Berita

Nasaruddin Umar/Net

Etika Politik Dalam Al-Qur'an (23)

Inklusifisme Syari'ah

SELASA, 19 FEBRUARI 2019 | 08:08 WIB | OLEH: NASARUDDIN UMAR

Sejak awal turunnya Al-Qur'an selalu memperkenalkan keutamaan nilai-nilai kemanusiaan. Syari'ah yang diperkenalkan ke­pada Nabi Muhammad Saw juga sangat inklusif. Turunnya Al-Qur'an se­cara berangsur-angsur membuktikan betapa Al-Qur'an sarat dengan nilai-nilai kemanusiaan. Meskipun tidak ada yang bisa menghalangi Allah Swt menurunkan Al-Qur'an sekaligus, tetapi memang terasa tidak manusiawi jika dalam waktu sekejap nilai-nilai luhur-univer­sal yang sudah tertanam sekian lama tiba-tiba harus dicabut secara serentak.

Penerapan nilai-nilai Syari'ah Islam dike­nal prinsip tadarruj, yaitu penerapan nilai-nilai secara berangsur tahap demi tahap (al-tadrij fi al-tasyri'). Selain itu juga dikenal dengan sedikit demi sedikit (taqlil al-taklif) hingga pada saatnya menjelma menjadi nilai-nilai yang utuh. Proses sosialisasinya pun beru­saha menghindari kesulitan ('adam al-haraj). Keutuhan nilai-nilai universalitas Islam dica­pai melali sinergi antara nilai-nilai lokal den­gan ajaran dasar Islam.

Dengan demikian, Islam dirasakan sebagai kelanjutan sebuah tradisi yang sudah mapan di dalam masyarakat. Bukannya menghadirkan sesuatu yang serba baru melalui penyingkiran nilai-nilai lokal. Bisa dibayangkan misalnya, bagaimana nilai-nilai lokal Minangkabau yang matriarchal bisa menyatu dengan nilai-nilai Is­lam yang cenderung patriarchal.


Jika di sana ada kelompok radikal beru­saha mengembangkan Islam eksklusif, yang kemudian menimbulkan kekhawatiran, ke­cemasan, dan ketakutan, maka di Indone­sia ada suguhan Islam inklusif, ditampilkan oleh orang-orang yang penuh kearifan, me­mahami su bstansi ajaran, dan dialektika perjuangan Nabi. Pemahaman Islam secara inklusif selalu berusaha menampilkan Islam sebagai ajaran agama yang penuh dengan kasih sayang (rahmah), tolerans (tasamuh), keadilan ('adalah), menekankan aspek per­temuan, titik temu, dan perjumpaan (kalimah sawa'); bukannya menampilakan kekerasan (tasyaddud) dan terorisme (irhab).

Inklusifisme Syari'ah sesungguhnya juga ra­mah bagi lingkungan alam dan lingkungan so­sial. Islam yang bisa tegak di atas atau di samp­ing nilai-nilai lokal-kultural, Islam yang memberi ruang terhadap kearifan lokal. Bahkan Islam yang mampu menjadi wadah peleburan (melt­ing pot) terhadap pluralitas nilai dan norma yang hidup di dalam masyarakat. Kehadiran Islam tidak mesti menyingkirkan nilai-nilai lokal setempat. Meskipun Islam sarat dengan nilai-nilai universal tetapi konsep universalitasnya tidak tertutup, melainkan terbuka.

Sejarah dunia Islam menunjukkan betapa indahnya perpaduan nilai-nilai Islam yang bersifat universal dan budaya dan perada­ban lokal. Satu sama lain tidak saling men­gorbankan tetapi saling mengisi dan sangat menguntungkan untuk dunia kemanusiaan. Keduanya tidak perlu diperhadap-hadapkan karena nilai-nilai universal Islam bersifat ter­buka, dalam arti fleksibel dan dapat men­gakomodir berbagai nilai-nilai lokal. Bukti keterbukaan itu, Islam dapat diterima dari Timbektu, ujung barat Afrika sampai Mer­auke, ujung Timur Indonesia.

Nabi Muhammad Saw mambangun per­adaban Islam bukan memulai dari nol tetapi bagaimana melestarikan yang sudah baik dan mengembangkan yang masih sederha­na, dan mengkreasikan sesuatu yang belum ada. Ini dipertegas dalam hadis Nabi: Inna­ma bu'itstu li utammi makarim al-akhlaq (Se­sungguhnya aku diutus untuk menyempur­nakan akhlak mulia). 

Populer

Duit Rp100 Miliar Hasil OTT KPK Dikabarkan Milik Nusron Wahid

Selasa, 15 September 2026 | 13:16

Advokat Pitra Romadoni Dipanggil Polres Bogor

Rabu, 09 September 2026 | 01:15

Mengenal Pantas Sutardja, Orang Super Kaya AS Berdarah Indonesia

Kamis, 10 September 2026 | 05:04

KPK Belum Tutup Peluang Periksa Bos Rokok HS M Suryo

Sabtu, 12 September 2026 | 06:08

KPK Periksa Karyawan PT SCGU

Selasa, 08 September 2026 | 15:34

Pendatang Baru, Partai Gema Bangsa Siap Verifikasi Pemilu 2029

Minggu, 13 September 2026 | 17:39

KPK Dikabarkan Tetapkan Tangan Kanan Nusron Wahid Hingga Pihak Summarecon sebagai Tersangka

Selasa, 15 September 2026 | 09:40

UPDATE

Kodam XII/Tanjungpura Geser Pasukan Atasi Karhutla ke Selatan Kalbar

Sabtu, 19 September 2026 | 05:09

Ketika Politik Uang Dianggap Wajar

Sabtu, 19 September 2026 | 04:45

Profesor Webster University: Pimpinan Negara Barat Harus Contoh Prabowonomics

Sabtu, 19 September 2026 | 04:16

Ekosistem Pengolahan Ikan Skala Mikro dan Kecil Terus Diperkuat

Sabtu, 19 September 2026 | 03:45

Fapet IPB University Hasilkan Inovasi Songsong Komersialisasi Ayam Lokal

Sabtu, 19 September 2026 | 03:13

Kejati Sumut Didesak Usut Tuntas Kasus Lahan Tol Medan-Binjai

Sabtu, 19 September 2026 | 02:45

Ketika Polemik Ijazah Berubah jadi Komoditas Politik

Sabtu, 19 September 2026 | 02:17

Tim Hukum UIN Jakarta Datangi Kejati Banten Usut Korupsi Eks Rektor

Sabtu, 19 September 2026 | 01:50

Humanika Harus Bantu Presiden Bawa Keluar RI dari Middle Income Trap

Sabtu, 19 September 2026 | 01:26

Konstruksi Waktu Dugaan TPPU dan Pemerasan Kasus Febrie Tidak Sinkron

Sabtu, 19 September 2026 | 01:02

Selengkapnya