Berita

Foto/Net

Bisnis

Kantong Negara Jebol

Subsidi BBM & Elpiji Tembus Rp 54 Triliun
KAMIS, 18 OKTOBER 2018 | 09:43 WIB | HARIAN RAKYAT MERDEKA

Pelemahan rupiah dan naiknya harga minyak dunia, membuat subsidi BBM dan elpiji lampu merah. Hingga akhir September realisasinya sudah mencapai Rp 54,3 triliun atau 115,9 persen dari yang dipatok dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Kantong negara pun jebol.

Direktur Jenderal Anggaran Kementerian Keuangan Asko­lani mengatakan, realisasi sub­sidi BBM dan elpiji tersebut naik 96,7 persen dibanding periode yang sama tahun lalu Rp 27,6 triliun. Salah satu alasan kenaikan realisasi subsidi BBM dan elpiji tersebut adalah karena pemerintah melunasi tunggakan subsidi pada tahun sebelumnya sebesar Rp 12 triliun.

"Kenaikan ini karena melunasi tunggakan hasil audit BPK sebe­sar Rp 12 triliun, jadi ini sedikit melampaui pagu," ujar Askolani di Jakarta, kemarin.


Menurut dia, realisasi subsidi BBM dan elpiji itu diperkirakan makin meningkat karena ter­dapat penyesuaian harga BBM yang ditanggung pemerintah dari Rp 500 per liter menjadi Rp 2.000 per liter.

"Penyesuaian harga ini ber­dampak pada tambahan belanja subsidi untuk mendukung kebi­jakan BBM yang sudah ditetap­kan," kata Askolani.

Sementara itu, realisasi sub­sidi listrik juga telah mencapai Rp 38,2 triliun atau 80,2 persen dari pagu dalam APBN Rp 47,7 triliun atau mengalami pertum­buhan 25,2 persen. Dengan demikian, maka keseluruhan realisasi subsidi energi telah mencapai Rp 92,5 triliun atau 97,9 persen dari pagu Rp 94,5 triliun atau mengalami pertum­buhan 59,1 persen.

Menurut dia, subsidi sangat dipengaruhi kondisi ekonomi makro sehingga sulit untuk dipatok, sama halnya dengan Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP). Naiknya harga minyak akan mempengaruhi subsidi.

Askolani yakin, pemerin­tah masih sanggup mengucur­kan subsidi sampai akhir tahun dengan menggunakan dana cadangan.

"Iya, cadangan subsidi tunggakan. Kami 2018 punya tungga­kan untuk subsidi, baik untuk BBM, listrik, dan pupuk. Jadi masih, Insya Allah," katanya.

Pengamat ekonomi dari Uni­versitas Indonesia (UI) Fithra Faisal Hastiadi menuturkan, pembengkakan subsidi ini bisa dihindari jika saja pemerintah punya nyali untuk memotong subsidi BBM. "Solusi inilah yang bisa menekan defisit neraca migas," kata Faisal.

Menurut hasil perhitungan­nya, pengurangan subsidi BBM hanya akan berdampak kecil bagi masyarakat. Dan, hasilnya keuangan negara jadi sehat.

Untuk diketahui, sebelumnya pemerintah berencana menaik­kan harga BBM subsidi (pre­mium) pada pekan lalu. Namun, rencana tersebut dibatalkan den­gan alasan menjaga daya beli.

Defisit Anggaran Turun

Menteri Keuangan Sri Mu­lyani Indrawati mengatakan, realisasi defisit anggaran dalam APBN hingga akhir September 2018 mengalami penurunan dibanding periode yang sama di 2017. Defisit anggaran hingga September mencapai Rp 200,2 triliun atau 1,35 persen terhadap Pendapatan Domestik Bruto (PDB). Jumlah tersebut turun hampir Rp 72 triliun dari periode yang sama tahun lalu sebesar Rp 272 triliun.

Adapun defisit disumbang oleh penerimaan negara sebesar Rp 1.312,3 triliun dan belanja negara sebesar Rp 1.512,6 triliun hingga akhir September 2018. Meski begitu, perempuan yang akrab disapa Ani itu berharap, sampai akhir tahun defisit masih akan terjaga dan sesuai target APBN 2018 2,19 persen.

Hingga September, peneri­maan perpajakan mencapai Rp 1.024,5 triliun atau 63,3 persen dari target. Sedangkan penerimaan negara bukan pa­jak Rp 281,4 triliun atau 102,2 persen dari target.

"Kalau dibandingkan tahun lalu penerimaan perpajakan yang hanya mencapai Rp 879 triliun, berarti pada tahun ini ada pertumbuhan 16,5 persen," kata Ani. ***

Populer

Kekayaan Ibas Demokrat Naik Lebih 700 Persen dalam Empat Tahun, Total Rp354,7 Miliar

Kamis, 25 Juni 2026 | 05:22

KPK Sakit Jiwa

Kamis, 25 Juni 2026 | 15:08

Penggunaan Gedung Kemenhut oleh PSI Berpotensi Melanggar Hukum

Minggu, 28 Juni 2026 | 00:26

Mitra MBG Ultimatum BGN Cabut SE 12/2026 2x24 Jam

Selasa, 23 Juni 2026 | 18:32

KPK Didesak Bongkar Dugaan Aliran Dana ke Oknum Polisi dalam Kasus Bea Cukai

Jumat, 26 Juni 2026 | 01:30

Karier Gila-gilaan Mufli Budi Ananda: Dari Asisten Raffi Ahmad Jadi Komisaris Krakatau Posco

Senin, 29 Juni 2026 | 00:00

Tim Mawar dan Tambang

Minggu, 28 Juni 2026 | 04:59

UPDATE

Jokowi Tinggalkan Jejak Buruk bagi Masyarakat Adat Lampung

Rabu, 01 Juli 2026 | 04:23

Menhan Sjafrie-Dubes Maroko Bahas Penguatan Kerja Sama Pertahanan Indonesia

Rabu, 01 Juli 2026 | 04:11

Kompensasi Uang Bau TPST Bantar Gebang Molor

Rabu, 01 Juli 2026 | 04:01

DJP: Sistem Sudah Siap Pungut Pajak Pedagang Online Mulai 1 Juli

Rabu, 01 Juli 2026 | 03:25

GMNI Dorong Efisiensi APBN Berorientasi Kesejahteraan

Rabu, 01 Juli 2026 | 03:12

CBA Ancam Laporkan KPK ke Dewas soal Suap Impor Bea Cukai

Rabu, 01 Juli 2026 | 03:00

Der Panzer Rontok, Bangsa yang Pernah Hampir Punah Justru Melaju

Rabu, 01 Juli 2026 | 02:34

Erling Haaland Bawa Norwegia Tantang Brasil

Rabu, 01 Juli 2026 | 02:22

Ini Alasan Upacara Hari Bhayangkara Digelar di Satlat Brimob Polri Cikeas

Rabu, 01 Juli 2026 | 02:00

Sanksi Partai Tak Bisa Gantikan Proses Hukum Kasus Dokter Icha

Rabu, 01 Juli 2026 | 01:41

Selengkapnya