Berita

Nasaruddin Umar/net

Peristiwa Kontroversi Yang Dilakukan Nabi Dan Sahabat (28)

Melatih Keluarga Disiplin Dan Tegar

KAMIS, 29 NOVEMBER 2018 | 09:02 WIB | OLEH: NASARUDDIN UMAR

Para isteri Nabi masing-masing merasakan dia paling dicintai Nabi. Nabi pun mera­sakan sebaliknya, semua isterinya mencintainya den­gan penuh keistimewaannya masing-masing. Salahsatu faktor terwujudnya rasa cinta dan kagum terhadap pasan­gan suami isteri karena kon­sisten menjalankan nilai-nilai kerumahtanggaan secara disiplin. Nabi juga mengingatkan anggota keluarganya agar tahan terhadap berbagai kritik. Nabi mengajarkan: Jika seseorang mengeritiknya maka ia bermohon kepada Allah Swt: Ya Allah jika kritikannya benar ampuni dosa kami, dan jika kri­tikannya keliru ampuni dia". Seorang tokoh publik figur harus bersedia dikritik.

Ibnu Abbas meriwayatkan kisah fenomenal dari sosok Luqmanul Hakim, seorang manusia biasa yang pekerjaan sehari-harinya pencari kayu bakar di Habsy. Ia bukan Nabi, bukan Ra­sul, bukan bangsawan, dan bukan pula ulama besar. Ada riwayat menyebutkan ia seorang ha­kim di zaman Nabi Daud. Riwayat lain menye­butkan ia hidup sesudah Nabi Isa sebelum Nabi Muhammad lahir. Ia memiliki banyak kelebihan di balik kesederhanaannya sehingga namanya diabadikan di dalam Al-Qur'an sebagai Surah Luqman. Menurut Ibnu Katsir, nama panjang Luqman ialah Luqman bin Unaqa' bin Sadun. Ia digambarkan bertubuh pendek dan berhidung mancung dari Nubah dan ada juga yang ber­pendapat ia berasal dari Sudan.

Ketika Luqmanul Hakim masuk ke dalam pasar menaiki seekor himar (keledai), sedangkan anaknya mengikuti dari belakang. Melihat tingkah laku Luqman, ada sekumpulan orang yang ber­kata: "Lihatlah orang tua yang tidak punya peras­aan, ia keenakan sementara anaknya berjalan kaki". Setelah mendengarkan kata-kata itu, maka Luqman turun dari atas keledai lalu anaknya di­suruh naik ke atas keledai, sedangkan ia sendiri berjalan kaki. Melihat kenyataan itu, maka orang-orang pasar kembali mencemooh: "Lihat orang tua itu, ia berjalan kaki sedangkan anaknya keena­kan di punggung keledai, sungguh anak itu tidak tahu malu". Mendengar itu maka Luqmanul Hakim juga naik ke atas keledai bersama-sama anaknya. Orang-orang pasar kembali mencemooh: "Lihat itu ada dua orang menaiki seekor keledai, sung­guh menyiksa keledai itu". Karena tidak suka men­dengar cemoohan itu maka Luqmanul Hakim dan anaknya turun dari keledai. Orang-orang pasar kembali mencibir: "Lihat itu, dua orang berjalan kaki, sedangkan keledai tidak dikendarai".


Pelajaran berharga yang dapat dipetik dari Luqmanul Hakim ialah, keritik dan hujatan dari orang lain terhadap penampilan dan kebijakan yang kita pilih tidak boleh memalingkan kita ke ti­tik nol. Hampir mustahil memenuhi seluruh hara­pan dan kehendak orang lain kepada kita, apala­gi kalau kita sedang mengemban jabatan publik. Lukmanul Hakim tetap melanjutkan perjalanan sambil melakukan penyesuaian diri yang muncul dari masyarakat. Seseorang tidak perlu tersing­gung jika dikritik sebab kritik itu pada umumnya bertujuan untuk memperbaiki keadaan. Pengritik juga harus bijaksana. Tidak etis kritik ditayang­kan didorong oleh rasa kecemburuan. Jika kita sudah berusaha memperbaiki semua harapan para pengritik namun masih saja tetap keritiknya jalan anggaplah itu bagian dari upaya untuk lebih mengokohkan keimanan dan kematangan spiri­tual kita. Semakin banyak kritik yang kita terima dan kita berusaha memahaminya maka pada saat itu pengritik akan bertambah matang pula. Yang penting buat kita adalah kelapangan dada harus dimiliki. Semakin lapang dada ini semakin nyaman kritikan itu, semakin sempit hati meneri­ma kritikan semakin pedas rasa kritikan itu. Akh­irnya kita kembalikan kepada Allah Swt. Faidza 'azamta fatawakkal 'alallah (Jika sudah beru­saha dan berketetapan hati maka serahkanlah sepenuhnya kepada Allah Swt). Innallah ma'ana (sesungguhnya Allah selalu bersama kita).

Populer

Harta Friderica Widyasari Pejabat Pengganti Ketua OJK Ditanding Suami Ibarat Langit dan Bumi

Senin, 02 Februari 2026 | 13:47

Direktur P2 Ditjen Bea Cukai Rizal Bantah Ada Setoran ke Atasan

Jumat, 06 Februari 2026 | 03:49

Negara Jangan Kalah dari Mafia, Copot Dirjen Bea Cukai

Selasa, 10 Februari 2026 | 20:36

KPK: Warganet Berperan Ungkap Dugaan Pelesiran Ridwan Kamil di LN

Kamis, 05 Februari 2026 | 08:34

Nasabah Laporkan Perusahaan Asuransi ke OJK

Kamis, 05 Februari 2026 | 16:40

Lima Orang dari Blueray Cargo Ditangkap saat OTT Pejabat Bea Cukai

Kamis, 05 Februari 2026 | 15:41

Koordinator KKN UGM Tak Kenal Jokowi

Rabu, 04 Februari 2026 | 08:36

UPDATE

Mendag AS Akhirnya Mengakui Pernah Makan Siang di Pulau Epstein

Kamis, 12 Februari 2026 | 10:10

Israel Resmi Gabung Board of Peace, Teken Piagam Keanggotaan di Washington

Kamis, 12 Februari 2026 | 10:09

Profil Jung Eun Woo: Bintang Welcome to Waikiki 2 yang Meninggal Dunia, Tinggalkan Karier Cemerlang & Pesan Misterius

Kamis, 12 Februari 2026 | 10:08

Harga Minyak Masih Tinggi Dipicu Gejolak Hubungan AS-Iran

Kamis, 12 Februari 2026 | 09:59

Prabowo Terus Pantau Pemulihan Bencana Sumatera, 5.500 Hunian Warga Telah Dibangun

Kamis, 12 Februari 2026 | 09:49

IHSG Dibuka Menguat, Rupiah Tertekan ke Rp16.811 per Dolar AS

Kamis, 12 Februari 2026 | 09:47

Salah Transfer, Bithumb Tak Sengaja Bagikan 620.000 Bitcoin Senilai 40 Miliar Dolar AS

Kamis, 12 Februari 2026 | 09:33

Menteri Mochamad Irfan Yusuf Kawal Pengalihan Aset Haji dari Kementerian Agama

Kamis, 12 Februari 2026 | 09:18

Sinyal “Saling Gigit” dan Kecemasan di Pasar Modal

Kamis, 12 Februari 2026 | 09:09

KPK: Kasus PN Depok Bukti Celah Integritas Peradilan Masih Terbuka

Kamis, 12 Februari 2026 | 08:50

Selengkapnya