Berita

Nasaruddin Umar/Net

Peristiwa Kontroversi Yang Dilakukan Nabi & Sahabat (25)

Merintis Kesetaraan Gender

SABTU, 24 NOVEMBER 2018 | 09:34 WIB | OLEH: NASARUDDIN UMAR

NABI berhasil mengangkat martabat perempuan menja­di manusia yang setara den­gan kaum laki-laki. Sebelum­nya nasib kaum perempuan masih dianggap tidak pantas disetarakan dengan kaum laki-laki. Perempuan masih dimitoskan sebagai sepa­ruh iblis dan laki-laki dimi­toskan separuh Tuhan. Ada tiga konsep teologi yang mencitranegatifkan perempuan perlu ditin­jau kembali. Yaitu, perempuan tercipta dari tulang rusuk, perempuan diciptakan untuk melengkapi hasrat laki-laki, dan perempuan penyebab jatuh­nya Adam dari langit kebahagiaan ke bumi pen­deritaan. Sesungguhnya asumsi ini tidak ditemu­kan dasarnya yang kuat di dalam Al-Qur'an dan hadis, tetapi lebih banyak berasal dari kitab-kitab suci lain. Bahkan dengan tegas Syekh Muham­mad Abduh menjelaskan, seandainya tidak per­nah ada cerita-cerita Baibel tentang asal-usul penciptaan perempuan, maka tidak muncul pen­citraan negatif terhadap perempuan.

Di dalam Al-Kitab keberadaan perempuan secara tegas dinyatakan, maksud penciptaan perempuan (Hawa) adalah untuk melengkapi salah satu hasrat keinginan Adam. Penegasan ini dapat dilihat di dalam Kitab Kejadian/2:18: "Tuhan Allah berfirman: 'Tidak baik kalau se­orang laki-laki sendirian dan karenanya Eva (Hawa) diciptakan sebagai pelayan yang te­pat untuk Adam (a helper suitable for him). Dalam literatur Islam, baik Al-Qur'an maupun Hadis, cerita seperti ini tidak dikenal. Dalam Hadis hanya dikenal nama Hawa sebagai satu-satunya istri Adam. Dari pasangan Adam dan Hawa lahir beberapa putra-putri yang kemudi­an dikawinkan secara silang. Dari pasangan-pasangan baru inilah populasi menusia men­jadi berkembang. Tentang tujuan penciptaan perempuan dalam al-Qur'an, tidak terdapat per­bedaan penciptaan laki-laki, yaitu sebagai khal­ifah (Q.S.Q.S. al-An'am/6:165) dan sebagai hamba (Q.S.Al-Dzariya/51:56). Kedua fungsi ini diemban manusia semenjak awal penciptaan­nya, terutama yang tercermin di dalam perjanji­an primordial manusia dengan Tuhannya (Q.S. al-A'raf/7:172). Dalam ayat lain ditegaskan, tu­juan penciptaan perempuan sebagai manifes­tasi dari komitmen Tuhan yang menciptakan hambanya dalam keadaan berpasang-pasan­gan (Q.S. al-Dzariyat/51/49).

Pernyataan teologis yang menyebutkan perempuan (Hawa) berasal dari tulang rusuk paling bawah, bengkok, sebelah kiri Adam pal­ing banyak disoroti kaum feminis, karena itu art­inya memberikan pembenaran perempuan se­bagai subordinasi laki-laki. Isu tulang rusuk ini seolah menjadi isu universal pada hampir se­mua agama dan kepercayaan di berbagai tem­pat di belahan bumi ini, tidak terkecuali di dalam dunia Islam. Menarik sekali untuk dikaji kare­na di dalam Al-Qur'an tidak pernah diceritakan isu tulang rusuk ini. Bahkan, kata tulang rusuk (dlil') tidak pernah ditemukan dalam Al-Qur'an. Bahkan, kata Hawa yang sering dipersepsikan dengan istri Adam juga tidak pernah disebutkan secara eksplisit di dalam Al-Qur'an.


Pencitraan lain yang sulit diubah di dalam tradisi masyarakat ialah perempuan sebagai penggoda. Ini sulit diubah karena pernah termaktub secara eksplisit dalam Kitab Kejadian 3:12: “Manusia itu menjawab: "Perempuan yang Kau tempatkan di sisiku, dialah yang memberi dari buah pohon itu kepadaku, maka kumakan". Sebagai sanksi terh­adap kesalahan perempuan itu, maka kepadanya dijatuhkan semacam sanksi sebagaimana dis­ebutkan dalam Kitab Kejadian 3:16: "FirmanNya kepada perempuan itu: "Susah payahmu waktu mengandung akan kubuat sangat banyak; den­gan kesakitan engkau akan melahirkan anakmu; namun engkau akan berahi kepada suamimu dan ia akan berkuasa atasmu".

Mitos perempuan sebagai penggoda hingga kini masih melekat dan masih menjadi stigma negatif di berbagai masyarakat, terutama di da­lam dunia politik. Perempuan seringkali menjadi korban karena isu ini. Seolah perempuan dilahir­kan sebagai makhluk penggoda (temtator). Pada­hal, sesungguhnya perempuan adalah manusia biasa seperti halnya laki-laki. Bahkan, dunia laki-laki mungkin lebih sering menjadi faktor dalam persoalan kemanusiaan dan kemasyarakatan da­lam lintasan sejarah. Menurut Prof Ivon Haddad, gurubesar di Georgetown University, Washington DC, seharusnya kaum perempuanlah yang har­us paling banyak berterima kasih atas kehadiran Nabi Muhammd, karena dialah yang pertama kali mengangkat martabat kaum perempuan. 

Populer

Kematian Penjaga Rumah Febrie Harus Diusut Tuntas

Senin, 27 Juli 2026 | 19:53

Jubir IKN Troy Pantouw Sempat Telepon Keluarga Sehari Sebelum Ditemukan Meninggal

Minggu, 26 Juli 2026 | 20:58

Putusan Eksepsi Dokter Tifa Berujung Antiklimaks

Minggu, 02 Agustus 2026 | 05:20

Oknum Brimob Jadi Tersangka, KPK Pastikan Sanksi Pidana hingga Etik Menanti

Jumat, 31 Juli 2026 | 13:44

15 Jeriken Bensin yang Menenggelamkan Jabatan Ayah

Senin, 27 Juli 2026 | 01:03

Dana Nasabah Rp2,58 Miliar Raib, BCA Digugat ke PN Jakpus

Selasa, 28 Juli 2026 | 16:02

KPK Konstruksikan Dugaan Fee Rp3,5 Miliar dari Waskita untuk Eks Ketum HIPMI

Minggu, 02 Agustus 2026 | 14:18

UPDATE

Ruang Digital Kondusif Faktor Penting Jaga Stabilitas Ekonomi dan Politik

Rabu, 05 Agustus 2026 | 04:03

Dibungkam Maung Bandung 2-1, STY Sebut Pemain Persija Belum Maksimal

Rabu, 05 Agustus 2026 | 03:43

Kuliah Koperasi untuk Feri Amsari

Rabu, 05 Agustus 2026 | 03:18

Gagasan Anti-Penjajahan Soemitro jadi Modal Bangsa Hadapi Dinamika Global

Rabu, 05 Agustus 2026 | 02:55

BRI Gelar Kick-Off BRIncubator 2026 Songsong Akselerasi UMKM Naik Kelas

Rabu, 05 Agustus 2026 | 02:33

Ziarahi Makam Bung Karno, Muzani Tegaskan Indonesia Rumah Bersama

Rabu, 05 Agustus 2026 | 02:12

Penentu Tingkat Kesuksesan suatu Negara

Rabu, 05 Agustus 2026 | 01:43

Ikan Gabus Baik untuk Ibu Pascamelahirkan, Begini Penjelasannya

Rabu, 05 Agustus 2026 | 01:17

Indonesia-Thailand Makin Mantap Jaga Kawasan Selat Malaka

Rabu, 05 Agustus 2026 | 00:58

Utang Pinjol Warga RI Naik 25,88 Persen, Tembus Rp105 Triliun Hingga Juni 2026

Rabu, 05 Agustus 2026 | 00:30

Selengkapnya