Berita

Foto: Net

Bisnis

Rizal Ramli: Tak Masuk Akal Crumb Rubber Dicabut Dari DNI, Industri Nasional Bisa Mati

KAMIS, 15 NOVEMBER 2018 | 15:05 WIB | LAPORAN:

Rencana pemerintah mencabut industri crumb rubber (karet remah) dari daftar negatif investasi (DNI) adalah tidak masuk akal.

Ekonom senior, Rizal Ramli, menilai langkah tersebut akan mematikan industri nasional yang sudah ada sejak puluhan tahun silam.

"Lha wong yang sekarang saja sudah terjadi idle capacity. Kapasitas produksi kita sekarang sudah 5,6 juta ton lebih. Sementara ketersediaan bahan baku hanya 3,5 juta ton. Artinya, ada kekurangan pasok bahan baku sebanyak 2,1 juta ton. Jadi tidak masuk akal kalau pemerintah mau mencabut crumb rubber dari DNI," terang Rizal Ramli melalui siaran pers, Kamis (15/11).


Menko Ekuin era Presiden Gus Dur itu berpendapat, aturan yang sudah ada cukup bagus, tidak perlu diubah. Sesuai Perpres 44/2016 dan Permen Perindustrian nomor 09/M-IND/PER/3/2017, pembukaan industri ini kepada asing disertai sejumlah catatan. Di antaranya harus terintegrasi dengan pengembangan kebun karet sendiri yang mampu memasok sekurangnya 20 persen dari kebutuhan, dan 80 persen bahan baku sisanya harus dipenuhi melalui kemitraan.

Syarat lainnya, dari 80 persen kemitraan tadi, sedikitnya 20 persen di antaranya harus dalam bentuk inti-plasma.

"Dengan adanya persyaratan asing harus punya kebun sendiri, ini sudah bagus. Mungkin kita bisa belajar meningkatkan produksi karet alam dari mereka. Apalagi, selama ini produktivitas kita memang rendah, kalah dibandingkan dengan Thailand, Malaysia, dan Vietnam," kata Rizal Ramli.

Pada 2011, harga crumb rubber pernah mencapai 4,5 dolar AS per Kg. Harganya terus merosot, sehingga kini tinggal 1,2 dolar AS/kg. Selain itu, pelaku usaha di bidang ini juga umumnya pengusaha menengah, karena investasinya tidak besar dan teknologinya tidak canggih amat.

Inilah melatari 157 perusahaan crumb rubber yang ada, 96 di antaranya adalah penanaman modal dalam negeri (PMDN) alias milik swasta nasional.

Sedangkan sisanya yang 61 perusahaan adalah penanaman modal asing (PMA) dan atau terafiliasi asing. Tapi kendati jumlah mereka lebih sedikit, kontribusi ekspornya mencapai 63,1 persen. Sedangkan perusahaan lokal yang 96 unit harus puas dengan 36,9 persen.

Sehubungan dengan itu, Rizal Ramli mengingatkan agar Menteri Perindustrian, Airlangga Hartarto, berhati-hati jika bermaksud menarik investasi asing.

"Kita memang membutuhkan investasi asing. Tapi sebaiknya diutamakan untuk yang memberi manfaat sebesar-besarnya bagi perkonomian nasional. Jangan malah sebaliknya, mematikan industri nasional yang sudah ada," tegasnya.

Dia menyarankan pemerintah fokus pada peningkatan produksi yang kini rata-rata hanya setengah dari produksi Thailand, Malaysia, dan Vietnam. Kalau pun mau menarik investasi asing, sebaiknya untuk hilirisasi industri. Karena faktanya, dari 3,5 juta ton produksi hanya 631 ribu ton yang diserap industri hilir di dalam negeri. Sisanya yang 3,2 juta ton habis diekspor.

"Satu lagi, sudah saatnya bersama Thailand, Malaysia, dan Vietnam kita membentuk organisasi produsen karet alam. Bukankah kita berempat menguasai lebih dari 75 persen produksi dunia? Dengan membentuk organisasi semacam OPEC pada minyak, kita bisa punya bargaining, bahkan power di hadapan konsumen," terangnya.

Ia sudah pernah membuktikan pada tahun 2015 dengan membentuk Council of Palm Oil Producing (CPOCP) ternyata mendorong Indonesia dan Malaysia menguasai pasokan CPO dunia. Hasilnya, ada kenaikan harga CPO sekitar 180 dolar AS per ton. Ketika itu dirinya menjabat Menko Maritim dan Sumber Daya

Padahal sebelumnya, selama puluhan tahun Indonesia dan Malaysia bersaing di CPO. Dengan pembentukan CPOPC, Indonesia dan Malaysia yang menguasai 80 persen pasokan CPO dunia bisa menentukan harga sehingga lebih menguntungkan produsen. Bahkan mantan Perdana Menteri Malaysia, Mahathir Muhammad memuji langkah tersebut. [wid]

Populer

Kajian Online Minta Maaf ke SBY dan Demokrat

Senin, 05 Januari 2026 | 16:47

Arahan Tugas

Sabtu, 03 Januari 2026 | 11:54

Prabowo Hampir Pasti Pilih AHY, Bukan Gibran

Minggu, 04 Januari 2026 | 06:13

Kubu Jokowi Babak Belur Hadapi Kasus Ijazah

Kamis, 01 Januari 2026 | 03:29

Pendukung Jokowi Kaget Dipolisikan Demokrat

Rabu, 07 Januari 2026 | 13:00

Penculikan Maduro Libatkan 32 Pesawat Buatan Indonesia

Selasa, 06 Januari 2026 | 13:15

Mahfud MD: Mas Pandji Tenang, Nanti Saya yang Bela!

Rabu, 07 Januari 2026 | 05:55

UPDATE

Lagi Sakit, Jangan Biarkan Jokowi Terus-terusan Temui Fans

Senin, 12 Januari 2026 | 04:13

Eggi-Damai Dicurigai Bohong soal Bawa Misi TPUA saat Jumpa Jokowi

Senin, 12 Januari 2026 | 04:08

Membongkar Praktik Manipulasi Pegawai Pajak

Senin, 12 Januari 2026 | 03:38

Jokowi Bermanuver Pecah Belah Perjuangan Bongkar Kasus Ijazah

Senin, 12 Januari 2026 | 03:08

Kata Yaqut, Korupsi Adalah Musuh Bersama

Senin, 12 Januari 2026 | 03:04

Sindiran Telak Dokter Tifa Usai Eggi-Damai Datangi Jokowi

Senin, 12 Januari 2026 | 02:35

Jokowi Masih Meninggalkan Jejak Buruk setelah Lengser

Senin, 12 Januari 2026 | 02:15

PDIP Gelar Bimtek DPRD se-Indonesia di Ancol

Senin, 12 Januari 2026 | 02:13

RFCC Complex Perkuat Ketahanan Energi Nasional

Senin, 12 Januari 2026 | 01:37

Awalnya Pertemuan Eggi-Damai dengan Jokowi Diagendakan Rahasia

Senin, 12 Januari 2026 | 01:16

Selengkapnya