Berita

Nasaruddin Umar/Net

Kemerdekaan Perempuan di Masa Nabi Muhammad Saw

KAMIS, 24 JANUARI 2019 | 08:47 WIB | OLEH: NASARUDDIN UMAR

LUAR biasa Nabi Muham­mad Saw. Yang paling wajib berterima kasih kepada Nabi Muhammad Saw adalah kaum perempuan. Seandain­ya bukan karena perjuan­gan Nabi Muhammad Saw, menurut Prof. I.Haddad, se­orang guru besar di George­town University, Washington Dc, mustahil kaum perempuan bisa menikmati kemerdekaan seperti saat ini. Nabi sendiri mem­berikan contoh di dalam keluarganya, bagaimana memberikan kebebasan dan kemerdekaan terh­adap kaum perempuan. Isteri-isteri Nabi terutama Aisyah telah menjalankan peran politik penting. Selain Aisyah, juga banyak perempuan lain yang terlibat dalam urusan politik, mereka banyak ter­libat dalam medan perang, dan tidak sedikit di antara mereka gugur di medan perang, seperti Ummu Salamah (isteri Nabi), Shafiyyah, Lailah Al-Ghaffariyah, Ummu Sinam Al-Aslamiyah.

Sedangkan kaum perempuan yang aktif di dunia politik dikenal misalnya: Fatimah binti Ra­sulullah, 'Aisyah binti Abu Bakar, 'Atika binti Yazid ibn Mu'awiyah, Ummu Salamah binti Ya'qub, Al- Khoizaran binti 'Athok, dan lain sebagainya. Da­lam bidang ekonomi perempuan bebas memilih pekerjaan yang halal, baik di dalam atau di luar rumah, mandiri atau kolektif, di lembaga pemer­intah atau swasta, selama pekerjaan itu dilaku­kan dalam suasana terhormat, sopan, dan tetap menghormati ajaran agamanya. Hal ini dibukti­kan oleh sejumlah nama penting seperti Khadi­jah binti Khuwailid (isteri Nabi) yang dikenal se­bagai komisaris perusahaan, Zainab binti Jahsy, profesinya sebagai penyamak kulit binatang, Ummu Salim binti Malhan yang berprofessi se­bagai tukang rias pengantin, isteri Abdullah ibn Mas'ud dan Qilat Ummi Bani Anmar dikenal se­bagai wiraswastawan yang sukses, Al-Syifa' yang berprofessi sebagai sekretaris dan pernah ditu­gasi oleh Khalifah Umar sebagai petugas yang menangani pasar kota Madinah. Begitu aktif kaum wanita pada masa Nabi, maka Aisyah per­nah mengemukakan suatu riwayat "Alat pemintal di tangan wanita lebih baik dari pada tombak di tangan kaum laki-laki". Dalam riwayat lain Nabi pernah mengatakan "Sebaik-baik permainan se­orang perempuan muslimah di dalam rumahnya adalah memintal/menenun".

Jabatan kontroversi bagi kaum perempuan adalah menjadi Kepala Negara. Sebagian ula­ma masih menganggap jabatan ini tidak layak bagi seorang wanita, namun perkembangan masyarakat dari zaman ke zaman pendukung pendapat ini mulai berkurang. Bahkan Al-Maudu­di yang dikenal sebagai ulama yang secara leb­ih tekstual mempertahankan ajaran Islam sudah memberikan dukungan kepada Fatimah Jinnah sebagai orang nomor satu di Pakistan.


Dalam bidang pendidikan tidak perlu diragu­kan lagi. Al-Qur'an dan hadits banyak memberi­kan pujian kepada laki-laki dan perempuan yang mempunyai perestasi dalam ilmu pengetahuan. Al-Qur’an menyinggung sejumlah tokoh wanita yang berprestasi tinggi, seperti Ratu Balqis, Mary­am, Isteri Fir’aun, dan sejumlah Isteri Nabi.

Dalam suatu riwayat disebutkan bahwa Nabi per­nah didatangi kelompok kaum perempuan yang memohon kesediaan Nabi untuk menyisihkan wak­tunya guna mendapatkan ilmu pengetahuan. Dalam sejarah Islam klassik ditemukan beberapa nama wanita yang menguasai ilmu pengetahuan penting seperti 'Aisyah isteri Nabi, Sayyidah Sakinah, putri Husain Ibn Ali ibn Abi Thalib, Al-Syekhah Syuhrah yang digelari dengan "Fikhr al-nisa" (kebanggan kaum wanita), adalah salah seorang guru Imam Syafi', Mu'nisat al-Ayyubi (saudara Salahuddin Al-ayyubi), Syamiyat al-Taimiyah, Zainab, putri seja­rawan Al-Bagdady, Rabi'ah al-Adawiyh, dan lain se­bagainya. Keberadaan Nabi Muhammad Saw tidak bisa dipisahkan dengan pembebasan kaum perem­puan dari belenggu tradisi misoginis, sebuah faham teologi yang mengharuskan seseorang membenci perempaun karena mereka yang menyebabkan anak manusia turun dari langit kebahagiaan ke bumi penderitaan.

Populer

Menko Yusril: Mundur dari Jabatan, Tak Gugurkan Tanggung Jawab Hukum Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 19:13

Firli Bahuri Sandang Gelar Doktor Hukum, Raih Gelar Summa Cumlaude

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 16:33

Legislator PAN Minta Menteri Imipas Tangguhkan Pengunduran Diri Dirjenpas Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 17:36

Gaji 26 Wantimpres Prabowo Tembus Rp1,9 Miliar Tiap Bulan, Belum Termasuk Fasilitas

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 19:06

Jenderal Dedi Langsung Tancap Gas Siapkan Struktur Organisasi BRAN

Jumat, 02 Oktober 2026 | 01:43

Suyudi Pede Gusur Puluhan Pati-Pamen Loyalis Listyo

Selasa, 06 Oktober 2026 | 05:09

Pergantian Kapolri untuk Antisipasi Putusan MK soal Gibran

Kamis, 01 Oktober 2026 | 18:19

UPDATE

Pengusaha Tembakau Dicecar KPK soal Dugaan Gratifikasi Oknum Bea Cukai

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 00:41

Resmi Dilantik, 13 Pengurus DPD Peradi Profesional Siap Kawal Keadilan di Sulsel

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 00:13

Sekolah Tahfidz Al-Qur’an Puan Maharani Mulai Dibangun di Malang

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 00:10

Perbup Bogor soal Site Plan jadi Sorotan Usai Kasus HGB Summarecon Bergulir

Jumat, 09 Oktober 2026 | 23:49

BEI Tagih Penjelasan Emiten Haji Isam soal Gadai Saham ke Bank Mandiri

Jumat, 09 Oktober 2026 | 23:24

Rocky Gerung Dicurigai Sengaja Dipasang untuk Serang Gibran dari Dalam Kekuasaan

Jumat, 09 Oktober 2026 | 22:42

Kasus TPPU Rita Widyasari Menyeret Bos Dealer VW-Audi

Jumat, 09 Oktober 2026 | 22:28

Penyederhanaan BUMN: Pengaturan Outsourcing Lewat Anak Perusahaan Jadi Sorotan

Jumat, 09 Oktober 2026 | 22:18

PDIP soal Ijazah Gibran: Anak dan Bapak Masalahnya Sama Saja

Jumat, 09 Oktober 2026 | 21:57

Pegawai Bea Cukai Dedi Congor Mangkir Lagi

Jumat, 09 Oktober 2026 | 21:42

Selengkapnya