Berita

Erick Thohir/Net

Publika

Erick, Republika Dan Nilai Berita

JUMAT, 07 DESEMBER 2018 | 07:58 WIB

DALAM kajian komunikasi massa dipelajari mekanisme produksi media, didalamnya diterangkan faktor-faktor pengaruh dalam penentuan nilai berita, dan nilai berita pulalah yang secara objektif menjadi pengatur penempatan dari tingkat urutan dalam refleksi urgency.

Pendek kata, penentuan headline dan berita samping, terletak pada signifikansi nilai berita.

Menarik mencermati artikel E.Talk, tulisan Erick Thohir berjudul Saya, Republika dan 212 (6/12) yang seolah hendak menempatkan duduk dan letak kesetimbangan, antara dirinya yang kini berposisi sebagai Ketua Tim Pemenangan Jokowi-Ma'ruf dalam kancah politik dengan Republika sebagai media massa yang dimilikinya yang selama ini dipersepsikan mewakili kepentingan umat Islam, serta sikap positioning media tersebut berhadapan dengan momentum monumental Reuni Aksi 212.


Tentu sebagai media yang sudah 26 tahun malang melintang dipanggung jurnalistik nusantara, maka Republika dan awak medianya tidak perlu diragukan kompetensi serta profesionalitasnya, tetapi mungkin penting untuk melakukan penyegaran ulang atas makna nilai berita yang menjadi panduan dalam penyusunan tata urut kepentingan pemberitaan.

Tentu naif bila kita melepaskan konsensus akademik, dalam koridor ilmu jurnalistik lantas mengabaikannya begitu saja.

Secara singkat, Erick hendak menyatakan bahwa posisi Republika tidak terkait dengan posisi dirinya saat ini dalam keriuhan Pilpres 2019, netralitas dan objektivitas adalah nafas serta panduan kerja media. Hal tersebut terlihat dengan pemuatan berita Reuni Aksi 212 pada halaman muka dengan ilustrasi gambar akan peristiwa akbar tersebut.

Di sisi lain, Erick berbicara tentang kebijakan redaksional yang berbeda antar media. Pada titik tersebut, agaknya menjadi penting bagi Erick, dalam hemat penulis untuk merefleksikan persoalan penting terkait aspek nilai berita pada konteks sebuah media massa.

Produksi Nilai

Pertimbangan atas nilai berita adalah domain dari judgement redaksi, namun ada pakem yang berlaku sebagai pedoman. Di antaranya, (1) persepsi publik dan (2) aksesibilitas konten berita itubsendiri sebagai sebuah materi. Penjabaran dari kombinasi kedua hal tersebut lalu turun kedalam berbagai indikator lain, semisal (1) size -jumlah ukuran, (2) importance -kepentingan publik, (3) proximity -keterlekatan jarak, (4) recency -keterbaharuan dan (5) elite -keterlibatan figur, tentu masih ada berbagai kriteria lain dalam banyak referensi keilmuan.

Sehingga, nilai berita adalah formulasi dari berbagai indikator serta kriteria-kriteria tersebut.

Reuni aksi 212 yang telah usai, dalam berbagai aspek alat ukur sebuah media massa tentu memiliki nilai berita, permasalahan selanjutnya apakah layak menjadi artikel utama? Maka kita urai berdasarkan masing-masing kriteria, jumlahnya masif ada kuantitas yang sangat besar. Anda bisa perdebatkan angkanya tetapi tampilan visual dapat memberikan ilustrasi empirik bahwa kegiatan tersebut memang berskala akbar.

Aksi kali ini berlangsung di jantung Ibukota, dengan segala kemudahan akses peliputan tentunya. Lebih jauh lagi, ada hal penting di sana, ekspresi kumpulan yang dahsyat tersebut bertemu dalam gagasan, hemat penulis, tentang wajah Islam yang akhir-akhir ini dipandang secara diametral dan terpisah.

Diksi tentang anti pancasila, anti NKRI, teroris dan radikal adalah sebuah pernyataan yang kerapkali dilontarkan kepada mayoritas muslim dinegeri ini, penuh kecurigaan.
Bukankah reuni aksi 212 bernuansa politis? Bisa jadi dan sangat mungkin, konfigurasi para elit yang hadir merepresentasikan peta politik nasional, tapi belum tentu sifatnya korelasional, dalam keragaman massa yang terlibat akan sulit membuat motif tunggal, dan mungkin pula motif politik menjadi tidak dominan dibandingkan keresahan dari apa yang dirasakan para peserta reuni.

Satu hal yang pasti, adalah sebuah kesulitan yang teranat besar saat ini, termasuk bagi parpol untuk mampu memobilisasi massa secara sukarela dan bersifat massif.

Perspektif berbeda mungkin saja dapat disampaikan, karena memang cara melihat dan sudut pandang akan sangat bergantung darimana dan pada posisi seperti apa Anda melihat suatu peristiwa. Interpretasi bisa sangat multitafsir dan jamak. Tapi seolah memandang reuni aksi 212 sama sekali tidak memiliki nilai berita adalah sebuah kekeliruan fatal, Republika relatif cukup aman dalam hal ini, karena masih mencoba membuka ruang beritanya.

Bias Netralitas


Pemberitaan memproyeksikan sebuah realitas, membangun narasi. Pilihan logisnya bisa dalam berbagai kemungkinan, (1) memotret realitas sebagaimana adanya, (2) mengaburkan realitas, (3) menyembunyikan realitas dan (4) melepaskan realitas, lantas kita mengenal citra sebagai gambaran imajinasi.

Bila media mulai bermain pada tataran konsepsi di bagian-bagian akhir dalam frame sebagaimana uraian tipologi diatas, kita tentu menyayangkan, karena potensi besarnya untuk menjadi medium sekaligus alat pencerahan.

Akankah pemberitaan bersifat netral, dalam makna objektif? Banyak sekali varian jawabannya. Tetapi bisa dipastikan sulit mencapai netralitas absolut, media massa bagaimanapun adalah  industri yang berbicara tentang valuasi angka.

Lebih jauh lagi, angka tidak lepas dari kepentingan dan ketertarikan khalayak. Lalu mengapa ada media yang sama sekali mem-blackout sebuah peristiwa yang memiliki nilai berita? Jawabnya terletak di tangan para pemilik dan tangan-tangan kekuasan.

Mengapa begitu? Redaksi adalah medan pertempuran wacana, dimana gagasan dilontarkan berdasarkan azas rasionalitas yang spesifik. Tetapi hasil akhirnya invisible hand lah yang menentukan. Lantas siapa yang menjadi tangan tidak terlihat itu? Sang sutradara ada dibalik layar, bahkan agak jauh dari meja redaksi. Mereka adalah para penentu.

Jadi, meskipun artikel Erick Thohir mencoba memposisikan dirinya terpisah dari pilihan redaksional, amat sangat sulit melihat hal tersebut sebagaimana yang diharapkannya. Tapi hal itu merupakan sebuah sikap dan konsekuensi atas pilihan yang telah diputuskan, kita tentu menghormatinya, namun mampu memahami apa yang tersirat dan tidak tertulis dalam bacaan tersebut.[***]


Yudhi Hertanto

Program Doktoral Ilmu Komunikasi Universitas Sahid

Populer

Permohonan Pengosongan Rumah Anak Zulhas Diajukan ke PN Jaktim

Rabu, 01 April 2026 | 18:05

Kehadiran Anies di Cikeas Jadi Masalah Serius

Jumat, 27 Maret 2026 | 02:08

Mengapa Kapal Pertamina Tidak Bisa Lewat Selat Hormuz?

Sabtu, 28 Maret 2026 | 02:59

SBY Menolak Silaturahmi Lebaran Anies?

Jumat, 27 Maret 2026 | 03:43

Kapolri Diminta Turun Tangan terkait Kasus Temuan Senpi di Bekasi

Sabtu, 04 April 2026 | 02:17

Nasib Hendrik, SPPG Ditutup, 150 Karyawan Diberhentikan

Jumat, 27 Maret 2026 | 06:07

Dubai Menuju Kota Hantu

Selasa, 31 Maret 2026 | 13:51

UPDATE

Diminati Klub Azerbaijan, Persib Siap Lepas Eliano Reijnders?

Sabtu, 04 April 2026 | 15:58

Investasi Emas untuk Keuntungan Maksimal: Mengapa Harus Disimpan dalam Jangka Panjang?

Sabtu, 04 April 2026 | 15:37

Harga Plastik Melonjak, Pengamat Ingatkan Dampaknya Bisa Lebih Berbahaya dari BBM

Sabtu, 04 April 2026 | 14:49

DPR Minta ASN yang WFH Dipantau Ketat!

Sabtu, 04 April 2026 | 14:31

Komisi V DPR Minta Pemerintah Lakukan Pemilihan Terdampak Gempa Sulut-Malut

Sabtu, 04 April 2026 | 14:00

DPR Minta Pemda Pertahankan Guru PPPK Paruh Waktu di Tengah Efisiensi Anggaran

Sabtu, 04 April 2026 | 13:47

Trump Digugat Dua Lusin Negara Bagian Terkait Pemilu

Sabtu, 04 April 2026 | 13:24

Daftar Tayang Bioskop April 2026: Dari Petualangan Galaksi Mario hingga Ketegangan Horor Lokal

Sabtu, 04 April 2026 | 13:22

Ledakan di Markas PBB Lebanon Kembali Lukai 3 Prajurit TNI, 2 Luka Serius

Sabtu, 04 April 2026 | 13:01

Sindiran Iran ke AS Menggema di Tengah “Pembersihan” Pentagon

Sabtu, 04 April 2026 | 12:51

Selengkapnya