Berita

Nasaruddin Umar/Net

Membaca Tren Globalisasi (43)

Karakter Khusus Nilai Universal Islam: Pancasila Sebagai Melting Pot

SENIN, 21 JANUARI 2019 | 09:36 WIB | OLEH: NASARUDDIN UMAR

PANCASILA bisa menjadi sebuah contoh keakraban antara kearifan lokal dan aja­ran universal Islam. Univer­salitas nilai-nilai Islam tidak mesti harus dipertentangkan dengan nilai-nilai lokal. Nilai-nilai lokal yang sarat dengan nilai-nilai kemanusiaan se­sungguhnya dengan sendi­rinya menjadi nilai-nilai universal. Pancasila bagi bangsa Indonesia adalah sebuah rahmat Tuhan yang tak ternilai harganya, karena dengannya In­donesia mampu bertahan di atas berbagai tan­tangan dari dalam dan dari luar. Mungkin para founding fathers kita tidak pernah membayang­kan bahwa apa yang telah ditetapak secara mu­fakat berupa penentuan dasar negara melahirkan Indonesia indah seperti saat ini. Sementara nega­ra-negara muslim terbesar mengalami krisis kon­septual pasca kemerdekaannya tetapi Indonesia sudah menganggap selesai segala sesuatu yang berhubungan dengan dasar kebangsaan. NKRI sudah disepakati sebagai bentuk final bagi bang­sa Indonesia.

Kehadiran Pancasila sebagai melting pot ternyata bermuara pada terbentuknya masyarakat madani (baca: civil society) yang amat elegan bagi bangsa ini. Civil society di sini mengandung arti kecend­erungan untuk mewujudkan nilai-nilai Islami lebih dominan sebagai kosekuensi populasi umat Islam yang menduduki posisi mayoritas mutlak. Bukan­nya mengedepankan legal formalism segai negara Islam sebagaimana dibahas dalam kitab-kitab Fikih Siyasah. Penampilan civil society dalam arti terse­but lebih membuka diri untuk mengakomodir se­mua unsur yang ada dengan tetap memperhatikan unsur-unsur istimewa di dalam masyarakat. Kelom­pok inilah yang mempopulerkan istilah "masyarakat madani" sebagai wacana dalam kehidupan berbag­sa dan bernegara lima tahun terakhir ini. Kelompok ini terus mengkristal sehingga menjadikan NKRI se­makin kokoh.

Bangsa ini sangat berutung karena Islam yang dikembangkan di dalamnya ialah Islam yang dom­inan beraliran Ahlu Sunnah dengan mazhab fikih Syafii yang lebih dominan. Aliran dan mazhab ini berperan penting juga di dalam mewujudkan keindonesiaan yang moderat. Namun bangsa ini tetap harus waspada karena intensitas pemaha­man keagamaan masyarakat Indonesia cend­erung dipengaruhi mobilitas masyarakat yang se­makin tinggi. Tingkat kesejahteraan masyarakat Indonesia semakin membaik, memungkinkan warganya mengirim anak-anak mereka studi ke luar negeri semisal ke Timur Tengah atau ke Ero­pa dan AS. Kehadiran manusia cerdas memiliki potensi besar untuk memberikan pengaruh ke da­lam masyarakat, termasuk mempengaruhi pan­dangan keagamaan seperti aliran atau mazhab.


Doktrin dan daya tarik nuansa keagamaan ter­tentu yang dirasakan dan dialami di luar negeri bisa saja ikut menjadi faktor di dalam aktifitas alumni luar negeri tersebut. Apalagi ketika mereka bela­jar di luar negeri mendapatkan doktrin Khusus dari profesornya, seperti disinyalir adanya kekuatan itu di dalam masyarakat. Jika demikian adanya, maka tidak ada cara terbaik selain memperkokoh pema­haman dan penghayatan warga bangsa terhadap filosofi Pancasila. Mereka perlu diperkenalkan se­cara komprehensif bahwa kelahiran Pancasila ada­lah rahmat bagi bangsa Indonesia, bukannya laknat, sebagaimana pernah diperkenalkan oleh kelompok tertentu di dalam masyarakat.

Masalah agama adalah salahsatu faktor yang sangat sensitif di Indonesia. Ini dapat di­maklumi karena bangsa Indonesia termasuk penganut agama yang setia. Solidaritas agama biasanya mengalahkan ikatan-ikatan primordi­al lainnya, seperti ikatan kesukuan dan ikatan kekerabatan. Oleh karena itu, penataan antar umat beragama dalam kerangka negara kes­atuan Republik Indonesia perlu mendapatkan perhatian khusus. 

Populer

KPK Bakal Dalami Data Intelijen soal Dugaan Suap ke Purbaya dan Anggota Komisi XI DPR

Kamis, 27 Agustus 2026 | 02:24

KPK OTT Rektor Unsoed Prof Akhmad Sodiq

Jumat, 21 Agustus 2026 | 08:01

Dakwaan Lemah, Perkara Chromebook Murni Rekayasa

Kamis, 27 Agustus 2026 | 14:31

Profil Akhmad Sodiq, Rektor Unsoed yang Terjaring OTT KPK

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 09:02

Tidak Benar Menag Nasaruddin Umar Mundur

Rabu, 26 Agustus 2026 | 18:06

KPK Sebut Iptu Dias Tak Bisa Dijerat Dewas, Penanganan Etik Diserahkan ke Polri

Senin, 24 Agustus 2026 | 11:47

Belasan Teman Jokowi Bagusnya Batal Jadi Saksi Sidang soal Ijazah

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 03:14

UPDATE

Penjualan LCGC di Dealer Naik, Kiriman dari Pabrik Justru Turun

Minggu, 30 Agustus 2026 | 14:09

Putin-Prabowo Dijadwalkan Bertemu di Rusia pada 3 September

Minggu, 30 Agustus 2026 | 14:07

AHWA Pemilih Ketum PBNU Harus Bebas Konflik

Minggu, 30 Agustus 2026 | 13:40

Gegara Polis Dibatalkan, MSIG Life Hadapi Gugatan Rp20 Miliar

Minggu, 30 Agustus 2026 | 13:31

Kapolri Dorong Eks Anggota JI Jadi Mitra Polri Jaga Keutuhan NKRI

Minggu, 30 Agustus 2026 | 13:04

Gus Hans Minta AHWA Pilih Ketum PBNU Tanpa Intervensi

Minggu, 30 Agustus 2026 | 12:45

Indonesia Desak OKI Ambil Langkah Nyata Hadapi Kejahatan Israel

Minggu, 30 Agustus 2026 | 12:42

Sekolah Rakyat Jadi Cara Kemensos Jemput Bola Putus Mata Rantai Kemiskinan

Minggu, 30 Agustus 2026 | 12:17

Pasar Mobil Nasional Capai Setengah Juta Unit Pada Semester I 2026

Minggu, 30 Agustus 2026 | 11:46

Korut Rombak Jajaran Militer, Kim Song Gi Ditunjuk Jadi Menhan Baru

Minggu, 30 Agustus 2026 | 11:20

Selengkapnya