Berita

Rizal Ramli/Net

Politik

Rizal Ramli: Maunya Kedaulatan Pangan, Tapi Strateginya Impor Ugal-ugalan

JUMAT, 01 FEBRUARI 2019 | 11:48 WIB | LAPORAN:

Mantan menteri koordinator perekonomian, Rizal Ramli prihatin kondisi empat tahun kepemimpinan Jokowi, kedaulatan pangan Indonesia tak jua terrealisasi.
Cita-cita yang disampaikan Jokowi saat kampanye Pilpres 2014 ternyata tidak sejalan dengan praktiknya.

Rizal Ramli pun membandingan era pemerintahan almarhum Abdurrahman Wahid yang ditandai dengan keinginan kuat untuk berdaulat, baik ekonomi, politik serta ada keberpihakan.

"Ekonomi itu bukan hanya soal itung-itungan, itu sih tukang. Tapi ekonomi yang penting berpihak kepada siapa dulu baru dicari itungan-itungannya," kata Rizal Ramli di Kota Malang, Jawa Timur, baru-baru ini.

"Ekonomi itu bukan hanya soal itung-itungan, itu sih tukang. Tapi ekonomi yang penting berpihak kepada siapa dulu baru dicari itungan-itungannya," kata Rizal Ramli di Kota Malang, Jawa Timur, baru-baru ini.

Karena ada keberpihakan itulah, semasa era pemerintahan Gusdur, ekonomi tumbuh dari minus 3 persen menjadi 4,5 persen, kesejahteraan rakyat meningkat, pangan stabil, gini indeks 0,3 persen terendah dalam sejarah Indonesia.

Bandingkan dengan saat ini, Rizal menilai justru masalah keberpihakan kurang jelas.

"Kalau pidato memang Presiden Joko Widodo, kalau kampanye pingin kedaulatan pangan, setop impor ini, kurangi impor ini, dan lain-lain. Tapi empat tahun kemudian yang terjadi sebaliknya," katanya.

Indonesia semasa era Jokowi, kata Rizal Ramli malah menjadi raja impor nomor satu gula dan lain-lain. Dan ini merugikan yang petani.

"Cita-cita ke kanan, maunya kedaulatan pangan, tetapi strateginya impor ugal-ugalan. Kebijakannya juga impor setiap saat, personalianya juga dipilih yang raja impor," tegasnya.

Rizal optimistis sebetulnya jika model ekonomi Gus diterapkan maka pemerintah dapat menghapuskan sistem kartel kuota impor.

Untuk itu dia berharap agar presiden yang terpilih di masa mendatang menjaga konsistensi pidato-pidatonya agar tak salah jalan.[wid]

Populer

Jumlah Personel TNI Tidak Masuk Akal

Sabtu, 30 Mei 2026 | 03:36

Ketika Jenderal Memimpin yang Bukan Bidangnya

Kamis, 04 Juni 2026 | 00:15

Nama Raffi Ahmad Muncul di Sidang Blueray Cargo, Pengacara Minta Pemeriksaan Menyeluruh

Minggu, 07 Juni 2026 | 21:11

Tiga Pensiunan Jenderal Nyungsep Gegara Tersandung Kasus

Jumat, 05 Juni 2026 | 03:16

KPK Dikabarkan OTT Pejabat Imigrasi Jakarta Barat, Diduga Terkait TKA

Rabu, 03 Juni 2026 | 07:33

Rita Widyasari: Dari Suap, Gratifikasi dan TPPU hingga Korporasi Tambang

Rabu, 03 Juni 2026 | 17:07

Ketika Pencalonan Ryamizard Ryacudu sebagai Panglima TNI Dianulir SBY

Selasa, 02 Juni 2026 | 03:18

UPDATE

Indeks Kecakapan Bahasa Inggris di Indonesia Masih Rendah, Ini Sebabnya

Selasa, 09 Juni 2026 | 22:16

Putusan Kasasi MA Sengketa Lahan Digugat, Prinsipal Lapor Badan Pengawas

Selasa, 09 Juni 2026 | 21:53

KPK dan Polri Ternyata Lakukan Joint Investigation dalam OTT Bupati Muara Enim

Selasa, 09 Juni 2026 | 21:44

Badak Kalimantan Terakhir di Alam Liar Segera Dievakuasi

Selasa, 09 Juni 2026 | 21:16

Nadiem Kecewa Replik Jaksa Abaikan Fakta Persidangan

Selasa, 09 Juni 2026 | 21:05

Budi Bantah Ditawari Jadi Menkeu: Sekarang Masih Menkes!

Selasa, 09 Juni 2026 | 21:00

Citizen Lawsuit, Rangkap Jabatan Otto Hasibuan Digugat ke Pengadilan

Selasa, 09 Juni 2026 | 20:52

DEN Ingatkan Risiko Inflasi Imbas Rupiah Melemah

Selasa, 09 Juni 2026 | 20:45

Besok Prabowo ke Lampung, Tinjau RSUD Krui

Selasa, 09 Juni 2026 | 20:36

Luhut: 80 Persen Data Pemerintah Sudah Terhubung Lewat GovTech Berbasis AI

Selasa, 09 Juni 2026 | 20:21

Selengkapnya