Berita

Foto: Dok

Suku Asli Papua Sandingkan Adat Dengan Inovasi Saat Tanam Padi

RABU, 19 DESEMBER 2018 | 04:37 WIB | LAPORAN:

Negeri di ufuk timur bernama Papua tak pernah kehilangan cerita untuk diangkat atas kekhasan budaya masyarakatnya, Tak terkecuali kebiasaan mereka bertani.  Walaupun secara kultural padi bukanlah tanaman adat bagi suku Marind yang tinggal di wilayah Merauke, namun mereka tetap menanam padi setiap musim tanam, khususnya pada musim hujan,

Seperti pada masyarakat yang berada di Kampung Senayu, salah satu kampung yang mayoritas penduduknya adalah masyarakat lokal Papua. Suku Marind merupakan penduduk asli Distrik Kimaam, Pulau Yos Sudarso. Demi sebuah harapan hidup yang baru mereka bermigrasi ke berbagai kampung yang berada di Distrik Merauke.

“Mereka mengembangkan pertanian padi organik.  Mereka bercocok tanam padi secara berkelompok dalam lingkup keluarga dengan target untuk memenuhi kebutuhan pangan keluarga,” ujar Kepala BPTP Balitbangtan Papua, Thamrin, Selasa (18/12).


Pria yang juga bertugas sebagai penanggung jawab program UPSUS Pajale Papua tersebut mengatakan bahwa beberapa waktu lalu Ia berkesempatan mengikuti program tanam padi di Kampung Senayu. Meskipun lahan yang ditanami tidak luas, namun petani menurutna tetap mengupayakan produksi tetap maksimal melalui pengaturan jarak tanam.

"Penanaman dilakukan dengan cara tugal-tanam benih langsung (tabela), sambil menunggu masuknya musim hujan," ungkapnya.

Thamrin menjelaskan bila saat ini tercatat luas lahan sawah yang dikelola oleh masyarakat lokal di Merauke sebesar 3.400 hektare, dimana 10% dari total luas baku lahan sawah di Merauke berkontribusi dalam produksi beras khususnya untuk kebutuhan lokal. Ia juga mengungkapkan bahwa sebagian besar lahan yang digarap oleh petani masih sebatas indeks pertanaman 100 karena lahan tersebut merupakan area tadah hujan.

"Indeks pertanaman lahan tersebut masih berpotensi ditingkatkan, melalui perbaikan infrastruktur pengairan, bantuan mekanisasi serta program lainnya yang berbasis masyarakat," katanya.

Sistem bercocok tanam dengan metode Tabela menjadi sebuah pilihan di lahan tadah hujan di Kabupaten Merauke Papua.  Lahan tadah hujan serta kondisi agro ekosistem yang beragam menyebabkan pendekatan budidaya padi bervariatif antar lokasi termasuk cara tanam.  Sebagian petani menurut Thamrin memilih menanam dengan cara tanam pindah (tapin) sebagian lagi dengan tabela.  

"Kelebihan sistem budidaya padi gogo rancah dibandingkan tapin adalah kebutuhan air pada awal tanam minim, penghematan tenaga kerja tanam dan biaya awal produksi dapat lebih efisien," jelasnya.

Pola tanam tabela dengan pendekatan gogo rancah saat sebelum memasuki musim hujan juga dilakukan oleh petani yang berada di Kampung Isanombias, Distrik Tanah Miring, Merauke. Kampung Isanombias merupakan salah satu wilayah andalan pengembangan padi di Distrik Tanah Miring dengan luas baku lahan mencapai 1.325 hektare.

"Berbeda dengan kebiasaan di Kampung Senayu, Hampir seluruh lahan indeks pertanamannya mencapai 200. Saat ini petani membutuhkan dukungan mesin pertanian, seperti traktor roda empat, mesin panen, dan pompa air untuk percepatan tanam," jelas Thamrin.

Pada aspek varietas, teknologi padi dari Balitbangtan telah masuk di Isanombias melalui penggunaan varietas Inpari 32 HDB dan Inpari 42. Pada periode tanam Okmar 2019, Balitbangtan akan melakukan uji varietas untuk lahan rawa di daerah tersebut, seperti Inpara 3 dan Inpara 8 di lahan petani. Dengan perbaikan teknologi melalui penggunaan varietas unggul baru padi dan teknologi budidaya lainnya diharapkan mampu meningkatkan produktivitas padi secara signifikan ditingkat petani. [jto]

Populer

Permohonan Pengosongan Rumah Anak Zulhas Diajukan ke PN Jaktim

Rabu, 01 April 2026 | 18:05

Kehadiran Anies di Cikeas Jadi Masalah Serius

Jumat, 27 Maret 2026 | 02:08

Mengapa Kapal Pertamina Tidak Bisa Lewat Selat Hormuz?

Sabtu, 28 Maret 2026 | 02:59

SBY Menolak Silaturahmi Lebaran Anies?

Jumat, 27 Maret 2026 | 03:43

Nasib Hendrik, SPPG Ditutup, 150 Karyawan Diberhentikan

Jumat, 27 Maret 2026 | 06:07

Dubai Menuju Kota Hantu

Selasa, 31 Maret 2026 | 13:51

KPK Klaim Status Tahanan Rumah Yaqut Sesuai UU

Jumat, 27 Maret 2026 | 12:26

UPDATE

Prabowo-Pramono Pasangan Kuat Luar Dalam

Sabtu, 04 April 2026 | 06:08

Ancaman Cuaca Ekstrem dan Air Bersih Warga

Sabtu, 04 April 2026 | 05:40

Batas ‘Scroll’ Anak

Sabtu, 04 April 2026 | 05:14

Jangan Keliru Pahami Langkah Prabowo soal Kunjungan ke Luar Negeri

Sabtu, 04 April 2026 | 05:12

Vicky Mundur dari Polisi, Kasus yang Ditangani juga Ikutan Mundur

Sabtu, 04 April 2026 | 04:38

Satu Orang Tewas Imbas Kecelakaan Beruntun di Tol Solo-Semarang

Sabtu, 04 April 2026 | 04:03

Negara Harus Tegas atas Gugurnya Tiga Prajurit TNI

Sabtu, 04 April 2026 | 04:00

Mobil Tertimpa Pohon Tumbang di Bandung, Sopir Tewas

Sabtu, 04 April 2026 | 03:38

IAW Peringatkan Potensi Kebocoran Lebih Besar di Bea Cukai

Sabtu, 04 April 2026 | 03:26

Dedi Mulyadi Lunasi Tunggakan Gaji Pegawai Bandung Zoo

Sabtu, 04 April 2026 | 03:03

Selengkapnya