Berita

Nasaruddin Umar/Net

Membaca Tren Globalisasi (45)

Karakter Khusus Nilai Universal Islam: Strategi Globalisasi Ummat

RABU, 23 JANUARI 2019 | 08:00 WIB | OLEH: NASARUDDIN UMAR

MENGAPA konsep ummah begitu cepat dan mudah diteri­ma? Mengapa begitu gampang menembus batas geografis dan merasuk di dalam lapis-la­pis budaya masyarakat lokal? Jawabannya karena konsep ummah dibangun di atas asas universal. Konsep ummah Is­lam mempunyai kekuatan ba­tin sehingga membuat sasaran-sasarannya tidak kuasa menolaknya. Bukan hanya gagasannya masuk akal tetapi juga sehati dengan masyarakat. Apabila stelsel ummah bersentuhan suatu negeri maka serta merta negeri itu respek dan merelakan diri tunduk di bawah spirit konsep ummah. Asas uni­versal ummah inilah kemudian melahirkan kebu­dayaan Islam.

Kemudahan penetrasi kebudayaan dan per­adaban Islam disebabkan karena asas perada­ban Islam sangat universal dan seolah tidak menimbulkan ancaman bagi kekuatan-kekua­tan lokal. Penerimaan konsep ummah tidak menimbulkan ancaman terhadap pusat-pusat kerajaan dan pemerintahan setempat. Kalau­pun ada maka itu memang sejalan dengan nilai-nilai luhur lokal mereka. Para penguasa lokal tetap saja bisa melanjutkan kekuasaan dan pengaruhnya tanpa harus terusik dengan kehadiran orang baru. Uang dihadirkan dalam konsep ummah ialah ajaran, bukan orang.

Di antara asa universal ummah ialah: 1) al-ikha, yaitu menjunjung tinggi rasa persaudaraan kema­nusiaan antara para pendatang dan penduduk lokal. Program al-ikha' ini dicontohkan Nabi ketika hijarah ke Madinah. Laki-laki pendatang (muhaji­rin) dikawinkan dengan perempuan pribumi (an­shar). Demikian pula sebaliknya, laki-laki anshar dikawinkan dengan perempuan muhajirin. Akibat­nya pembauran genetik yang dampaknya sangat strategis secara psikologis sangat penting. Gen­erasi penerus kedua kelompok tidak direpotkan lagi dengan isu pribumi dan pendatang, karena terjadi pembauran untuh antara keduanya. 2) Al- Musawa, yaitu prinsip persamaan. Islam mem­perkenalkan asas peradabannya dengan prinsip persamaan (al-musawa). Baik sebagai sesama makhluk biologis, sesama pewaris sejarah perada­ban masa lalu, dan bentuk-bentuk persamaan lain­nya. Islam selalu atau lebih sering mengedepankan prinsip persamaan (principle of identity) ketimbang prinsip perbedaan (principle of negation). Prinsip persamaan ini didasari oleh banyak ayat antara lain Q.S. S. aal-Hujurat/49:13).


3) Al-Tasamuh, yaitu prinsip toleransi. Islam bu­kan hanya mewacanakan toleransi sebagaimana banyak disinggung di dalam Al-Qur'an, antara lain Q.S. al-Kafirun/109:1-6), tetapi juga diprak­tekkan dalam lintasan sejarah umat Islam di ber­bagai Negara, dari dulu sampai sekarang. Tidak kurang dari 15 kali kata Nashara (Kristen) dan 10 kali kata Yahudi disebutkan di dalam Al-Qur’an. Bahkan agama-agama minoritas non Abrahamic Religion seperti Al-Shabi'in. Ini semua menggam­barkan adanya spirit toleransi di dalam perkem­bangan kebudayaan dan peradaban Islam. 4) Al-Musyawarah yang sudah menjadi bahasa In­donesia (musyawarah) yang tidak lain maknanya adalah demokrasi, yaitu memberi kesempatan se­cara terbuka kepada semua pihak mengedepank­an pendapatnya secara merdeka, tanpa harus khawatir sedikit pun kepada siapapun, kerena prinsip demokrasi ini sesuai dengan anjuran Al­lah swt di dalam Q.S. Ali 'Imran/3:159). Allah Swt juga memberi contoh dengan berdialog dengan para malaikat tentang rencana penciptaan am­nesia (Q.S. al-Baqarah/2:30 dst), berdialog den­gan Iblis (Q.S. al-Hijr/15:32), dan manusia (Q.S. al-A’raf/7:172). 5) Al-Mu'awanah, yaitu prinsip tolong menolong atau gotong royong. Prinsip ini didukung banyak seruang di dalam Al-Qur'an dan hadis. Atara lain Q.S. al-Maidah/5:2). Kelima asas ini menjadi faktor mudahnya diterima tawaran peradaban Islam di dalam dunia internasional. 

Populer

Menko Yusril: Mundur dari Jabatan, Tak Gugurkan Tanggung Jawab Hukum Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 19:13

Firli Bahuri Sandang Gelar Doktor Hukum, Raih Gelar Summa Cumlaude

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 16:33

Legislator PAN Minta Menteri Imipas Tangguhkan Pengunduran Diri Dirjenpas Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 17:36

Gaji 26 Wantimpres Prabowo Tembus Rp1,9 Miliar Tiap Bulan, Belum Termasuk Fasilitas

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 19:06

Jenderal Dedi Langsung Tancap Gas Siapkan Struktur Organisasi BRAN

Jumat, 02 Oktober 2026 | 01:43

Suyudi Pede Gusur Puluhan Pati-Pamen Loyalis Listyo

Selasa, 06 Oktober 2026 | 05:09

Pergantian Kapolri untuk Antisipasi Putusan MK soal Gibran

Kamis, 01 Oktober 2026 | 18:19

UPDATE

Pengusaha Tembakau Dicecar KPK soal Dugaan Gratifikasi Oknum Bea Cukai

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 00:41

Resmi Dilantik, 13 Pengurus DPD Peradi Profesional Siap Kawal Keadilan di Sulsel

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 00:13

Sekolah Tahfidz Al-Qur’an Puan Maharani Mulai Dibangun di Malang

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 00:10

Perbup Bogor soal Site Plan jadi Sorotan Usai Kasus HGB Summarecon Bergulir

Jumat, 09 Oktober 2026 | 23:49

BEI Tagih Penjelasan Emiten Haji Isam soal Gadai Saham ke Bank Mandiri

Jumat, 09 Oktober 2026 | 23:24

Rocky Gerung Dicurigai Sengaja Dipasang untuk Serang Gibran dari Dalam Kekuasaan

Jumat, 09 Oktober 2026 | 22:42

Kasus TPPU Rita Widyasari Menyeret Bos Dealer VW-Audi

Jumat, 09 Oktober 2026 | 22:28

Penyederhanaan BUMN: Pengaturan Outsourcing Lewat Anak Perusahaan Jadi Sorotan

Jumat, 09 Oktober 2026 | 22:18

PDIP soal Ijazah Gibran: Anak dan Bapak Masalahnya Sama Saja

Jumat, 09 Oktober 2026 | 21:57

Pegawai Bea Cukai Dedi Congor Mangkir Lagi

Jumat, 09 Oktober 2026 | 21:42

Selengkapnya