Berita

Ilustrasi/Net

Publika

Selamat Tahun Baru 2019

SENIN, 31 DESEMBER 2018 | 17:02 WIB | OLEH: ZENG WEI JIAN

In political science, Sebuah Revolusi (revolutio; "a turn around") merupakan perubahan fundamental dan 'relative sudden change' pada konstelasi political power. Biasanya, revolusi pecah akibat opresi penguasa di bidang politik, sosial dan ekonomi.

Aristotle (in book V Politics) menyebut dua type revolusi; Complete change dan modifikasi dari existing constitution.

Tahun 2019, Indonesia menghadapi revolusi konstitusional di Pilpres April. Rezim ini harus diganti.


"Revolusi 2019" tidak pernah bersifat seperti digambarkan Alexis de Tocqueville; A sudden & violent revolution to transform an entire society.

Dia lebih mendekati salah satu bentuk tipologi revolusi versi Mark Katz; "Revolution from above".

Rasa ingin perubahan itu hendaknya jangan distop atau dihancurkan dengan manipulasi, curang, hoax dan fitnah dari Status Quo.

In 1962, John F Kennedy berkata, "Those who make peaceful revolution impossible will make violent revolution inevitable".

Bagi oposisi, camkan ini: A peaceful non violent revolution is still A Revolution.

Bagi Chairman Mao Tse Tung, "A revolution is not a dinner party, or writing an essay, or painting a picture, or doing embroidery; it cannot be so refined, so leisurely and gentle, so temperate, kind, courteous, restrained and magnanimous".

Revolusi bukan pesta-pesta makan, dansa-dansi, menulis curhat, menyulam, gossiping atau melukis.

Revolusi ialah gerakan insureksi kekuasaan dari tangan rezim hoaxer yang berpilar para penoda agama Islam. Rakyat lapar, sembako dan BBM naik, mereka ngajak Prabowo-Sandi tanding ngaji di Aceh. Mengkeret saat ditantang balik adu push up atau menembak. Konyol...!!

Mengadopsi five-stage strategy George Lakey dalam bukunya "A Manifesto for Nonviolent Revolution" (1973): Cultural preparation, Building Organization, Confrontation, Mass Non Cooperation, Developing Parallel Institution.

Persiapan kultural sudah dimulai sejak Ahok menista agama dan "legalisasi" kelompok Islam-Nusantara. Pembentukan organisasi dan networking, Konfrontasi, Perlawanan massal berkesinambungan dan mengembangkan institusi paralel merupakan tahapan alamiah pasca 2016.

Maintaining the "ghiroh" is our task. Euforia kemenangan Pilkada Jakarta trigger apa yang disebut Vladimir Lenin sebagai "Left Wing Communism's Infantile Disorder".

Semua orang cari panggung. Pengen ngetop. Karena dikiranya, popularitas kunci sedot duit. Fitnah sana-sini. Mainkan kartu rasisme Anti China, Anti Kristen, Anti Amerika dan sebagainya. Sok jago. Inbox penuh dengan nyinyir dan character assasination.

Alhasil, basis fundamental Jabar, Jateng, Jatim lepas.

Opposition failed the test of time and minor victory. Deklarasi Prabowo-Sandi menjadi momentum pertama memperbaiki dan evaluasi diri.

Singkirkan sampah dan benalu. Those who seek fame & fortune on revolutionary wave dan aktifisme politik.

Memasuki tahun baru 2019 adalah momentum kedua evaluasi diri. Perkuat diri. Ingat sisa waktu perang hanya 100 hari. "If you want to make this year better, make each minute better," kata Saji Ijiyemi.

Perkuat solidaritas dan devotion to the revolution. Fokus. Pertajam pisau analisa. Dinginkan kepala. Tambah disiplin, tenacity, self-sacrifice, heroism, dan perluas komunikasi dengan semua lapisan rakyat. Mau kafir, mau kaya, mau kere. Biarin. Yang penting Pro Prabowo-Sandi.

Ikuti komando yang benar. Stop sok pinter dengan anjuran stop serang Paslon Ko-Ruf No. 1 dan hanya berkutat pada branding. Itu tugasmu. Bukan tugas yang lain. Jangan campuri job desk orang lain.

If you think you are smart enough, think twice. You are not Erick Tohir nor Jenderal Joko Santoso.

Akhir kata, Selamat Tahun Baru 2019. Mengutip statement Akilnathan Logeswaran; "Let us celebrate the dates on which we change the world".[***]
Penulis adalah aktivis Komunitas Tionghoa Anti Korupsi (Komtak).

Populer

Permohonan Pengosongan Rumah Anak Zulhas Diajukan ke PN Jaktim

Rabu, 01 April 2026 | 18:05

Kehadiran Anies di Cikeas Jadi Masalah Serius

Jumat, 27 Maret 2026 | 02:08

Mengapa Kapal Pertamina Tidak Bisa Lewat Selat Hormuz?

Sabtu, 28 Maret 2026 | 02:59

SBY Menolak Silaturahmi Lebaran Anies?

Jumat, 27 Maret 2026 | 03:43

Nasib Hendrik, SPPG Ditutup, 150 Karyawan Diberhentikan

Jumat, 27 Maret 2026 | 06:07

Dubai Menuju Kota Hantu

Selasa, 31 Maret 2026 | 13:51

KPK Klaim Status Tahanan Rumah Yaqut Sesuai UU

Jumat, 27 Maret 2026 | 12:26

UPDATE

Menteri Ekraf: Kreativitas Tak Bisa Dihargai Nol atau Dipatok

Jumat, 03 April 2026 | 20:06

Pelaku Penembakan Rombongan Tito Karnavian Diringkus

Jumat, 03 April 2026 | 19:59

Harga Plastik Dalam Negeri Meroket, Ini Kronologinya

Jumat, 03 April 2026 | 19:42

Kapolda Riau Perketat Penanganan Karhutla Hadapi Ancaman Super El Nino

Jumat, 03 April 2026 | 19:18

Upacara Penghormatan UNIFIL untuk Tiga Prajurit TNI di Lebanon

Jumat, 03 April 2026 | 19:01

Labirin Informasi pada Perang Simbolik

Jumat, 03 April 2026 | 18:52

KPK Siapkan Pemeriksaan Ono Surono Usai Penggeledahan

Jumat, 03 April 2026 | 18:35

BNPB: Tidak Ada Tambahan Korban Gempa Magnitudo 7,6 Sulut dan Malut

Jumat, 03 April 2026 | 18:31

Resiliensi Bangsa: Dari Mosi Integral 1950 hingga Geopolitik Kontemporer 2026

Jumat, 03 April 2026 | 18:03

FWP Polda Metro Hibur Anak Yatim ke Wahana Bermain

Jumat, 03 April 2026 | 17:45

Selengkapnya