Berita

Spanduk bertulis, “Don’t Believe The Liberal Media!"/Net

Politik

Musuh Orang Banyak

KAMIS, 06 DESEMBER 2018 | 16:26 WIB | OLEH: ZENG WEI JIAN

TRUMP menyebut liberal media “highly slanted”, “fake news”, dan “the enemy of the American people”.

Sewaktu penetapan capres tahun 2016, di Gedung Republican National Convention-Cleveland, ada spanduk besar bertuliskan: “Don’t Believe The Liberal Media!”.

Media memihak Hillary. Trump di-bully dan difitnah. Basisnya, universal irrational dislike towards Trump. Setiap hari kerjanya supercharge the myth seputar Trump.


Pada dasarnya, liberal media benci seorang American Nationalist seperti Trump.

Sudah lama mereka begitu. Presiden Richard Nixon mendeskripsikan mainstream media (MSM) sebagai ”liberal boogeyman” atau hantu.

Di Indonesia, ada kolaborasi aneh; taipan, birokrasi, liberal, komunis, syiah, dan media. Target mereka; isolasi hard-liner conservatist orthodox muslim groups.

Reuni 212 (Aksi Bela Tauhid) merupakan pengumpulan massa terbesar sepanjang Indonesia modern. Baik kuantitas massa dan kualitasnya masuk kategori dahsyat...!!

Jutaan orang, tertib, bersih, tidak ada taman rumput yang rusak, no hatespeech, dan civilized.

Anehnya, liberal mainstream media berusaha menyembunyikan fenomena Aksi Bela Islam.

Pasca Orde Baru sampai Rezim Obama collapse, jurnalis Indonesia mengalami their own revolution. Mereka support the separation of mosque and state and reject militant Islam. Tidak heran, Ahok di- blow up secara extravagant.

Media pers disebut the fourth estate (fourth power atau kekuatan ke empat). Sekali pun tidak masuk dalam sistem politik formal, mereka punya kapasitas mengarahkan opini publik.

They have explicit capacity of advocacy and implicit ability to frame political issues.

Menggelapkan fenomena Aksi Bela Tauhid (Reuni 212) punya dua dimensi target. Melindungi kekuasaan Jokowi dan men-downgrade Pak Prabowo. Universal irrational dislike terhadap Prabowo dan Islam adalah basis psikologinya.

Sangat berbahaya saat kekuatan modal dan ideology secular menguasai media pers. Plus, halusinasi soal kekuatan "Islam Militan" yang hendak mengubah Pancasila dan NKRI.

Oposisi, semua loyalis Prabowo dan Muslim harus bangkit melawan koptasi media sinting.

Kekuasaan itu tamak. Duit berlimpah. Jangan sampai liberal mainstream media menjadi ”the enemy of the Indonesian people”. [***]

Penulis adalah aktivis Komunitas Tionghoa Anti Korupsi (Komtak)


Populer

KSAD Maruli: Saya Minta Maaf dan Bertanggung Jawab

Jumat, 04 September 2026 | 20:28

Advokat Pitra Romadoni Dipanggil Polres Bogor

Rabu, 09 September 2026 | 01:15

Mengenal Pantas Sutardja, Orang Super Kaya AS Berdarah Indonesia

Kamis, 10 September 2026 | 05:04

Masa Jabatan Gibran Tinggal Hitungan Hari

Kamis, 03 September 2026 | 14:46

KPK Periksa Karyawan PT SCGU

Selasa, 08 September 2026 | 15:34

Purbaya Bantah Terima Suap untuk Pertahankan Pejabat Bea Cukai

Sabtu, 05 September 2026 | 16:59

Usai Dimaafkan Jusuf Hamka, KAKI Dorong Polri Buka Kembali Kasus NCD Unibank

Sabtu, 05 September 2026 | 19:53

UPDATE

Perdana sebagai Anggota Penuh, Prabowo Hadiri KTT BRICS di India

Sabtu, 12 September 2026 | 12:20

Serda Ahmad Muzammil Tewas, POMAU Periksa 4 Personel

Sabtu, 12 September 2026 | 12:06

Menteri Imipas Penuhi Janji, 82 WNI Dipulangkan dari Malaysia

Sabtu, 12 September 2026 | 11:52

Kemendikdasmen Prioritaskan Revitalisasi Ribuan Sekolah, Ini Kategorinya

Sabtu, 12 September 2026 | 11:37

Pertamina Patra Niaga Tingkatkan Pasokan BBM ke SPBU Sulsel

Sabtu, 12 September 2026 | 11:28

Soal Life Jacket yang Ditemukan, Pemilik Kapal Buka Suara

Sabtu, 12 September 2026 | 11:10

Hari Pelanggan, Manfaat Perlindungan Kesehatan Tembus Rp1,1 Triliun

Sabtu, 12 September 2026 | 11:01

LRT Jabodebek Beroperasi Normal Usai Gempa M5,9 Guncang Jakarta

Sabtu, 12 September 2026 | 10:50

Emas Antam Naik di Akhir Pekan, Satu Gram Jadi Segini

Sabtu, 12 September 2026 | 10:45

DPR Desak Usut Tuntas Penembakan Tiga Pegawai Pertanian Jayawijaya

Sabtu, 12 September 2026 | 10:28

Selengkapnya