Berita

Beras Impor/Net

Bisnis

Winarno Tohir: Impor Bikin Petani Marah

KAMIS, 01 NOVEMBER 2018 | 07:32 WIB | LAPORAN:

. Pemerintah dalam hal ini Kementerian Perdagangan dianggap sering salah kaprah dalam memaknai surplus atau defisit beras.

Ketua Kelompok Tani Nelayan Andalan (KTNA) Winarno Tohir mengatakan sebelumnya Bulog diberi kebijakan membeli Gabah Kering Panen (GKP) di tingkat petani sebesar Rp 3.700 per kilogram sebagaimana tercantum dalam Instruksi Presiden (Inpres) No 5 Tahun 2015.

"Jadi keluarga petani tidak akan mau jual gabah ke Bulog karena harga GKP-nya hanya Rp 4.000 per kilogram padahal biaya yang mereka keluarkan Rp 4.200. Akibatnya gudang Bulog kosong padahal gabah dan berasnya ada," ujar Winarno saat dihubungi, Rabu (31/11).


Tak hanya itu, lanjutnya, Kementerian Perdagangan juga menilai bahwa naiknya harga GKP menjadi Rp4.200 per kilogram terjadi karena stok beras kosong. Padahal bila dilihat alasan kenaikan harga gabah tersebut adalah inflasi.

Di mana kenaikan harga gabah ini baru terjadi pada Juni 2018 lalu saat Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menerapkan fleksibilitas harga GKP sebanyak 10 persen. Jadi, total harga yang harus dikeluarkan Bulog untuk membeli GKP di tingkat petani adalah Rp 4.180.

Sebagaimana diketahui,  tingkat inflasi Indonesia masing-masing selalu berada diatas angka 3 persen. Bila dihitung dari tahun 2015 sampai 2017 maka tingkat inflasi mencapai angka 13 persen. Bila nilai total inflasi dikalikan dengan harga GKP Rp 3.700 maka nilainya menjadi lebih tinggi, yakni Rp 4.180 pr kilogram.

"Nah ini dianggap pemerintah harga naik dari Rp3.700 menjadi Rp4.200 per kilogram, padahal nilainya sama. Karena faktor inflasi kan jadi tidak naik," ungkap dia.

"Nah pemerintah nyangka nggak ada barang karena Bulog nggak dapat barang. Harga jadi mahal dan jatuhnya impor. Padahal berasnya ada tapi petani nggak mau kasih karena harga Bulog terlalu rendah," tambah Winarno lagi.

Ia mengingatkan pemerintah bahwa kebijakan impor komoditi pangan seperti beras sangat menyakiti petani. Ia mengimbau agar pemerintah menghentikan kebijakan impor beras bila tidak ingin mendapat perlawanan dari petani. Bahkan Ia yakin petani saat ini tengah menyusun kekuatan besar bila pemerintah tetap memutuskan kebijakan impor.

"Kalau dilakukan impor lagi maka petani bisa marah. Marahnya petani itu tidak ribut tapi menghanyutkan. Sudah ada tanda-tandanya. Ya jelas berkaitan dengan politik di tahun politik," pungkas Winarno. [jto]

Populer

Kekayaan Ibas Demokrat Naik Lebih 700 Persen dalam Empat Tahun, Total Rp354,7 Miliar

Kamis, 25 Juni 2026 | 05:22

KPK Sakit Jiwa

Kamis, 25 Juni 2026 | 15:08

Penggunaan Gedung Kemenhut oleh PSI Berpotensi Melanggar Hukum

Minggu, 28 Juni 2026 | 00:26

Mitra MBG Ultimatum BGN Cabut SE 12/2026 2x24 Jam

Selasa, 23 Juni 2026 | 18:32

Karier Gila-gilaan Mufli Budi Ananda: Dari Asisten Raffi Ahmad Jadi Komisaris Krakatau Posco

Senin, 29 Juni 2026 | 00:00

KPK Didesak Bongkar Dugaan Aliran Dana ke Oknum Polisi dalam Kasus Bea Cukai

Jumat, 26 Juni 2026 | 01:30

Tim Mawar dan Tambang

Minggu, 28 Juni 2026 | 04:59

UPDATE

Jokowi Tinggalkan Jejak Buruk bagi Masyarakat Adat Lampung

Rabu, 01 Juli 2026 | 04:23

Menhan Sjafrie-Dubes Maroko Bahas Penguatan Kerja Sama Pertahanan Indonesia

Rabu, 01 Juli 2026 | 04:11

Kompensasi Uang Bau TPST Bantar Gebang Molor

Rabu, 01 Juli 2026 | 04:01

DJP: Sistem Sudah Siap Pungut Pajak Pedagang Online Mulai 1 Juli

Rabu, 01 Juli 2026 | 03:25

GMNI Dorong Efisiensi APBN Berorientasi Kesejahteraan

Rabu, 01 Juli 2026 | 03:12

CBA Ancam Laporkan KPK ke Dewas soal Suap Impor Bea Cukai

Rabu, 01 Juli 2026 | 03:00

Der Panzer Rontok, Bangsa yang Pernah Hampir Punah Justru Melaju

Rabu, 01 Juli 2026 | 02:34

Erling Haaland Bawa Norwegia Tantang Brasil

Rabu, 01 Juli 2026 | 02:22

Ini Alasan Upacara Hari Bhayangkara Digelar di Satlat Brimob Polri Cikeas

Rabu, 01 Juli 2026 | 02:00

Sanksi Partai Tak Bisa Gantikan Proses Hukum Kasus Dokter Icha

Rabu, 01 Juli 2026 | 01:41

Selengkapnya