Berita

Foto: Net

Jaya Suprana

Kemelut Polemik Tanpa Henti

RABU, 30 JANUARI 2019 | 07:32 WIB | OLEH: JAYA SUPRANA

NOUMENA merupakan suatu bahan polemik tanpa henti bagi para mahapemikir demi membuktikan bahwa pada hakikatnya tidak semua hal yang hadir dan/atau tidak hadir pada apa yang disebut sebagai kehidupan ini dapat dijelaskan oleh daya pikir dan daya ungkap manusia yang memang terbatas akibat tidak sempurna maka mustahil mencapai kesempurnaan.

Selalu ada saja yang bisa dipertanyakan!

Zhuangzi


Dalam metafisika, apa yang disebut sebagai noumena ditafsirkan sebagai suatu objek atau peristiwa yang hadir secara mandiri lepas dari akal dan /atau persepsi manusia.

Istilah noumena umumnya digunakan dalam kaitannya dengan, fenomena, yang merujuk pada apapun yang dapat dipahami oleh atau merupakan objek indera.

Sebenarnya noumena sudah dibahas di dalam mahakarya pemikiran Zuangzi yang hidup di Tiongkok pada tahun 369 sampai dengan 286 Sebelum Masehi.

Filsafat Barat secara umum bersikap skeptis terhadap noumena. Immanuel Kant memberikan sudut pandang bahwa noumena mungkin ada, namun secara sempurna tidak dapat ditangkap oleh daya indera manusia.

Menurut pemikiran Kant, noumena kerap dikaitkan dengan ding an sich alias "benda di dalam diri sendiri" yang tidak diketahui meskipun bagaimana mengkarakterisasinya merupakan sebuah pertanyaan yang senantiasa terbuka untuk lestari dipertanyakan secara kekal abadi tanpa henti sampai akhir zaman bahkan setelahnya.

Berkeley

George Berkeley meyakini bahwa materi sama sekali terlepas dari apa yang disebut sebagai pikiran  merupakan keniscayaan suatu kemustahilan secara metafisik.

Kualitas yang terkait dengan materi seperti bentuk, warna, bau, tekstur, berat, suhu, suara semuanya tergantung pada pikiran, yang hanya memungkinkan persepsi relatif bukan persepsi absolut.

Ketiadaan pikiran semacam itu apalagi pikiran yang mahamutlak akan membuat kualitas-kualitas yang sama itu tidak dapat diamati dan bahkan tidak terbayangkan apalagi terungkap sekedar dengan kata-kata sebagai hasil pemikiran manusia.
Schopenhauer

Arthur Schopenhauer menuduh Immanuel Kant keliru menafsirkan noumena.

Kritik Schopenhauer terhadap pemikiran Kant pertama kali muncul sebagai lampiran untuk Die Welt als Wille und Vorstellung.    Perbedaan  dan ketidakseimbangan yang membingungkan para filsuf sebenarnya sudah hadir di dalam Taoisme, falsafah Kejawen, pemikiran Eleatik, dialektika para Megariat, perselisihan skolastik antara nominalisme dan realisme yang benihnya sudah terkandung dalam kecenderungan sukma pemikiran Plato dan Aristoteles yang saling berlawanan.  

Kant secara meyakinkan mengabaikan hal yang telah diambil sebagai fenomena dan noumena, demi mengambil alih kata-kata itu seolah-olah  masih belum ditafsirkan.  

Demi menambah suasana bingung pada polemik tanpa henti tentang apa yang disebut sebagai noumena, saya nekat ngawur mengaitkan pemikiran pemikir Perancis, Rene Descrates dengan pemikir Skotlandia, David Hume dan pemikir Jerman, Immanuel Kant bahkan pemikir China, Chuang Tse  

Bagi Descartes, manusia dapat menyadari dirinya sendiri melalui penalaran. Sementara bagi Hume, melalui pengalaman serta bagi Kant, melalui perpaduan antara penalaran dan pengalaman.

Sementara jawaban saya yang berdaya pikir dangkal ini adalah? alias tanda tanya besar belaka. [***]


Penulis Tidak Berhasil Alias Gagal Menemukan Kesejatian Makna Kehidupan Yang Sebenarnya Benar-Benar Benar


Populer

Jumlah Personel TNI Tidak Masuk Akal

Sabtu, 30 Mei 2026 | 03:36

Penutupan Alfamart dan Indomaret Jangan Salahkan KDKMP

Kamis, 28 Mei 2026 | 06:00

Raksasa Telekomunikasi Ini Bakal Dibubarkan Danantara

Senin, 25 Mei 2026 | 08:33

Ketika Pencalonan Ryamizard Ryacudu sebagai Panglima TNI Dianulir SBY

Selasa, 02 Juni 2026 | 03:18

KPK Dikabarkan OTT Pejabat Imigrasi Jakarta Barat, Diduga Terkait TKA

Rabu, 03 Juni 2026 | 07:33

Golkar: Jokowi Ikut Tren MBG karena Dekat dengan Dunia Warganet

Senin, 01 Juni 2026 | 13:12

Jawapos TV Tumbang, Televisi dan Radio Daerah Berguguran

Selasa, 02 Juni 2026 | 03:24

UPDATE

Polda Metro Jaya Ajak Warga Manfaatkan Program Pemutihan Pajak hingga Akhir Agustus

Kamis, 04 Juni 2026 | 12:11

IIW Indonesia 2026 Dorong Investasi dan Kolaborasi Industri Global

Kamis, 04 Juni 2026 | 12:03

Indonesia dan Madagaskar Teken Dua Perjanjian Strategis

Kamis, 04 Juni 2026 | 11:59

Sah! RUU P2SK Resmi Jadi UU, Purbaya Klaim Bisa Dongkrak Pertumbuhan Ekonomi

Kamis, 04 Juni 2026 | 11:46

Pergantian Pimpinan BGN Harus Dibarengi Peningkatan Kualitas MBG

Kamis, 04 Juni 2026 | 11:44

ICW Khawatir Ada Intervensi di Kasus MBG, Desak Kejagung Buka Proses Penyidikan ke Publik

Kamis, 04 Juni 2026 | 11:37

Prabowo Pernah Minta BPKP Tak Ragu Usut Orang Dekat Sebelum Dadan Ditangkap

Kamis, 04 Juni 2026 | 11:25

KPK Segel Rumah Wamen Imipas Silmy Karim dan Sejumlah Lokasi Lain

Kamis, 04 Juni 2026 | 11:09

Menlu Sugiono Tegaskan Indonesia Harus Gaul dengan Semua Negara

Kamis, 04 Juni 2026 | 11:06

Rupiah-IHSG Ambruk, Pengamat: Pasar Lebih Percaya Data, Bukan Pidato Pemerintah

Kamis, 04 Juni 2026 | 10:51

Selengkapnya