Berita

Ken Arok/Net

Jaya Suprana

Kualatisme Ken Arok

SENIN, 11 MARET 2019 | 09:57 WIB | OLEH: JAYA SUPRANA

SAYA berterima kasih kepada mahaguru data saya, Christanto Wibisono karena beliau menggugah hasrat saya untuk berupaya mempelajari kisah Ken Arok.

Tunggul Ametung

Ken Arok adalah seorang anak muda berandalan yang menjadi kepala perampok ditakuti di seluruh kawasan Kerajaan Kadiri.  


Pada suatu hari Ken Arok bertemu seorang brahmana dari India bernama Lohgawe yang datang ke tanah Jawa mencari titisan Wisnu. Dari ciri-ciri yang ditemukan, Lohgawe yakin kalau Ken Arok adalah orang yang dicarinya. Atas bantuan Lohgawe, Ken Arok diterima bekerja sebagai pengawal Tunggul Ametung, penguasa Tumapel sebagai daerah bawahan Kerajaan Kadiri.

Ken Arok tertarik pada Ken Dedes istri Tunggul Ametung yang cantik jelita. Ken Arok berhasrat membunuh Tunggul Ametung demi merebut Ken Dedes, meskipun tidak direstui Lohgawe.  

Ken Arok membutuhkan sebilah keris ampuh untuk membunuh Tunggul Ametung yang terkenal sakti. Bango Samparan memperkenalkan Ken Arok pada sahabatnya yang bernama Mpu Gandring dari desa Lulumbang, sekarang Plumbangan, Doko, Blitar yang tersohor sebagai pembuat pusaka ampuh.  

Mpu Gandring sanggup membuatkan sebilah keris ampuh dalam waktu setahun. Ken Arok tidak sabar. Lima bulan kemudian ia datang mengambil pesanan. Keris yang belum sempurna itu direbut dan ditusukkan ke Mpu Gandring sampai tewas.

Dalam sekaratnya, Mpu Gandring mengucapkan kutukan kualatisme bahwa keris itu nantinya akan membunuh Ken Arok sendiri.

Licik


Selanjutnya Ken Arok menggunakan kelicikan untuk merebut kekuasaan Tumapel. Mula-mula ia meminjamkan keris pusakanya pada Kebo Hijo rekan sesama pengawal. Kebo Hijo dengan bangga memamerkan keris itu sebagai miliknya sehingga semua orang mengira bahwa keris itu adalah milik Kebo Hijo.

Malam berikutnya, Ken Arok mencuri keris pusaka itu dari tangan Kebo Hijo yang sedang mabuk arak. Ia lalu menyusup ke kamar tidur Tunggul Ametung dan membunuh atasannya.

Ken Dedes menjadi saksi pembunuhan suaminya. Namun hatinya luluh oleh rayuan Ken Arok. Lagi pula, Ken Dedes menikah dengan Tunggul Ametung dilandasi rasa keterpaksaan.  

Kebo Hijo dihukum mati karena kerisnya ditemukan menancap di dada Tunggul Ametung. Ken Arok lalu mengangkat dirinya sendiri sebagai penguasa baru Tumapel dan menikahi Ken Dedes yang sedang mengandung anak Tunggul Ametung yang kemudian diberi nama Anusapati.

Kerajaan Tumapel


Pada tahun 1222 terjadi perselisihan antara Kertajaya raja Kadiri dengan para brahmana. Para brahmana memilih pindah ke Tumapel meminta perlindungan Ken Arok yang sedang mempersiapkan pemberontakan terhadap Kadiri.

Setelah mendapat dukungan mereka, Ken Arok pun menyatakan Tumapel sebagai kerajaan merdeka yang lepas dari Kadiri.   

Kertajaya (dalam Pararaton disebut Dhandhang Gendis) tidak takut menghadapi pemberontakan Tumapel. Ia mengaku hanya dapat dikalahkan oleh Dewa Siwa. Mendengar sesumbar itu, Ken Arok pun mengaku dirinya sebagai titisan Dewa Siwa dan siap memerangi Kertajaya.  Akhirnya Kadiri kalah.

Anusapati

Anusapati merasa Ken Arok  menganaktirikan dirinya, padahal ia adalah putra tertua di antara sekian banyak anak Ken Arok. Setelah mendesak ibunya (Ken Dedes), akhirnya Anusapati mengetahui dirinya memang benar-benar anak tiri bahkan ayah kandungnya bernama Tunggul Ametung telah mati dibunuh Ken Arok.  

Anusapati berhasil mendapatkan Keris Mpu Gandring yang selama ini disimpan Ken Dedes. Ia kemudian menyuruh pembantunya membunuh Ken Arok. Ken Arok tewas ditusuk dari belakang saat sedang makan sore hari.

Anusapati membunuh pembantunya itu demi menghilangkan jejak.

Naskah Pararaton menyebutkan bahwa peristiwa kematian Ken Arok kualat ditikam keris yang digunakan Ken Arok untuk membunuh Mpu Gandring kemudian Tunggul Ametung terjadi pada tahun 1247 M (1169 Ç).  

Kualatisme


Berbagai pihak menduga nama Ken Arok merupakan ciptaan penggubah naskah Pararaton demi menokohkan sang pendiri dinasti Rajasa yang menurunkan para raja Singhasari dan Majapahit sebagai putra Brahma, titisan Wisnu, serta penjelmaan Siwa, sehingga seolah-olah kesaktian Trimurti berkumpul dalam dirinya.

Saya pribadi tidak berani melibatkan diri ke dalam polemik tentang legenda-atau-bukan-legendanya Ken Arok, namun hanya memberanikan diri memetik hikmah kearifan Das Sollen dari kisah Ken Arok bahwa sebaiknya para penguasa jangan menggunakan kelicikan dalam upaya memperoleh kekuasaan agar jangan sampai terkena dampak kualatisme.

Penulis pendiri Sanggar Pembelajaran Kemanusiaan


Populer

Bupati Klaten Dikabarkan Terjaring OTT KPK

Kamis, 15 Oktober 2026 | 11:10

Pergantian KSAD jadi Sinyal Skenario Baru Penentuan Panglima TNI

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 03:02

KPK Dalami Keterlibatan Bobby Nasution dalam Kasus Korupsi Proyek Jalan Sumut

Jumat, 23 Oktober 2026 | 09:19

Jokowi sudah Ditinggalkan Parpol, Polri, hingga Oligarki

Senin, 19 Oktober 2026 | 04:00

Gagal Atasi Karhutla, Pecat Menhut Raja Juli!

Jumat, 16 Oktober 2026 | 23:30

Gugat Allianz Rp1,5 Miliar, Krisdayanti Ajukan Perkara ke PN Jaksel

Minggu, 18 Oktober 2026 | 13:28

Transjabodetabek Blok M-Bandung Jadi Cara Pramono Sindir KDM

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 23:44

UPDATE

Sopir BYD Penyebab Tabrakan Beruntun di Jaksel jadi Tersangka

Senin, 26 Oktober 2026 | 05:52

Asuransi Tugu Pratama Indonesia Digugat Rp3,51 Miliar ke PN Jaksel

Senin, 26 Oktober 2026 | 05:27

Sukseskan Kemandirian Pangan, Petani Adat Wanam Butuh Pendampingan

Senin, 26 Oktober 2026 | 05:10

DPO Illegal Tapping Pertamina EP Jambi Sukses Diringkus Berkat Sinergitas

Senin, 26 Oktober 2026 | 04:50

TNI Kirim 4,6 Ton Dry Ice ke Banjarmasin dan Palembang Sukseskan OMC Akhiri Karhutla

Senin, 26 Oktober 2026 | 04:25

Refleksi Kisah Nabi Musa AS dan Fir'aun dalam 2 Tahun Pemerintahan Prabowo-Gibran

Senin, 26 Oktober 2026 | 03:34

Walkot Bandung Kedepankan Koordinasi Sikapi Bentrokan Berdarah Pasar Caringin

Senin, 26 Oktober 2026 | 03:14

Startup Binaan IPB Raih Potensi Kerja Sama Rp1 Miliar Tembus Pasar Oman

Senin, 26 Oktober 2026 | 02:47

Dari Nasionalisme ke Tata Kelola dan Reformasi Pasar Modal Indonesia

Senin, 26 Oktober 2026 | 02:17

Boris Tampubolon Beri Tiga Alasan Pasal Kerugian Negara Harus Direvisi

Senin, 26 Oktober 2026 | 01:43

Selengkapnya