NASKAH Pembangunan Berkelanjutan Masyarakat Baduy yang dimuat RMOL edisi 19 Februari 2019 berkelanjutan memperoleh tanggapan serba positif dan konstruktif dari berbagai pihak dengan berbagai aspek pandang mulai dari politik pembangunan, wisata budaya, ekonomi, ekologi, antropologi, kearifan lokal sampai filsafat semesta.
Urip Prasojo Lan Sakmadyo
Mahaguru Kejawen saya merangkap mahadesainer yang mendesain cover buku-buku tulisan saya, Bambang Waluyo tidak ketinggalan bermurah hati menyampaikan tanggapan yang saya copas pada naskah sederhana ini sebagai berikut:
Sugeng sonten Pak Jaya, Masyarakat Baduy, menurut saya, mengamalkan filosofi “ Urip Prasojo lan Sakmadyoâ€, atau "Hidup Sederhana dan Secukupnya".
Tidak berlebihan, tidak rakus, sesuai kebutuhan dasar saja, serta menghormati alam dengan menjaga kelestariannya agar bisa diwariskan bagi generasi berikutnya. Salam hormat, Bambang Waluyo.
Mahakarya Pemikiran Secara arif dan halus, Bambang Waluyo menyentuh lubuk sanubari serta nurani saya demi makin menggelorakan semangat kebanggaan nasional dan mempermantap keyakinan saya bahwa mahakarya pemikiran bangsa Indonesia memiliki kandungan makna adiluhur yang setara dalam harkat dan martabat serta maksud dan tujuan dengan mahakarya pemikiran bangsa Persia, Asiria, Babilonia, Aztek, Inka, Maya, Nubia, Ethiopia, Mesir, Nabatea, Yahudi, Arab, China, India, Yunani, Romawi dan bangsa mana pun di planet bumi masa lalu, masa kini dan masa depan.
Pada hakikatnya apa yang disebut sebagai filsafat sebagai mahakarya pemikiran para mahapemikir bukan saling mengendala namun justru saling melengkapi satu dengan lain-lainnya demi bersama mendukung perjuangan peradaban umat manusia untuk senantiasa menjadi yang lebih baik.
[***]
Penulis adalah Pembelajar Filsafat Nusantara serta Pendiri Sanggar Pembelajaran Kemanusiaan