Berita

Politik

Data Stok Beras Kemendag Seperti Mengecat Langit

SELASA, 23 OKTOBER 2018 | 11:46 WIB | LAPORAN: ADITYO NUGROHO

Para mafia pangan dalam impor beras diduga mendapat perlindungan dari oknum Kementerian Perdagangan.

Bahkan, ekonom senior Rizal Ramli blak-blakan menunjuk Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita juga bertanggung jawab terhadap maraknya impor beras yang mematikan petani.

Hari ini, RR biasa disapa, didampingi para pengacaranya mendatangi Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) untuk melaporkan mafia pangan.


Langkah RR tersebut diapresiasi kalangan wakil rakyat di Senayan. Anggota Komisi IV DPR dari Fraksi Gerindra, KRT Darori Wonodipuro mengaku punya kegelisahan yang sama dengan RR terkait masifnya impor pangan.
Menurut Legislator asal Jawa Tengah itu, semuanya harus kembali lagi pada data.

"Kalau Kementan sama Bulog kan datanya fakta. Mereka terjun langsung ke lapangan. Kalau Kemendag itu datanya dari mana? Itu mengecat langit itu," kata Darori saat ditemui di ruang kerjanya di Gedung Nusantara I Senayan, Jakarta, Selasa (23/10).

Sambung Darori, data itu seharusnya diperoleh dari petani. Sehingga perhitungan kebutuhan pangan untuk beberapa bulan ke depan bisa terukur. Berdasarkan data terakhir Bulog, stok beras nasional masih di atas 2 juta ton.

"Ini seharusnya masih masuk kategori aman dan tidak perlu impor. Jadi Kemendag ini nggak tahu datanya dari mana. Kalau data kan harusnya dari petani baru Kemendag ngambil sikap,” tegasnya.

Seharusnya, Bulog dan Kementerian Pertanian dilibatkan dalam mengambil kebijakan impor pangan.Namun terkesan jalan masing-masing, terlebih Kementerian Perdagangan.

"Cuma Mendag beralibi itu sudah keputusan Menko, lah kok Menko yang disalahkan. Kalau datanya seperti mengecat langit itu ya kayak gitu yang terjadi," kritiknya.[wid]

Populer

Kalahkan Hary Tanoe, Jusuf Hamka akan Kembalikan TPI ke Tutut Soeharto

Sabtu, 25 April 2026 | 15:43

Usai Rumah Digeledah, Noor Aflah Diperiksa KPK

Senin, 20 April 2026 | 14:11

China Peringatkan RI Tak Rusak Stabilitas Regional

Sabtu, 18 April 2026 | 02:00

Jaksa Watch Lapor KPK, Ada Dugaan Penyalahgunaan Aset Sitaan Korupsi

Jumat, 17 April 2026 | 17:46

Purbaya Kecewa Banyak Pegawai Kemenkeu Tak Jalankan Tugas: Digeser Baru Nangis

Kamis, 23 April 2026 | 01:30

Jusuf Hamka Sujud Syukur Menang Gugatan Lawan Hary Tanoe

Kamis, 23 April 2026 | 12:34

Kekesalan JK Dipicu Sikap Gibran dan Serangan Termul

Senin, 20 April 2026 | 12:50

UPDATE

Bos Rokok PT Gading Gadjah Mada Dipanggil KPK

Senin, 27 April 2026 | 14:16

Mengejar Halusinasi 2045: Mengapa Ekonomi Hanya Bisa Tegak di Atas Literasi

Senin, 27 April 2026 | 14:15

Penerjemah Bible Dibakar Hidup-hidup pada Zaman Renaisans Eropa

Senin, 27 April 2026 | 14:07

Bitcoin Melaju Mendekati 80.000 Dolar AS

Senin, 27 April 2026 | 14:06

Luar Biasa Kiandra, Start ke-17, Finis Pertama

Senin, 27 April 2026 | 13:59

Digitalisasi dan Green Dentistry, Layanan Kesehatan Gigi yang Minim Limbah

Senin, 27 April 2026 | 13:46

Usul KPK Berpotensi Paksa Capres Harus Kader Parpol

Senin, 27 April 2026 | 13:43

Pemda Didorong Lakukan Creative Financing

Senin, 27 April 2026 | 13:36

Citra Negatif Bahlil di Dalam Negeri Pengaruhi Negosiasi Energi Presiden?

Senin, 27 April 2026 | 13:35

Qodari Respons Isu Dilantik Jadi Kepala Bakom: Itu Hak Prerogatif Presiden

Senin, 27 April 2026 | 13:30

Selengkapnya