.
Keunggulan diplomasi dan strategi RaÂsulullah memang betul-betul menakjubkan. Suatu ketika tahanan Perang Badar yang dutahan di depan mesjid menimbulkan persoalan. Rasulullah meminta pendapat para sahabatnya. Umar mengusulkan laki-lakinya berlaku hukum perang, dibunuh dan peremÂpuannya dijadikan budak. Abu Bakar berÂpendapat lain. Ia mengusulkan agar tawaÂnan perang dimanfaatkan potensinya untuk kekuatan umat Islam di Madinah. Rasulullah memilih pendapat Abu Bakar. Rasulullah kemudian meminta para sahabatnya untuk memilah-milah tawanan perang lalu mereÂka diminta untuk mengajar dan membebasÂkan masyarakat Madinah dari buta huruf dan buta keterampilan. Pembebasan bersyarat ini memperoleh hasil ganda, selain meninÂgkatkan kekuatan potensi ekonomi umat, kebijakan ini juga membuat para tawanÂan perang berbalik mendukung Rasulullah dan menganut agama Islam dengan sadar tanpa paksaan, karena mereka baru sadar akan keluhuran budi pekerti Rasulullah dan keagungan ajaran Islam yang dilihatnya sanÂgat berbeda dengan apa yang mereka denÂgar dari pimpinannya.
Populer
Senin, 05 Januari 2026 | 16:47
Sabtu, 03 Januari 2026 | 11:54
Minggu, 04 Januari 2026 | 06:13
Kamis, 01 Januari 2026 | 03:29
Sabtu, 10 Januari 2026 | 06:39
Rabu, 07 Januari 2026 | 13:00
Selasa, 06 Januari 2026 | 13:15
UPDATE
Senin, 12 Januari 2026 | 04:13
Senin, 12 Januari 2026 | 04:08
Senin, 12 Januari 2026 | 03:38
Senin, 12 Januari 2026 | 03:08
Senin, 12 Januari 2026 | 03:04
Senin, 12 Januari 2026 | 02:35
Senin, 12 Januari 2026 | 02:15
Senin, 12 Januari 2026 | 02:13
Senin, 12 Januari 2026 | 01:37
Senin, 12 Januari 2026 | 01:16