Berita

Ilustrasi/Net

Politik

Kampanye 'Gelap' Menteri Nasir, Demokrat Sindir Monoloyo Era Orba

JUMAT, 22 FEBRUARI 2019 | 10:41 WIB | LAPORAN: AHMAD KIFLAN WAKIK

Demokrasi Indonesia era Presiden Joko Widodo seolah balik arah dan tidak ada bedanya dengan orde baru.

Demikian Wakil Sekjen Partai Demokrat Renanda Bachtar merespons pidato Menteri Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti), Mohamad Nasir seakan mengarahkan mencoblos pasangan calon nomor urut 01 Jokowi-Maruf.

"Sama itu, kalau dulu dikenal dengan istilah Monoloyo alias satu loyalitas," ujar Renanda kepada Kantor Berita Politik RMOL, Jumat (22/2).


Nasir sebelumnya saat menghadiri Hari Kebangkitan Teknologi Nasional ke-24 di Lapangan Renon, Denpasar, Bali, mengajak mahasiswa untuk menggunakan hak pilih dengan baik jangan sampai golput.

"Karena itu, silakan anda memilih dengan nurani saudara. Oleh karena itu, dalam hal ini jangan sampai dicoblos dua. Dicoblos dua, batal itu namanya nanti ya. Dicoblos hanya satu saja. Satu saja, jangan coblos dua. Satu saja supaya benar," kata Nasir.

Renanda menyebut sejak orde baru berakhir, belum pernah ada kasus pejabat negara yang melakukan kampanye untuk petahana baik secara tersirat apalagi terbuka.

"Pejabat publik mulai dari menteri sampai ke eselon lebih rendah berkampanye untuk Presiden yang menjadi Capres ini tidak pernah terjadi di era Habibie, Gus Dur, Megawati dan SBY," jelas Renanda.

Akibat ulah para menterinta, sambung Renanda, jangan berharap mendapat simpati publik, justru suara Jokowi akan terus merosot jika memaksakan menggunakan pejabat negara untuk kampanye.

"Alih-alih ingin dapat dukungan meluas, cara-cara seperti ini malah bisa kontraproduktif," demikian Renanda. [jto]

Populer

China Peringatkan RI Tak Rusak Stabilitas Regional

Sabtu, 18 April 2026 | 02:00

Usai Rumah Digeledah, Noor Aflah Diperiksa KPK

Senin, 20 April 2026 | 14:11

Jaksa Watch Lapor KPK, Ada Dugaan Penyalahgunaan Aset Sitaan Korupsi

Jumat, 17 April 2026 | 17:46

Giliran Sekda Kota Madiun Dipanggil KPK dalam Kasus Pemerasan Maidi

Senin, 13 April 2026 | 14:18

Pengamat Endus Isu Pemakzulan Presiden Didesain Wapres

Kamis, 16 April 2026 | 00:32

Eksepsi Mardiono terkait Gugatan Muktamar PPP Ditolak PN Jakpus

Kamis, 16 April 2026 | 18:10

GAMKI: Ceramah Jusuf Kalla Menyakiti Umat Kristen

Senin, 13 April 2026 | 08:21

UPDATE

Pakar HTN Sambut Baik Putusan MK Perkuat Kedudukan Hasil Audit BPK

Selasa, 21 April 2026 | 18:18

Refly Harun soal Info P21 Kasus Ijazah Jokowi: Itu Ngarang!

Selasa, 21 April 2026 | 18:17

Efek Domino MBG, Pendapatan Petani Naik 60 Persen

Selasa, 21 April 2026 | 18:13

Hadiah Hari Kartini: Pengesahan UU PPRT Lindungi Pahlawan Domestik

Selasa, 21 April 2026 | 18:04

Staf PBNU Mangkir dari Panggilan, KPK Siap Jadwal Ulang

Selasa, 21 April 2026 | 17:52

RUU PPRT Disahkan DPR Bukti Perempuan Hadir di Parlemen

Selasa, 21 April 2026 | 17:43

Peringati Hari Kartini, KPP: Perempuan Harus Aktif dari Suara ke Aksi

Selasa, 21 April 2026 | 17:42

Huawei Rilis Pura 90 Series, Ini Spesifikasi, Fitur Kamera, dan Harganya

Selasa, 21 April 2026 | 17:16

Staf Orang Kepercayaan Maidi Dicecar KPK soal Penampungan Dana CSR

Selasa, 21 April 2026 | 17:13

13 WNI Jadi Korban Kebakaran 1.000 Rumah Apung di Malaysia

Selasa, 21 April 2026 | 17:10

Selengkapnya