Berita

Foto: Net

Politik

Klaim Pemerintah Soal Utang Produktif Sesat Pikir, Legislator PKS Merinci Buktinya

KAMIS, 14 FEBRUARI 2019 | 15:27 WIB | LAPORAN:

Realisasi selama empat tahun ini dinilai bertolak belakang dengan janji kampanye Jokowi-JK di 2014 lalu untuk tidak berutang.

Anggota Komisi XI DPR, Ecky Awal Mucharam menghitung total defisit APBN empat tahun terakhir sebesar Rp 1.207,7 triliun. Jauh lebih besar dari dua periode 2004-2014 pemerintahan SBY yang mencapai Rp 905,3 triliun.

"Pemerintah selalu berdalih bahwa utang tidak menjadi masalah selama digunakan untuk sektor produktif seperti pembangunan infrastruktur. Pertanyaannya apakah benar utang pemerintah digunakan secara produktif seperti yang diklaim?" tanya Ecky.


Pertama, utang tersebut tidak bisa dikatakan untuk dipergunakan belanja tertentu karena semuanya baik itu pengeluaran rutin, sosial, subsidi maupun modal merupakan satu kesatuan.

Oleh karena itu, tegas Ecky, klaim pemerintah bahwa utang digunakan untuk infrastruktur merupakan sebuah disinformasi dan sesat pikir.

Kedua, jika utang digunakan secara produktif maka peningkatan pertumbuhan ekonomi seharusnya lebih besar dari penambahan utang, atau rasio utang terhadap PDB seharusnya turun.

"Faktanya, rasio utang terhadap PDB malah membesar dari 24,7 persen pada 2014 menjadi 29,39 persen pada 2017. Ini menunjukkan bahwa penggunaan utang kurang efisien dalam meningkatkan pertumbuhan ekonomi," paparnya.

Ketiga menyoal alasan pemerintah bahwa defisit APBN dan utang pada pemerintahan saat ini digunakan untuk sektor produktif.

Bandingkan dengan periode kedua pemerintahan SBY, realisasi belanja modal sebesar Rp 677,3 triliun dengan total defisit sebesar Rp 722,9 triliun. Dengan kata lain, penyerapan defisit untuk sektor produktif mencapai 93,7 persen.

Sedangkan selama empat tahun pemerintah saat ini, urai dia, realisasi total Belanja Modal hanya mencapai Rp 778,5 triliun dengan total defisit mencapai Rp 1.207,7 triliun.

"Artinya, penyerapan defisit APBN untuk sektor Belanja Modal, atau yang diklaim sebagai sektor produktif hanya 64,5 persen saja. Jauh di bawah penyerapan di era periode kedua pemerintahan SBY," terangnya.  

Ecky mengimbau publik harus menagih janji utang ini agar tidak salah pilih di Pemilu 2019.[wid]

Populer

Ketika Jenderal Memimpin yang Bukan Bidangnya

Kamis, 04 Juni 2026 | 00:15

Nama Raffi Ahmad Muncul di Sidang Blueray Cargo, Pengacara Minta Pemeriksaan Menyeluruh

Minggu, 07 Juni 2026 | 21:11

Tiga Pensiunan Jenderal Nyungsep Gegara Tersandung Kasus

Jumat, 05 Juni 2026 | 03:16

KPK Dikabarkan OTT Pejabat Imigrasi Jakarta Barat, Diduga Terkait TKA

Rabu, 03 Juni 2026 | 07:33

Rita Widyasari: Dari Suap, Gratifikasi dan TPPU hingga Korporasi Tambang

Rabu, 03 Juni 2026 | 17:07

Ketika Pencalonan Ryamizard Ryacudu sebagai Panglima TNI Dianulir SBY

Selasa, 02 Juni 2026 | 03:18

Dadan Hindayana Kena Batunya

Rabu, 03 Juni 2026 | 01:04

UPDATE

Gus Ipul Cek Perkembangan Siswa Sekolah Rakyat Menengah Pertama Manado

Jumat, 12 Juni 2026 | 00:14

Pegawai Imigrasi Jaksel Tingkatkan Kemampuan Jurnalistik dan Kehumasan

Kamis, 11 Juni 2026 | 23:46

Pengawasan MBG Harus Diperkuat Usai Dadan Dkk Dicokok Kejagung

Kamis, 11 Juni 2026 | 23:28

Pemerintah Sepakati Kerangka RAPBN 2027, Pertumbuhan Ekonomi Dibidik 6,5 Persen

Kamis, 11 Juni 2026 | 23:02

Piala AFF U-19: Drama VAR Kubur Impian Garuda Muda ke Final

Kamis, 11 Juni 2026 | 22:56

Mahasiswa Jabar Turun ke Jalan Suarakan RUU Polri dan BBM

Kamis, 11 Juni 2026 | 22:24

PLN Berhasil Operasikan Tower Emergency, Sistem Kelistrikan Sumut Kembali Normal

Kamis, 11 Juni 2026 | 22:14

Bahlil Pastikan Harga BBM Subsidi Tetap, Pertamax Naik Ikuti Harga Pasar

Kamis, 11 Juni 2026 | 21:36

Target Pendapatan Dipatok Naik, DPR Restui Minuman Manis Kena Cukai

Kamis, 11 Juni 2026 | 21:36

PLN Pulihkan Sistem Kelistrikan Sumatera Utara 72 Jam Lebih Cepat

Kamis, 11 Juni 2026 | 21:02

Selengkapnya