Berita

Jaya Suprana/Net

Jaya Suprana

Bingungologi Pengajaran Kebencian

SELASA, 05 MARET 2019 | 08:51 WIB | OLEH: JAYA SUPRANA

SEMULA ibu saya dengan penuh kasih sayang mendidik saya untuk jangan membenci sesama manusia sesuai ajaran budi pekerti yang diajarkan oleh agama.

Namun setelah mulai memperoleh mata pelajaran membaca di Sekolah Dasar, saya mulai dididik untuk membenci .

Mulai



Sasaran kebencian yang pertama diajarkan lewat buku pelajaran membaca adalah apa yang disebut sebagai tengkulak.

Kemudian setelah mulai memperoleh mata pelajaran sejarah, saya dididik untuk membenci VOC alias kumpeni dengan alasan bahwa mereka adalah kaum penjajah yang menindas rakyat Nusantara.

Tokoh kumpeni yang paling saya benci adalah Daendels akibat konon kejam memaksa rakyat kerja rodi memeras keringat, air mata dan darah demi membangun jalan dari Anyer sampai Panarukan meski belakangan saya baru sadar bahwa jalan yang dibangun penjajah itu bukan jalan tol sehingga rakyat tidak perlu bayar sesen pun jika ingin menggunakannya.

Setelah Malaysia diberi hadiah kemerdekaan oleh Inggris, saya dididik untuk membenci negara tetangga yang sebenarnya bukan penjajah bahkan kebetulan serumpun dengan bangsa saya sendiri.

Setelah Pak Harto menggantikan Bung Karno menjadi presiden Indonesia, muncul ajaran membenci PKI meski para anggota PKI adalah sesama warga Indonesia.

Makin


Setelah Pak Harto lengser, saya makin bingung sebab dididik membenci Orde Baru sambil tetap membenci PKI yang dibenci Orde Baru yang mendidik saya untuk membenci PKI.

Di masa Orde Reformasi terutama pada masa menjelang pilpres, kebingungan saya makin menjadi-jadi sebab ada ajaran untuk membenci para pendukung calon presiden bukan calon presiden yang saya dukung padahal sebenarnya yang membenci dan yang dibenci adalah sama-sama sesama rakyat Indonesia yang sewajibnya bukan saling membenci, namun justru bersatu padu membangun negara Indonesia demi bersama meraih cita-cita terluhur bangsa Indonesia yaitu masyarakat adil dan makmur yang hidup bersama di negeri gemah ripah loh jinawi tata tenteram kerta raharja . Merdeka!

Penulis lebih mendambakan pengajaran kasih-sayang ketimbang kebencian

Populer

MA Koreksi Kerugian Negara Kasus Korupsi Timah, Bukan Rp300 Triliun

Sabtu, 08 Agustus 2026 | 22:36

Putusan Eksepsi Dokter Tifa Berujung Antiklimaks

Minggu, 02 Agustus 2026 | 05:20

Giliran Kepemimpinan TNI Kembali Diberikan kepada Matra Laut

Sabtu, 08 Agustus 2026 | 06:27

Oknum Brimob Jadi Tersangka, KPK Pastikan Sanksi Pidana hingga Etik Menanti

Jumat, 31 Juli 2026 | 13:44

KPK Konstruksikan Dugaan Fee Rp3,5 Miliar dari Waskita untuk Eks Ketum HIPMI

Minggu, 02 Agustus 2026 | 14:18

Kerumunan Massa saat Jokowi ke NTT Direkayasa

Senin, 03 Agustus 2026 | 13:39

Wewenang Ditjen Bea Cukai Sudah Melampaui Namanya

Minggu, 02 Agustus 2026 | 02:12

UPDATE

Haji Isam Temui Seskab Teddy, Bahas Investasi Pertambangan hingga Hilirisasi

Senin, 10 Agustus 2026 | 14:17

Kolombia Ubah Sikap, Kini Akui Kedaulatan Maroko atas Sahara

Senin, 10 Agustus 2026 | 14:02

KPK Periksa 2 ASN Pemkot Bengkulu dalam Pengembangan Kasus Suap Rejang Lebong

Senin, 10 Agustus 2026 | 14:01

Jelang Sidang Tahunan MPR, Pemerintah Matangkan Persiapan Pidato Kenegaraan Prabowo

Senin, 10 Agustus 2026 | 13:56

Bitcoin Menguat Berkat Derasnya Aliran Dana ETF

Senin, 10 Agustus 2026 | 13:49

Keamanan Data Pajak Jadi Prioritas Usai Kebakaran Bapenda

Senin, 10 Agustus 2026 | 13:45

Destry Damayanti Resmi Jadi Calon Tunggal Gubernur BI

Senin, 10 Agustus 2026 | 13:36

Kejagung Periksa 16 Saksi di Kasus BGN, 10 di Antaranya Direktur Perusahaan

Senin, 10 Agustus 2026 | 13:32

Greenland Tolak Aktivitas Perusahaan AS di Tengah Ancaman Aneksasi Trump

Senin, 10 Agustus 2026 | 13:27

Gibran Jadi Presiden Solusi atau Petaka?

Senin, 10 Agustus 2026 | 13:26

Selengkapnya