Berita

Rizal Ramli/Net

Politik

Cerita RR Perjuangkan Pendidikan Indonesia Dari Luar Pemerintahan

SABTU, 09 MARET 2019 | 16:39 WIB | LAPORAN: WIDIAN VEBRIYANTO

Nilai standar pendidikan di Indonesia masih sangat rendah. Bahkan berdasarkan penelitian PISA dari OECD tahun 2018, Indonesia berada di peringkat 62 dunia.

Ekonom senior DR Rizal Ramli mengaku prihatin dengan capaian itu. Padahal, saat masih muda Rizal Ramli pernah memperjuangkan agar anak Indonesia bisa mengenyam bangku pendidikan.

Saat masih kuliah, pria yang akrab disapa RR sempat mengikuti pertukaran pelajar di Jepang selama satu semester.


“Saya kaget luar biasa, kok Jepang bisa maju, bisa makmur, Padahal tanahnya sangat sempit, dan dua pertiganya diisi batu karang,” ujarnya dalam sebuah wawancara di salah satu radio swasta beberapa waktu lalu.

Menko Perekonomian era Presiden Abdurrahman Wahid ini pun mempelajari faktor-faktir yang membuat Jepang maju. Didapati fakta bahwa Jepang maju karena manusianya relatif terdidik.

“Jadi di tahun 1800an, Kaisar Meiji di Jepang mengejar ketertinggalannya dari Barat. Mereka melakukan reformasi Meiji, sehingga orang Jepang minimum tuh pendidikannya SD bisa baca tulis dan itu jadi sumber kemajuan,” terangnya.

Sepulang ke tanah air, RR kaget. Pasalnya ada 8 juta anak Indonesia yang kesulitan ekonomi sehingga putus sekolah. Dia kemudian membuat gerakan anti kebodohan. Dia berjuang agar Indonesia memiliki UU yang mewajibkan rakyat belajar selama enam tahun.

“Itu di tahun 1976. Kami dibantu oleh WS Rendra yang bikin puisi Sebatang Lisong untuk mengaitkan 8 juta anak yanggak bisa sekolah karena ketimpangan sosial ekonomi,” terangnya.

Film berjudul ‘Yang Muda, Yang Bercinta” menjadi alternatif gerakannya kala itu. Sehingga pada akhirnya, akibat berbagai tekanan pemerintah Indonesia memutuskan untuk mengadopsi ide gerakan anti kebodohan itu.

“Dan mewajibkan wajib belajar 6 tahun, sehingga 8 juta anak Indonesia bisa sekolah SD,” tegasnya.

“Itu satu contoh bagaimana di luar itu bisa juga mengubah Indonesia, nggak perlu jadi pejabat. Itu saya nggak siapa-siapa pada waktu itu,” pungkas RR.

Populer

KPK Harus Jemput Paksa Bos Rokok HS M Suryo

Minggu, 05 April 2026 | 09:04

Kapolri Diminta Turun Tangan terkait Kasus Temuan Senpi di Bekasi

Sabtu, 04 April 2026 | 02:17

Permohonan Pengosongan Rumah Anak Zulhas Diajukan ke PN Jaktim

Rabu, 01 April 2026 | 18:05

Oknum Guru Diduga Tilep Rp1,1 Miliar dengan Modus Tukar Uang Lebaran

Sabtu, 04 April 2026 | 02:23

4.661 PPPK di Pemkab Jepara Terancam PHK

Senin, 06 April 2026 | 05:31

Seminar Petisi Ahli Diramaikan Pensiunan Jenderal hingga Akademisi Hukum

Selasa, 07 April 2026 | 05:19

KPK Periksa Faisal Assegaf dalam Kasus Dugaan Suap Bea Cukai

Selasa, 07 April 2026 | 11:56

UPDATE

JK Menjelma Imam Besar Bagi Kelompok di Luar Kekuasaan

Rabu, 08 April 2026 | 10:17

KPK Benarkan Panggil Pengusaha Rokok Haji Her, Tapi Mangkir dari Pemeriksaan

Rabu, 08 April 2026 | 10:02

Komisi X DPR Tekankan Kesejahteraan Guru dalam Revisi RUU Sisdiknas

Rabu, 08 April 2026 | 10:00

Iran Sebut Trump Setuju Penuhi 10 Syarat Gencatan Senjata

Rabu, 08 April 2026 | 09:56

IHSG Balik ke Level 7.000-an, Rupiah Menguat Usai Tersungkur ke Rekor Terendah

Rabu, 08 April 2026 | 09:54

Akselerasi Penyehatan, Adhi Karya Lakukan "Bersih-Bersih" Neraca

Rabu, 08 April 2026 | 09:40

Manuver JK Tak Perlu Dikhawatirkan

Rabu, 08 April 2026 | 09:33

Imparsial: Sudah Mendesak Dilakukan Revisi UU Peradilan Militer

Rabu, 08 April 2026 | 09:32

Berkas Kasus Penyiraman Air Keras Andrie Yunus Dilimpahkan ke Oditurat Militer

Rabu, 08 April 2026 | 09:21

KPK Soroti Dugaan Aliran Fasilitas ke Faisal Assegaf

Rabu, 08 April 2026 | 09:04

Selengkapnya