Berita

Syahganda Nainggolan/Net

Politik

Islamku

MINGGU, 03 MARET 2019 | 07:34 WIB | OLEH: DR. SYAHGANDA NAINGGOLAN*

TAHUN lalu di Aula Timur ITB, saya diundang alumni Keluarga Mahasiswa Islam ITB, dalam peringatan ultah mereka ke 30.

Munawar Kholil, yang sering dipanggil ustad menyebutkan kebanggaannya atas kehadiran saya pidato di sana. Saya pun bangga. 30an tahun lalu itu mereka mencap saya kafir. Kenapa mereka mencap saya kafir? Karena memang pemikiran-pemikiran politik (kemahasiswaan) saya waktu itu sedikit pun tidak bersinggungan dengan Alquran.

Mempelajari ilmu-ilmu sosial ataupun agama bagi mahasiswa ITB (sains/teknik) tentu merupakan kegiatan minor. Boro-boro lihat buku-buku sosial, pelajaran minor aja seperti Pancasila, civic dan lain-lain biasanya tidak diminati.


Dalam masa-masa itu mempelajari agama selain di masjid, terbuka kesempatan pada pengajian-pengajian perantauan sekampung.

Buat anak-anak Medan, karena kesamaan asal, mendapatkan kesempatan belajar ngaji dengan Dr. Imaduddin Abdurrahim, tokoh Masjid Salman yang diusir dari Indonesia, dan baru kembali tahun 1986.

Interaksi anak-anak Medan, ada saya di antaranya, memberi kesempatan bagi saya mempelajari Islam dalam bahasa yang rasional.

Islam Tauhid

Cara-cara membedah Islam dengan rasionalitas dan logika, misalnya bagaimana pentingnya setan dalam meningkatkan iman manusia, diilustrasikan bang Imad, panggilannya, dalam teori gesekan ilmu fisika Newton.

"Gaya gesek itu penting untuk membuat benda bergerak. Jika permukaan licin, koefisien gaya gesek mendekati nol, maka benda akan tergelincir. Gaya gesek itu ibarat setan, yang mumbuat iman kita meningkat atau menurun," katanya

Ilustrasi lain tentu banyak yang berkaitan seperti gaya gravitisasi, petir terkait sunnatullah, dan lain-lain. Sunnatullah adalah ketentuan Allah yang berlaku umum.

Pengalaman saya belajar Islam dengan Imaduddin Abdurrahman membuat Islam hadir kembali dalam diriku. Dulu Islam membuatku minder.

Masa-masa kecilku yang SD di di Alwashliyah dan sore di madrasah Muhammadiyah di Medan, waktu bersamaan, dalam suasana urbanisasi kota Medan, di mana Islam terpinggirkan, membuatku memandang Islam hanyalah ajaran pinggiran yang sulit diharapkan.

Karena kemampuan Imaduddin menunjukkan bahwa Islam adalah ajaran buat orang-orang yang mau berpikir, artinya sangat sesuai dengan kekuatan otak manusia, dan dinyatakan dalam Alquran, membuat keyakinanku bahwa Islam mampu berkontestasi dengan ajaran-ajaran lain.

Lalu bagaimana dengan Tuhan? Tuhan menurut Imaduddin adalah segala sesuatu yang menakutkan manusia. Ini membuatku bingung karena persepsiku sebelumnya, Tuhan adalah makhluk.

Namun, dalam perspectif bang Imad, itu bisa makhluk, bisa bayangan, bisa faham dan lain sebagainya yang menakutkan kita. Itu adalah Tuhan. Dan ajaran Islam itu adalah Lailaha ilallah. Tiada Tuhan selain Allah. Artinya, tiada yang saya takuti selain Allah.

Setiap manusia menurut Bang Imad pasti Islam ketika diperut, ketika usia ruh ditiupkan. Mereka berikrar Tiada Tuhan Selain Allah. Oleh karenanya setiap manusia mempunyai kecenderungan kepada kebaikan (hanif).

Tesis ini berkebalikan dengan ajaran bahwa manusia terlahir dengan dosa bawaan. Justru dosa dan pengingkaran kepada Allah terjadi dalam perjalanan hidup manusia di dunia.

Yang kedua dalam perspektif bang Imad soal mamusia adalah semua manusia itu sederajat. Itu disebabkan doktrin Laila Hailallah, yakni setiap manusia yang tidak takut kepada Tuhan-Tuhan tetapi hanya kepada Allah, hanya diukur derajatnya oleh keimanan dan amal saleh, bukan oleh harta benda, kedudukan sosial, keturunan, warna kulit. dan lain sebagainya.

Islam Sosialis

Berinteraksi dengan Imaduddin berputar soal tauhid. Namun, itu adalah fondasi utama dalam memahami Islam. Kepercayaan kepada Allah, derajat manusia di muka Allah dan kegunaan akal.

Perjalan saya menggali Islam berikutnya adalah ketika saya berinteraksi dengan Alm. Adi Sasono. Pada tahun '92 ketika dia merekrut saya di LSM Pupuk.

Sambil menyetir, dia memulai pembicaraan tentang moral, ketika saya duduk di sampingnya dari Bandung ke Jakarta. "Apa menurut kamu tentang moral itu Syah?" tanyanya. Saya mengatakan bahwa moral adalah ukuran-ukuran kepantasan yang seseorang hindari yang dilarang agama seperti minuman keras, sex bebas dan lain sebagainya.

Menurutnya itu bukanlah urusan moral. Moral menurutnya adalah banyaknya orang-orang yang mengaku berjuang (kala itu melawan Suharto), namun saat ini asyik-asyik belajar ke luar negeri, nanti pulang merasa paling tahu soal rakyatnya.

Saya belum memahaminya saat itu, namun kelak saya mengerti bahwa Adi Sasono merasa ditinggalkan banyak aktivis-aktivis yang kala itu memburu beasiswa sekolah ke luar negeri. Sementara, mengurus rakyat ditinggalkan.

Sebagai tokoh LSM, Adi Sasono menjadi salah satu konektor terhadap beasiswa studi ke LN. Menurutnya, orang-orang yang dulu berjuang, lalu sekolah ke LN, pulangnya menjadi konsultan asing, bukan mengurus rakyat. Jadi mereka manusia kurang bermoral.

Rakyat, sekali lagi rakyat adalah kosa kata yang 24 jam sepanjang tahun demi tahun yang dibicarakan Adi Sasono.

Menurutnya ajaran Islam itu sejatinya membantu rakyat miskin. Sebelum membantu rakyat miskin, seseorang itu harus keluar dari Kemiskinan dirinya sendiri. Namun, menolong rakyat miskin adalah Fardu Ain (Kewajiban Utama).

Tapi ajaran Islam dalam perspektif Adi Sasono baru muncul menjelang lahirnya ICMI (Ikatan Cendikiawan Muslim Indonesia), awal tahun 90an.

Maksudnya, selama sebelumnya, Adi tidak mengkaitkan aktifitasnya dengan masa lalunya sebagai ketua Himpunan Mahasiswa Islam di Bandung, aktivis Masjid Salman ITB dan cucu pendiri Partai Masyumi, Mohammad Roem.

Namun, ketika terjadi pergumulan pengaruh antara kelompok pengikut Imaduddin, kelompok-kelompok birokrasi binaan Habibie dan kelompok aktifis2 LSM, Adi Sasono bersama kelompoknya seperti Dawam Raharjo, AM Syaifuddin dan lain-lain, mulai membangun narasi Islam dan perubahan sosial.

Islam menurut Adi adalah ajaran keadilan sosial. Ketika suatu hari saya mengingatkan dia sebagai Menteri Koperasi di mana programnya membagi2 uang KUT (Kredit Usaha Tani) triliunan rupiah kepada rakyat mengandung bahaya jika tidak dikembalikan, karena tanpa agunan, dengan santainya Adi Sasono mengatakan biarin aja.

Kalau uang Rp 5 T, misalnya, dibagi  5 juta rakyat, masing-masing dapat sejuta, terus ngemplang, itu pasti habisnya buat makan. Kalau konglomerat ngemplang ratusan triliun, dipakai apa? Secara moral, rakyat tak bisa disalahkan, katanya.

Cuma dua yang ada di kepala Adi Sasono ketika Menteri Koperasi, 1) membangun masjid di kementerian. Mungkin ini khas orang Jawa berkuasa? 2) membagi-bagikan kekayaan negara untuk rakyat.  

Kalau Adi Sasono berkuasa lebih kuat, yang diinginkannya adalah semua distribusi (pupuk, minyak goreng, gula, beras, dan lain sebagainya) harus dipegang pribumi. Lalu aset-aset BLBI dibagikan ke ormas-ormas seperti Muhammadiyah dan NU.

Dalam lingkungan politik Adi Sasono, ayat ayat Alquran yang sering distir kebanyakan berkaitan dengan distribusi, redistribusi dan keadilan sosial. Misalnya ayat yang mengatakan "terdapat harta orang-orang miskin di antara harta orang kaya".

Kelompok Adi Sasono yang selalu bergumul dengan keadilan sosial sering kali dicap sebagai Islam Sosialis. Kadangkala dijuliki Islam Semangka (luarnya hijau dalamnya merah -merah istilah untuk sosialis).

Islam 212

Ketertarikan saya sangat dalam terhadap Islam sebagai sebuah ajaran muncul kembali pada fenomena 212 ini. Di mana Habib Rizieq menjadi sentral figur.

Habib Rizieq menurut saya berhasil menyatukan apa yang saya dapatkan secara terpisah dari Imaduddin Abdurrahim dan Adi Sasono. Sebagai ajaran ilahiah, Islam dalam pandangan Habib Rizieq bukan ajaran terisolasi.

Terisolasi maksudnya ajaran yang hanya memuaskan seorang individu. Melainkan juga ajaran keadilan sosial.

Ketika Habib Rizieq meninggikan keesaan Allah dalam pembahasan Pancasila, sekaligus membahas bagaimana 9 Naga (gelar untuk para cukong-cukong yang menguasai Indonesia), harus jadi 9 cacing, komprehensifitas pemikiran2 Islam Habib Rizieq terlihat utuh.

Tauhid dalam perspektif Hb Rizieq adalah penghambaan kepada Allah via logik, via zikir dan doa. Imaduddin menekankan zikir pada perenungan atas alam semesta dan tanda-tandanya. Habib Rizieq sekaligus pada zikir verbal dan massal.

Zikir dan doa dalam skala massa bisa juga berarti sosialisme Islam bersifat ganda, yakni memuja Allah dan kemakmuran bersama.

Ini tentu melewati pikiran Imaduddin sekaligus Adi Sasono. Namun, Habib Rizieq dan kedua mereka segaris pada perjuangan keummatan. Ummat Islam harus di depan, bukan di pinggiran apalagi diemperan.
Dan ketiga mereka tidak bersekutu dengan yahudi dan asing dalam memajukan Islam.

Penutup

Tulisan ini hanya sebuah renungan saya tentang sulitnya berguru dalam perspektif Islam. Belajar Islam adalah belajar seumur hidup. Sementara ilmu-ilmu Islam belum mampu menjadi tuan rumah. Sedangkan "ajaran-ajaran Islam" yang kebanyakan berkembang seringkali berkompromi dengan kejahatan-kejahatan politik dan tidak mempunyai dimensi keadilan sosial. Padahal ajaran agama merupakan 'windows' untuk seorang manusia menuju Tuhannya dan kehidupan di surga kelak.[***]


Direktur Sabang Merauke Circle



Populer

Bupati Klaten Dikabarkan Terjaring OTT KPK

Kamis, 15 Oktober 2026 | 11:10

Adik dan Orang Kepercayaan Kepala BNPB Suharyanto Dikabarkan Ditetapkan Tersangka KPK

Rabu, 14 Oktober 2026 | 10:12

Pergantian KSAD jadi Sinyal Skenario Baru Penentuan Panglima TNI

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 03:02

Jokowi sudah Ditinggalkan Parpol, Polri, hingga Oligarki

Senin, 19 Oktober 2026 | 04:00

Gagal Atasi Karhutla, Pecat Menhut Raja Juli!

Jumat, 16 Oktober 2026 | 23:30

KPK Dalami Keterlibatan Bobby Nasution dalam Kasus Korupsi Proyek Jalan Sumut

Jumat, 23 Oktober 2026 | 09:19

Gugat Allianz Rp1,5 Miliar, Krisdayanti Ajukan Perkara ke PN Jaksel

Minggu, 18 Oktober 2026 | 13:28

UPDATE

Darwis Ismail Terpilih jadi Nakhoda Baru ISKINDO Periode 2026-2031

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 03:46

Polda Metro Bongkar Penyelundupan 54 Ton Batu Galena dari Gorontalo

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 03:27

Usul LBP Makin Terasa Janggal, Reformasi Hukum Jangan Kehilangan Arah

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 02:59

Manifesto Welfare State Pesisir

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 02:30

Gerakan 1 Juta Liter Air Bersih BEM PTNU Teruskan Semangat Resolusi Jihad

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 02:05

Sidang Praperadilan Kasus Relawan Prabowo Ditunda, Hakim Tegur Kelalaian Pemanggilan

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 01:51

Langkah Cepat Polda Jatim Cegah Potensi Kericuhan Aksi Mahasiswa Tuai Apresiasi

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 01:26

PT TIMAH Buka Opsi Buyback Saham Sikapi Dinamika Pasar Modal

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 00:49

GMNI Puji Ketegasan Kapolri Bongkar Penyelundupan 1,16 Ton Ketamin

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 00:21

PKS Dukung Pemerintah Lakukan Reformasi Bursa Saham Menyeluruh

Jumat, 23 Oktober 2026 | 23:45

Selengkapnya