Zero hunger 2030 bukanlah mimpi karena bisa diwujudkan dengan pendekatan inovasi dan teknologi.
Demikian dikatakan oleh Kepala Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian (BBP2TP) Balitbang Kementerian Pertanian, Haris Syahbuddin dalam acara Hari Pangan Sedunia (HPS) ke-38 di Desa Jejangkit Muara, Kabupaten Barito Kuala, Kamis (18/10).
“Di lahan rawa di Kalimantan selatan ini indeks pertanaman bisa ditingkatkan dari 100 (sekali tanam per tahun) menjadi 300,†ujar Haris.
Selaku Penanggung Jawab Gelar Teknologi (Geltek) HPS di Jejangkit Muara, Haris mengatakan produktivitas padi juga meningkat tajam dari 2 hingga 3 ton per hektare menjadi 6 hingga 7 ton per hektare.
“Teknologi pengelolaan dan pengolahan air, teknologi pemupukan hayati (Biotara), teknologi pengapuran, perlakuan benih dengan Agrimeth, penggunaan varietas unggul baru, teknik penanaman Jarwo Super, teknologi pemupukan dan penanganan hama merupakan kunci keberhasilan tersebut,†paparnya.
Dari simulasi tersebut, lanjutnya, penghasilan petani melonjak dari Rp 5 hingga 6 juta menjadi Rp 36 hingga 38 juta per tahun. Hal itu belum termasuk pendapatan dari usaha tani lain yang dikelola secara terintegrasi, baik tanaman hortikultura, ternak itik, hingga budidaya keramba ikan.
Melalui pengolahan air yang tepat dengan keramba jaring berukuran 2 x 2 meter bisa dijadikan sebagai area menanam 500 ekor benih ikan atau setara dengan 250 kg ikan. Kemudian ada itik Alabio yang merupakan sumber daya genetik asli Kalsel, dimana setiap petani bisa mengelola sedikitnya 50 ekor.
“Optimalisasi lahan rawa bukan hanya meningkatkan produksi pangan, namun juga meningkatkan kesejahteraan petani secara sangat signifikan,†tegas Haris.
Selain HPS, Kementan juga menggelar Pekan Pertanian Rawa Nasional (PPRN) yang merupakan tulang punggung kegiatan HPS. Kegiatan PPRN menunjukkan bahwa pertanian lahan rawa bisa menerapkan berbagai pola usaha tani yang menguntungkan.
Budidaya jagung misalnya, produktivitas nya bisa mencapai 20 ton per hektare atau setara 14 ton berat pipilan kering. Produktivitas tinggi juga diperoleh pada tanaman cabai, bawang, dan juga jeruk siam.
Poin penting lainnya dari gelar teknologi pada HPS kali ini adalah diterapkannya berbagai teknologi efisien dan ramah lingkungan. Haris menyebut antara lain teknologi pompa terapung, teknologi pompa bertenaga radiasi surya, traktor tanpa awak, serta pemupukan hayati dan teknologi anti hama ramah lingkungan. Teknologi tersebut dinilai mampu mengurangi konsumsi bahan bakar dan menurunkan emisi gas rumah kaca.
“Kalsel memiliki banyak lahan 'tidur' yang belum termanfaatkan. Jika lahan tidur itu tidak dimanfaatkan, maka bisa berpotensi menimbulkan masalah baru, salah satunya kebakaran hutan dan lahan. Dengan adanya teknologi optimalisasi lahan rawa, lahan-lahan 'tidur' tersebut bisa diubah menjadi lahan pertanian produktif, yang pada saatnya nanti mampu menjadi lumbung pangan masa depan Indonesia dan dunia,†pungkasnya.
[ian]