Majelis Nasional Korps Alumni Himpunan Mahasiswa Islam (KAHMI) membenarkan telah menerima undangan dari senior HMI, Akbar Tanjung.
Namun undangan itu bukan dimaksudkan deklarasi KAHMI-HMI mendukung calon presiden tertentu.
"Undangan yang kami terima dari Kanda Dr. Akbar Tandjung adalah acara untuk peringatan 72 tahun kelahiran HMI, serta dimulainya pembuatan film Lafran Pane, sebagai Pahlawan Nasional," terang Koordinator Presidium MN KAHMI, Hamdan Zuelva melalui siaran pers yang diterima redaksi siang ini (Senin, 4/2).
Acara diagendakan besok (Selasa, 5/2) di kediaman Akbar Tanjung, Jalan Purnawarman Nomor 18 Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Presiden Jokowi juga diundang hadir.
"Acara tersebut adalah inisiatif Kanda Dr. Akbar Tandjung," imbuhnya.
Sementara dalam pertemuan di rumah Akbar Tanjung pada Jumat pagi (1/2) lalu, Hamdan menjelaskan tentang harapan MN KAHMI tidak mengatasnamakan alumni HMI, apalagi organisasi KAHMI pada acara tersebut.
"Beliau sangat memahami dan menyambut baik harapan dari Majelis Nasional KAHMI tersebut," ulas Hamdan.
Akbar pun setuju menggunakan nama 'Dukungan Sahabat AT untuk Jokowi' jika dilakukan deklarasi. Selain itu lanjut Hamdan, juga disepakati tidak menggunakan kata Dies Natalis HMI yang notabene agendanya PB HMI.
"Kami menghargai sikap dan pilihan politik para alumni HMI yang secara nyata berada di kedua paslon capres/cawapres bahkan banyak di antaranya aktif menjadi tim sukses," ujar Hamdan lagi.
Akan tetapi, MN KAHMI mengimbau dalam melakukan ikhtiar dan langkah-langka politik, tetaplah berkomitmen menjaga keutuhan dan martabat organisasi KAHMI sebagai wadah bersama bagi seluruh alumni HMI.
Lebih lanjut Hamdan juga menegaskan bahwa MN KAHMI tidak pernah mengeluarkan flayer atau pemberitaan deklarasi dukungan pada paslon tentu dengan nama KAHMI.
"Nama KAHMI untuk deklarasi dukungan pada paslon tertentu adalah tidak benar dan tanpa sepengetahuan Majelis Nasional KAHMI," tegasnya.
Mengakhiri siaran pers MN KAHMI, Hamdan mengimbau kepada seluruh alumni HMI untuk terus mengembangkan tradisi
tabayyun dalam menghadapi berbagai isu, berita, maupun informasi yang belum jelas kebenarannya.
[wid]