Berita

Siti Musdah Mulia/Dok

Politik

Musdah Mulia: Pemikiran Kritis Dan Kehati-Hatian Hilang Dari Masyarakat Kita

SENIN, 05 NOVEMBER 2018 | 05:41 WIB | LAPORAN:

Di tahun politik sekarang ini penyebaran kabar hoax melalui media sosial akhir-akhir ini masih sangat gencar dilakukan oleh kelompok-kelompok yang tidak bertanggung jawab.

Bahkan masyarakat sepertinya sangat mudah terprovokasi akibat penyebaran narasi propaganda melalui media sosial tanpa mau melihat data dan fakta yang ada. Untuk itu sudah seharusnya pemerintah bersama seluruh komponen masyarakat mengambil langkah-langkah konkrit sebagai upaya untuk menjaga perdamaian agar masyarakat Indonesia ini terus dapat menjaga perdamaian dan kerukunan.

"Tidak bisa hanya pemerintah saja. Misalnya guru harus menyampaikan kepada murid-muridnya, tokoh agama atau tokoh masyarakat menyampaikan kepada umatnya atau masyarakatnya untuk mulai membangun dan membuat media sosial yang ramah terhadap lingkungan, terhadap sesama agar konten-konten yang berbau kebencian, permusuhan dan konflik itu bisa bersih dari media sosial," ujar Ketua Umum Yayasan Indonesian Conference on Religion and Peace (ICRP), Prof. Siti Musdah Mulia di Jakarta.


Musdah menilai kesadaran masyarakat untuk berpikir kritis, menelaah dan mendalami informasi yang diterima melalui media sosial, meski informasi itu terkadang tidak masuk akal seperti sudah tidak ada lagi. Hal ini kalau dibiarkan secara terus menerus tentunya dapat memecah belah persatuan yang ada di masyarakat.

"Padahal kalau dia sadar bahwa perdamaian itu sesuatu yang harus dibangun dalam masyarakat maka tidak bakalan semudah itu mereka meladeni atau terbelenggu pada pandangan-pandangan yang tidak masuk akal," ujar ketua Lembaga Kajian Agama dan Jender (LKAJ) ini.

Hemat dia, masyarakat ketika menerima sebuah berita atau informasi apapun bentuknya baik dalam bentuk meme, video, ataupun pernyataan sebaiknya kembali dulu ke akal sehat.

"Kita berpikir bahwa informasi itu masuk akal apa tidak. Itulah gunanya pendidikan-pendidikan. Mengapa kita menjalani pendidikan bertahun-tahun yakni untuk membangun berpikir positif agar kita tidak mudah terombang-ambing," ujarnya.
 
Informasi yang diterima juga jangan langsung dibagikan. Musdah menerangkan, di dalam agama Islam sendiri, segala sesuatu itu harus ada tabayun, artinya berhati-hati terhadap segala macam bentuk fitnah.

"Jadi kita bisa tahu, kalau di-share ini bisa bahaya atau tidak. Daripada kita membuat bahaya lebih baik kita meredamnya, preventif kan lebih baik daripada kuratif," katanya

Lalu selanjutnya menurut dia, masyarakat harus bisa berpikir bahwa perdamaian itu jauh lebih baik daripada konflik. Ajaran Islam, seorang muslim itu adalah orang yang konsisten dalam merajut damai, konsisten menegakkan damai.

"Bahkan kepada mahasiswa saya selalu tekankan untuk bagaimana menjadikan hidup ini bermakna dan kapan memggunakan gadget atau kapan untuk  tidak menggunakan," ujar dosen UIN Syarif Hidayatullah Jakarta ini. 

Menurutnya, kecanggihan teknologi sekarang ini sebetulnya untuk membawa kemaslahatan, bukan sebaliknya.

"Semua itu juga tergantung kepada kedewasaan kita. Kita harus belajar menjadi dewasa, karena itu bagian dari  kita sebagai manusia yang dianugerahi akal sehat oleh Tuhan," terangnya. 

Ia menyayangkan adanya kampanye politik untuk pemilihan umum ataupun pemilihan presiden di media sosial dengan penyebaran fitnah atau hoax yang justru dapat menghancurkan lingkungan keluarga.

"Mungkin negaranya tidak hancur, tapi di lingkungan keluarga sudah tidak saling ngomong, di lingkungan masyarakat juga kadang bermusuhan karena beda pilihan politik. Sangat disayangkan kalau persaudaraan kita hancur gara-gara urusan politik yang urusannya itu singkat cuma lima tahun dan tidak abadi," tuturnya.
 
Untuk itu dirinya mengajak kepada seluruh masyarakat untuk lebih cerdas dalam menggunakan media sosial, karena itu diciptakan untuk kebahagiaan manusia.[wid]

Populer

Permohonan Pengosongan Rumah Anak Zulhas Diajukan ke PN Jaktim

Rabu, 01 April 2026 | 18:05

Kehadiran Anies di Cikeas Jadi Masalah Serius

Jumat, 27 Maret 2026 | 02:08

Mengapa Kapal Pertamina Tidak Bisa Lewat Selat Hormuz?

Sabtu, 28 Maret 2026 | 02:59

SBY Menolak Silaturahmi Lebaran Anies?

Jumat, 27 Maret 2026 | 03:43

Nasib Hendrik, SPPG Ditutup, 150 Karyawan Diberhentikan

Jumat, 27 Maret 2026 | 06:07

Dubai Menuju Kota Hantu

Selasa, 31 Maret 2026 | 13:51

KPK Klaim Status Tahanan Rumah Yaqut Sesuai UU

Jumat, 27 Maret 2026 | 12:26

UPDATE

Prabowo-Pramono Pasangan Kuat Luar Dalam

Sabtu, 04 April 2026 | 06:08

Ancaman Cuaca Ekstrem dan Air Bersih Warga

Sabtu, 04 April 2026 | 05:40

Batas ‘Scroll’ Anak

Sabtu, 04 April 2026 | 05:14

Jangan Keliru Pahami Langkah Prabowo soal Kunjungan ke Luar Negeri

Sabtu, 04 April 2026 | 05:12

Vicky Mundur dari Polisi, Kasus yang Ditangani juga Ikutan Mundur

Sabtu, 04 April 2026 | 04:38

Satu Orang Tewas Imbas Kecelakaan Beruntun di Tol Solo-Semarang

Sabtu, 04 April 2026 | 04:03

Negara Harus Tegas atas Gugurnya Tiga Prajurit TNI

Sabtu, 04 April 2026 | 04:00

Mobil Tertimpa Pohon Tumbang di Bandung, Sopir Tewas

Sabtu, 04 April 2026 | 03:38

IAW Peringatkan Potensi Kebocoran Lebih Besar di Bea Cukai

Sabtu, 04 April 2026 | 03:26

Dedi Mulyadi Lunasi Tunggakan Gaji Pegawai Bandung Zoo

Sabtu, 04 April 2026 | 03:03

Selengkapnya