Berita

Zainal Bintang/Net

Politik

Diksi Genderuwa Dan Hari Pahlawan

SENIN, 12 NOVEMBER 2018 | 14:59 WIB | OLEH: ZAINAL BINTANG

PRESIDEN Joko Widodo mengungkapkan, saat ini banyak politikus yang pandai memengaruhi dan tidak menggunakan etika politik yang baik. Mantan Gubernur DKI Jakarta itu mengatakan, cara politik seperti itu tidak  punya etika.

"Membuat ketakutan. Masak masyarakatnya sendiri dibuat ketakutan? Itu namanya politik genderuwo, nakut-nakuti, politik genderuwo," tutur Jokowi saat memberikan sambutan  penyerahan 3.000 sertifikat tanah untuk warga Tegal dan sekitarnya, di Gedung Olahraga (GOR) Tri Sanja, Tegal, Jawa Tengah, Jumat pagi (9/11/18) seperti dikutip banyak media.

Selang sehari, Sabtu (10/11/18) KMA (Kiai Ma'ruf Amin) memuji pemerintahan Jokowi-JK karena menurutnya telah menorehkan prestasi. Ulama besar itupun kemudian menggunakan diksi yang tidak lazim dengan menyebut 'buta' dan 'budek' bagi yang tidak bisa melihat prestasi Presiden Jokowi.


"Orang sehat bisa dapat melihat jelas prestasi yang ditorehkan oleh Pak Jokowi, kecuali orang budek saja tidak mau mendengar informasi dan kecuali orang buta saja tidak bisa melihat realitas kenyataan". KMA berucap ketika memberi sambutan pada acara deklarasi Barisan Nusantara, Jakarta Pusat, Sabtu (10/11/18).

Sungguh memprihatinkan ketika dalam suasana khidmat  memasuki detik-detik keharuan mengenang dan memperingati Hari Pahlawan 10 November, di seberang sana  pemimpin puncak mengumbar diksi yang tidak relevan. Kontras dengan nilai intrinsik moralitas patriotik pembakar semangat hari pahlawan.

Surat kabar harian "Kompas" menurunkan tajuk rencana menyambut peringatan Hari Pahlwan Nasional 10 November 2018  menulis tajuk dengan judul "Pahlawan di Tahun Politik", antara lain menulis, "Tema itu sengaja kita angkat agar elite yang berkontestasi, Presiden Jokowi-KH. Ma'ruf Amin dan Prabowo Subianto-Sandiaga Uno dengan tim sukses mereka tetap mau mengingat jasa-jasa para pahlawan. Para pahlawan bangsa itu telah memerdekakan Indonesia dan mempersatukan Indonesia dari cengkeraman kolonial Belanda. Karena perjuangan para pahlawan itulah, Indonesia bisa menggapai kemerdekaan pada 17 Agustus 1945".

Upaya, perjuangan dan kerja keras seluruh stakeholder alias pemangku kepentingan bangsa ini masih harus terus digelorakan untuk membentengi mahakarya kemerdekaan itu dari upaya-upaya penggembosan, baik oleh bangsa asing maupun para kompradornya yang banyak gentayangan dalam negeri dengan menyamar sebagai Pancasilais sejati.

Momentum penguatan narasi kebangsaan  memperingati hari  patriotisme bersejarah wajib hukumnya. Sebagai ekspresi  semangat pantang menyerah.  Menolak upaya gelap dan sistemik dari musuh dalam selimut republik yang terus menyusup dengan berbagai  rekayasa penyesatan. Memanfaatkan patriotisme semu  pemimpin bermental kerupuk. Cuma punya modal orasi kanan kiri berjam-jam di depan televisi tanpa substansi.

Apakah dengan asupan narasi paradoks dan arogan seperti itu  tidaklah malah membuat generasi milienial semakin teraleanasi? Membuat mereka menjauh dan mencari wilayah budaya bangsa lain yang lebih akrab. Faktanya mayoritas generasi milenial menemukan tokoh panutan itu pada film, karya seni, komik serta cerita fiksi tokoh heroik produk industri budaya massa (mass culture) bangsa lain.

Lalu, mengapa Jokowi berbalik arah merubah haluan memakai pola menyerang terbuka lawan? Jokowi itu dikenal luas sebagai pribadi yang senang bertutur lembut  dengan  sikap ngalahan. Terkenal dengan ucapan rapopo berpadu kegiatan  blusukan.Membuat Jokowi laksana bintang kejora di tengah gelapnya langit mentalitas elite hipokrit papan atas.

Sesungguhnya kedua tokoh pemimpin kubu poltik itu,- Jokowidodo dan Prabowo Subianto,- adalah aset bangsa ini. Keduanya harus sadar dan perlu disadarkan akan hal itu. Mereka supaya segera merenung. Berkontemplasi. Menata ulang konsep pertarungan politik yang salah jalan. Yang hanya saling menegasikan. Dan menghentikannya. Karena hal itu sungguh sangat meresahkan.

Hindarkan bangsa ini tercebur dalam perang saudara tiada ujung. Seperti nasib beberapa negara di Timur Tengah. Tahun politik  jangan diterjemahkan sebagai tahun saling membantai. Waspadai mesin giling modal asing yang telah merasuk ke dalam semua sektor vital dan strategis milik bangsa kita.

Gelombang besar modal asing itu yang berwatak kapitalistik  mampu membeli ideologi sebuah bangsa. Menukarnya dengan sikap pragmatisme yang meracuni  ideologi itu sendiri. Watak kapitalistik tidak ada bedanya. Apakah itu kapitalis Barat atau dari Timur.

Mereka pro aktif menyebar dan menyuburkan bibit adu domba. Menggoreng isu politik identitas. Merekaya kemiskinan dan menggelontorkan bantuan modal berkedok solidaritas. Tujuannya melemahkan ketahanan sebuah bangsa dan menelannya!

Peringatan hari pahlawan dan hari-hari bersejarah lainnya belakangan ini berlangsung rutin belaka. Kering dan gersang dari narasi kebangsaan dan kebanggaan. Tanpa keharuan.

Disatu sisi hal itu membuat generasi milenial gagal menangkap substansi hari bersejarah. Sementara disisi lain hakekat sakralisasi hari pahlawan itu tidak mampu mengisi rongga dada generasi milenial. Tidak nyambung.

Semua orang seperti terperangkap dalam parade produksai diksi yang menyedihkan: pahlawan genderuwo dan genderuwo pahlawan.

"Dengan gagal merencanakan, anda sedang merencanakan kegagalan," kata Benyamin Franklin, wartawan, pengarang, ilmuwan yang juga pemimpin Revolusi Amerika dan penandatangan Deklarasi Kemerdekaan Amerika. [***]

Wartawan senior dan pemerhati sosial budaya.

Populer

Panglima TNI Bantah Seskab Teddy Diperiksa Polisi Militer

Sabtu, 07 November 2026 | 09:32

Kapolri Suyudi Berpeluang dapat Serangan Balik

Jumat, 06 November 2026 | 04:27

Upaya Makar Geng Solo

Sabtu, 07 November 2026 | 05:07

PKS Anggap Permintaan Maaf Raffi Ahmad Belum Cukup

Minggu, 01 November 2026 | 22:28

Bonatua akan Diperiksa Bareskrim terkait Dugaan Pemalsuan Dokumen Suket Gibran

Rabu, 04 November 2026 | 23:19

Syarat Penerima BSU 2026 Resmi dari Kemnaker, Cek Kriterianya

Jumat, 30 Oktober 2026 | 16:29

Jokowi Jangan Mimpi PSI Jadi Partai Besar

Selasa, 03 November 2026 | 02:41

UPDATE

Helikopter Pemadam Karhutla BNPB Jatuh di Sungai Barito

Minggu, 08 November 2026 | 14:30

Putin Pastikan Rusia-AS-Ukraina Kembali Berunding Pekan Depan di Abu Dhabi

Minggu, 08 November 2026 | 14:26

Plt Bupati Klaten Dicecar KPK soal Penerimaan Uang Hamenang dan Era Sebelumnya

Minggu, 08 November 2026 | 14:19

Al Aqsha Travel Gelar Akademi Marketing Haji untuk Perkuat Kompetensi Mitra

Minggu, 08 November 2026 | 14:02

Bahlil Ancam Tempuh Jalur Hukum Gegara Namanya Dikaitkan dengan Isu Penyadapan Prabowo

Minggu, 08 November 2026 | 13:47

Gempa 5,7 Magnitudo Guncang Jepang, 20 Orang Terluka

Minggu, 08 November 2026 | 13:42

Penyadapan Presiden Prabowo Biang Kerok Ekonomi Tidak Stabil

Minggu, 08 November 2026 | 13:28

Green Wakaf, Memperluas Manfaat Wakaf untuk Menjaga Kelestarian Alam

Minggu, 08 November 2026 | 13:08

Pengamat: Peran Seskab Teddy Strategis dalam Komunikasi Politik Pemerintah

Minggu, 08 November 2026 | 13:02

AS Siapkan Rp362 Miliar untuk Pembocor Informasi Nuklir Iran

Minggu, 08 November 2026 | 12:40

Selengkapnya