Berita

Jaya Suprana/Dok

Jaya Suprana

Tata Krama Kampanye Adil Dan Beradab

KAMIS, 14 FEBRUARI 2019 | 07:57 WIB | OLEH: JAYA SUPRANA

DI dalam ilmu pemasaran terdapat apa yang disebut sebagai promosi. Sementara promosi memiliki beberapa metode antara lain periklanan, personal selling, publikasi, public relations, dan sales promotion.

Karena jangkauan lingkup dan dampak sosial cukup luas maka segenap metode promosi perlu diatur dengan aturan main alias tata krama agar para penggunanya tidak melanggar sila Kemanusiaan Adil dan Beradab.

Satu di antara tata krama yang wajib ditaati oleh para pengguna metode promosi adil dan beradab adalah yang hanya membenarkan promosi yang mengunggulkan produk diri sendiri sambil tidak membenarkan promosi yang mendisreditkan produk orang lain.


Kampanye

Pada hakikatnya kampanye pemilihan umum merupakan suatu bentuk promosi bagi para politisi untuk memperoleh dukungan masyarakat semaksimal mungkin terhadap dirinya. Seorang calon anggota DPR, kepala daerah, presiden dikampanyekan demi meraih suara rakyat lebih banyak ketimbang caleg, cakada, capres lain-lainnya.

Maka sudah selayaknya bahwa penatalaksaan kampanye Pileg, Pilkada, Pilpres juga --seperti metode promosi ---perlu bahkan wajib diatur dengan tata karma agar para penggunanya mau dan mampu menghadirkan pemilu yang adil dan beradab.
Tata Krama

Satu di antara tata krama yang wajib ditaati oleh para pengguna metode promosi adil dan beradab adalah yang hanya membenarkan promosi yang mengunggulkan produk diri sendiri namun tidak membenarkan promosi yang melecehkan produk orang lain.

Maka selayaknya satu di antara tata krama yang wajib ditaati oleh para pelaku kampanye pemilu adil dan beradab adalah yang hanya membenarkan kampanye yang menggunggulkan caleg, cakada,capres pihak diri sendiri sambil tidak membenarkan kampanye yang mendisreditkan, melecehkan, menghina apalagi memfitnah caleg, cakada, capres pihak seberang.

Kalau mau, sebenarnya tata krama kampanye Pemilu adil dan beradab pasti bisa dihadirkan. Kalau tidak bisa berarti tidak mau. [***]


Penulis adalah pendiri Sanggar Pembelajaran Kemanusiaan



Populer

Bupati Klaten Dikabarkan Terjaring OTT KPK

Kamis, 15 Oktober 2026 | 11:10

Pergantian KSAD jadi Sinyal Skenario Baru Penentuan Panglima TNI

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 03:02

KPK Dalami Keterlibatan Bobby Nasution dalam Kasus Korupsi Proyek Jalan Sumut

Jumat, 23 Oktober 2026 | 09:19

Jokowi sudah Ditinggalkan Parpol, Polri, hingga Oligarki

Senin, 19 Oktober 2026 | 04:00

Gagal Atasi Karhutla, Pecat Menhut Raja Juli!

Jumat, 16 Oktober 2026 | 23:30

Transjabodetabek Blok M-Bandung Jadi Cara Pramono Sindir KDM

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 23:44

Gugat Allianz Rp1,5 Miliar, Krisdayanti Ajukan Perkara ke PN Jaksel

Minggu, 18 Oktober 2026 | 13:28

UPDATE

Sopir BYD Penyebab Tabrakan Beruntun di Jaksel jadi Tersangka

Senin, 26 Oktober 2026 | 05:52

Asuransi Tugu Pratama Indonesia Digugat Rp3,51 Miliar ke PN Jaksel

Senin, 26 Oktober 2026 | 05:27

Sukseskan Kemandirian Pangan, Petani Adat Wanam Butuh Pendampingan

Senin, 26 Oktober 2026 | 05:10

DPO Illegal Tapping Pertamina EP Jambi Sukses Diringkus Berkat Sinergitas

Senin, 26 Oktober 2026 | 04:50

TNI Kirim 4,6 Ton Dry Ice ke Banjarmasin dan Palembang Sukseskan OMC Akhiri Karhutla

Senin, 26 Oktober 2026 | 04:25

Refleksi Kisah Nabi Musa AS dan Fir'aun dalam 2 Tahun Pemerintahan Prabowo-Gibran

Senin, 26 Oktober 2026 | 03:34

Walkot Bandung Kedepankan Koordinasi Sikapi Bentrokan Berdarah Pasar Caringin

Senin, 26 Oktober 2026 | 03:14

Startup Binaan IPB Raih Potensi Kerja Sama Rp1 Miliar Tembus Pasar Oman

Senin, 26 Oktober 2026 | 02:47

Dari Nasionalisme ke Tata Kelola dan Reformasi Pasar Modal Indonesia

Senin, 26 Oktober 2026 | 02:17

Boris Tampubolon Beri Tiga Alasan Pasal Kerugian Negara Harus Direvisi

Senin, 26 Oktober 2026 | 01:43

Selengkapnya