Berita

Publika

Eksodus Pengusaha Tionghoa Ke Kubu Prabowo

SABTU, 08 DESEMBER 2018 | 17:20 WIB

MEREKA memang bukan dari kelas konglomerat. Mereka tak masuk dalam daftar orang terkaya di Indonesia. Tetapi, mereka malam tadi (7 Desember 2018) menunjukkan secara terang-terangan bahwa mereka telah menerobos "garis takut" (line of fear). Yaitu, garis yang selama ini mengekang para pengusaha Tionghoa untuk menyatakan dukungan lugas, tegas dan bernas kepada Prabowo Subianto (PS).

Mereka tidak ragu-ragu lagi mengucapkan "Semoga Pak Prabowo Subianto menjadi presiden pada tahun 2019." Diaminkan oleh sekitar seribu orang yang hadir.

Mereka katakan itu di depan acara Gala Dinner yang bertajuk "Tionghoa & Bisnis Di Mata Prabowo Subianto" di SunCity, Jakarta. Acara bertujuan untuk mengumpulkan donasi kampanye Prabowo. Dalam suasana yang tenang. Tanpa rasa was-was diinteli. Tidak ada lagi ketakutan itu.


Inilah awal dari gelombang eksodus pengusaha Tionghoa ke kubu Prabowo. Saya sebut eksodus karena selama ini asumsi umum yang diyakini adalah bahwa semua pengusaha Tionghoa pasti mendukung Jokowi.

Bagi saya, ini merupakan satu lagi pertanda 'pemberontakan' terhadap kepresidenan Jokowi. Terhadap slogan "Jokowi adalah kita." Ini tidak mudah dilakukan. Saudara-saudara kita pengusaha Tionghoa itu memberontak dengan resiko besar. Tapi mereka nekat. Tak perduli lagi apa pun akibatnya.

Nah, mengapa mereka lakukan itu? Pasti ada masalah yang sangat fundamental terkait dengan pemerintahan Jokowi. Soal kebijakan ekonominya. Juga kebijakan politiknya yang dianggap membahayakan bangsa dan negara. Yang membahayakn kedaulatan dan mengancam persatuan nasional. Saudara-saudara dari etnis Tionghoa sudah melihat bahaya itu dengan jelas.

Itulah sebabnya mereka pindah ke capres yang paham mengelola bangsa dan negara yang kaya dan beragam ini. Mereka menaruh keyakinan bahwa PS bisa mencegah kehancuran labih lanjut. PS mengerti cara untuk memulihkan situasi yang centang prenang saat ini.

Mereka menerobos garis takut itu bukan sekadar menghibur PS. Bukan ikut-ikutan untuk menunjukkan bahwa mereka perduli pada capres lawan Jokowi. Ini bukan taktik pasang dua kaki.

Mereka tahu persis akibat menerobos garis takut itu. Kalau mereka berstrategi dua kaki, pasti itu mereka lakukan secara sembunyi-sembunyi. Tidak secara terbuka. Di acara Gala Dinner malam tadi, komunitas pengusaha Tionghoa itu sengaja menunjukkan kepada Jokowi bahwa mereka betul-betul ingin PS yang memimpin Indonesia. Ingin PS menjadi presiden. Mereka berkampanye di situ.

Apakah hanya pura-pura? Tak mungkinlah! Suasana di Gala Dinner itu sangat natural. Alami. Ibu-ibu, gadis-gadis, dan para remaja wanita Tionghoa monadr-mandir, lompat-lompat kegirangan untuk berswafoto (selfie) dengan PS. Mereka langsung buat postingan medsos dengan foto selfie itu. Semuanya berlangsung apa adaya. Tidak ada yang kaku. Semua genuine. Tulus.

Siapakah mereka? Rata-rata mereka adalah pengusaha menengah bawah. Tidak beromset besar, tetapi kehidupan mereka mapan. Mereka adalah para pengusaha yang telah, sedang, dan bakal terkena dampak langsung kebijakan ekonomi Jokowi yang tidak memihak rakyat.

Acara itu tidak hanya meriah, melainkan juga menohok. Menohok bagi Jokowi. Ini merupakan pesan langsung kepada Jokowi bahwa warga Tionghoa tidak lagi bisa diajak berkolusi untuk kehancuran. Mereka menyadari kekeliruan. Dan ingin memperbaiki kekeliruan itu. Ingin menyampaikan pesan kepada seluruh pihak bahwa sekarang tidak ada lagi dukungan tanpa syarat untuk Jokowi.

No more blank cheque untuk Jokowi. Tidak ada lagi cek bebas tulis untuk Jokowi dari komunitas Tionghoa.   

Secara simbolis, para pengusaha menengah itu menyerahkan bantuan Rp 425 juta untuk kegiatan pemenangan PS. Memang jumlah itu kecil dibandingkan keperluan kampanye PS. Tetapi, beban psikologis yang ditimpakannya kepada Jokowi bagaikan seberat 425 metrik ton.

Tak berlebihan juga untuk mengatakan bahwa Gala Dinner pengusaha Tionghoa malam tadi adalah "bom cluster" yang dijatuhkan ke kubu Jokowi. Langsung kocar kacir. Banyak yang luka berat. Para komandan menjadi panik. Tekanan darah pun naik.

Saya memperkirakan, setelah seribuan warga Tionghoa menerobos garis takut dan menyatakan dukungan untuk Prabowo, bakal ada lagi acara yang sama. Akan muncul lagi komunitas Tionghoa lainnya yang pindah secara massal ke kubu Prabowo.

Eksodus komunitas Tionghoa dari kubu Jokowi telah dimulai. [***]   

Asyari Usman
(Wartawan senior)

Populer

AHY dan Ibas Dilaporkan ke KPK Buntut Lonjakan Harta

Senin, 06 Juli 2026 | 14:49

Penggunaan Gedung Kemenhut oleh PSI Berpotensi Melanggar Hukum

Minggu, 28 Juni 2026 | 00:26

Kafe Diduga terkait Jampidsus Digeledah

Rabu, 08 Juli 2026 | 16:36

Terima Kasih Bang Refly, Nama Saya Sudah Diubah jadi ‘Si Udin’

Selasa, 07 Juli 2026 | 03:14

Karier Gila-gilaan Mufli Budi Ananda: Dari Asisten Raffi Ahmad Jadi Komisaris Krakatau Posco

Senin, 29 Juni 2026 | 00:00

Pengacara Nadiem Makarim Dilaporkan ke Peradi Buntut Ucapan "Yang Mulia Takut Ya"

Senin, 06 Juli 2026 | 18:36

Jokowi Tinggalkan Jejak Buruk bagi Masyarakat Adat Lampung

Rabu, 01 Juli 2026 | 04:23

UPDATE

Rayakan HUT Perusahaan Lewat Santunan Anak Yatim

Kamis, 09 Juli 2026 | 01:59

Polisi Geledah Rumah terkait Kasus Dugaan Korupsi Kejagung, 74 Kg Emas Diamankan

Kamis, 09 Juli 2026 | 01:40

Ketahanan Energi Indonesia Masih Pincang Tanpa Ada Cadangan Strategis

Kamis, 09 Juli 2026 | 01:12

Polisi Geledah 12 Titik Kasus Korupsi, Rumah Mewah Jampidsus Tidak Termasuk

Kamis, 09 Juli 2026 | 00:50

Peradi Profesional Catat Rekor Kerja Sama dengan 112 Perguruan Tinggi

Kamis, 09 Juli 2026 | 00:45

IPW Dukung Polri Usut Dugaan Korupsi di Lingkungan Kejagung

Kamis, 09 Juli 2026 | 00:26

Yogyakarta dan Takdir Dirgantara

Kamis, 09 Juli 2026 | 00:01

Kritik terhadap Pemerintah Bagian dalam Kehidupan Demokrasi

Rabu, 08 Juli 2026 | 23:41

Pertamina Berdayakan Difabel Kampung Rajut Inspirasi Green Warrior Bandung

Rabu, 08 Juli 2026 | 23:18

Polisi Sita Uang Miliaran Rupiah Usai Geledah Kafe dan Money Changer di Cipete

Rabu, 08 Juli 2026 | 23:14

Selengkapnya