Berita

Foto/Net

On The Spot

Jam Ganjil Genap Berubah Tapi Plang Belum Diganti

Tak Lagi dari Pagi Hingga Malam
RABU, 17 OKTOBER 2018 | 09:10 WIB | HARIAN RAKYAT MERDEKA

Pembatasan kendaraan bermotor berdasarkan pelat nomor atau sistem ganjil genap selama Asian Games dan Asian Para Games 2018, dianggap bisa mengurangi kemacetan. Aturan tersebut akhirnya diperpanjang hingga akhir tahun ini.
Aturan tersebut memben­tang di hampir seluruh wilayah Jakarta, kecuali Jakarta Utara. Berlaku pada jam sibuk pagi dan sore hari. Tidak lagi dari pagi hingga malam hari non stop. Di Jakarta Timur, Jalan MT Haryono dan Jalan DI Panjaitan jadi dua ruas jalan yang mener­apkan aturan tersebut.

Pagi dan sore hari, Jalan MT Haryono, mulai dari Simpang UKI Cawang hingga Simpang Pancoran maupun sebaliknya, kerap dilanda kemacetan. Selain volume kendaraan, kemacetan juga akibat dari penyempitan jalan karena proyek infrastruk­tur yang sedang dikerjakan di jalur tersebut.

Pada sore hari, sistem ganjil genap berlaku dari jam empat sore hingga jam delapan malam. Dari pengamatan di Simpang UKI Cawang, arus lalu lintas di Jalan MT Haryono, persis di depan Gedung Badan Narkotika Nasional (BNN) terpantau pa­dat. Hanya ada dua lajur jalan yang tersedia.

Pada sore hari, sistem ganjil genap berlaku dari jam empat sore hingga jam delapan malam. Dari pengamatan di Simpang UKI Cawang, arus lalu lintas di Jalan MT Haryono, persis di depan Gedung Badan Narkotika Nasional (BNN) terpantau pa­dat. Hanya ada dua lajur jalan yang tersedia.

Sayangnya, tak tampak petugasdi sekitar kemacetan terse­but. Baik petugas yang mengatur untuk mencairkan lalu lintas, maupun petugas yang menga­wasi pelaksanaan sistem ganjil genap. Hari itu, Senin (15/10), harusnya hanya kendaraan ber­pelat nomor ganjil yang bisa lewat. Tapi, tampak juga be­berapa kendaraan berplat nomor genap lolos.

Pengawasan petugas baru ter­lihat di ruas Jalan MT Haryono yang menuju Pancoran, di Simpang Dewi Sartika, Cawang. Di tempat itu, tampak lebih dari lima petugas kepolisian berjaga. Dalam waktu singkat, lebih dari lima kendaraan yang tidak ses­uai, dikenakan tilang.

Herry, petugas kepolisian yang berjaga di tempat itu men­gatakan, jumlah pelanggar sudah jauh berkurang sejak pertama kali sistem tersebut diterapkan. Dari pengamatan, sore itu Herry melakukan penindakan terhadap beberapa kendaraan. Sementara satu kendaraan lain dilepas. Kendaraan itu berplat nomor asal Provinsi Banten.

"Iya, dilepas. Alamatnya di luar kota dan dia tidak tahu aturan ganjil genap. Mau saya tilang pakai form biru, tapi dia tidak ada rekening. Ngakunya mau masuk tol dalam kota di Cikoko," jelas Herry.

Dia menambahkan, meski saat ini statusnya adalah perpan­jangan, namun pihaknya juga masih mensosialisasikan aturan tersebut. Namun, Herry meminta pihak terkait untuk segera meng­ganti rambu pemberitahuan aturan ganjil genap di jalan yang menuju area sistem tersebut.

"Mesti diganti plang pemberitahuannya. Kayak yang di bawah tuh (Jalan Dewi Sartika), plangnya masih jam enam pagi sampai jam sembilan malam. Padahal, sekarang cuma berlaku pagi dan sore," ucapnya.

Dari beberapa plang di sejumlah ruas jalan, memang tampak belum diganti. Seperti pada plang yang berada di Jalan Inspeksi Kali Malang, Kecamatan Makassar, dan Jalan Basuki Rachmat, Jatinegara, Jakarta Timur. Plang-plang di tempat tersebut masih menunjukkan sistem ganjil genap berlaku dari pagi hingga malam hari.

Di sisi lain di Jalan DI Panjaitan, hampir tak ada pengawasan, apalagi penindakan terkait aturan ganjil genap di ruas jalan terse­but yang mengarah ke Tanjung Priok. Mobil pribadi dengan plat nomor yang tidak sesuai, tampak bebas melenggang tanpa ada penindakan.

Perpanjangan sistem ganjil genap mengundang pro dan kontra dari warga Ibu Kota. Anang, salah satunya. Warga Tanah Abang, Jakarta Pusat, mengakukeberatan jika penerapanitu diperpanjang karena belum jelas apakah aturan tersebut bermanfaat atau tidak bagi masyarakat.

"Harusnya kasih tahu dulu evaluasi atau hasil penerapan kemarin ke masyarakat, apa manfaatnya. Apa benar bisa men­gurai kemacetan. Atau jangan-jangan hanya memindahkan kemacetan," ujar Anang.

Apalagi, banyak plang yang belum diubah. Penerapan ganjil genap ini, lanjut Anang, sebaiknya polisi mencegah. "Dialihkan, jangan dibiarkan yang platnya tidak sesuai. Pas masuk jalur ditilang," ucapnya.

Senada, Nius, pengemudi taksi online mengaku tak setuju aturan tersebut. Dia mengaku bingung mencari rute alternatif sistem ganjil genap. Pasalnya, hampir semua jalan utama di Jakarta telah diberlakukan sistem tersebut. Padahal, jalan-jalan yang diberlakukan sistem itu merupakan jalan yang biasa dilalui untuk menjemput atau mengantar penumpang.

"Kemarin-kemarin bingung juga. Hampir semua, dari UKI sampai Grogol, terus dari UKI sampai Cempaka Putih juga. Ditambah Rasuna Said. Sebelumnya Sudirman-Thamrin sudah. Padahal, itu tempat-tempat biasa nganter atau jemput," ucapnya.

Terpisah, warga lain, Solehuddin mengaku sepakat dengan keputusan Pemprov DKI dan Ditlantas Polda Metro Jaya. Penerapan aturan tersebut, menurut­nya, membuat lalu lintas di Jakarta lebih tertib. Bahkan Soleh mem­inta adanya pelebaran penerapan di titik rawan kemacetan.

"Ya setuju saja, ini meminimalisir kemacaten. Kalau bisa di jalan lain terapkan seperti di Daan Mogot. Itu kan kalau sore lumayan parah macetnya. Lagipula, sekarang banyak angkutan alternatif, Transjakarta ada, ojek dan taksi online juga ada," ucap Soleh. ***

Populer

Pensiunan ASN Bakal Terima Uang Pensiun Langsung dari Kas Negara pada 2027

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 16:07

Siaga 98 Desak DPR Kaji Putusan MK Terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 09:41

Kuliah Bukan Bukti Tamat SMA

Senin, 12 Oktober 2026 | 10:55

Parpol seperti Kompak Menolak Bela Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:35

Purnawirawan TNI Bersikap Kenegarawanan soal Putusan MK terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:50

Bupati Klaten Dikabarkan Terjaring OTT KPK

Kamis, 15 Oktober 2026 | 11:10

Adik dan Orang Kepercayaan Kepala BNPB Suharyanto Dikabarkan Ditetapkan Tersangka KPK

Rabu, 14 Oktober 2026 | 10:12

UPDATE

Investor Diminta Wait and See, Pengamat Prediksi Banyak yang Ditangkap Imbas MSCI

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 12:30

Serangan Houthi Ganggu Ajang Olahraga Saudi, Piala Asia Tetap Sesuai Jadwal

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 12:14

Putusan MK soal UU Peradilan Militer Momentum Akhiri Impunitas

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 12:06

Komisi III DPR Desak Pelaku Korupsi Dana Bencana Dihukum Maksimal!

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 11:46

Daftar Negara Masuk Standalone Market MSCI, Ada 12 Negara

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 11:34

Dihantam Ancaman MSCI, IHSG Terancam Anjlok ke 4.700 Pekan Depan

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 11:24

Minyak Dunia Tembus 110 Dolar AS

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 11:07

Profil Hamenang Wajar Ismoyo, Bupati Klaten Tersangka Kasus Suap Audit BPK

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 10:53

Karhutla Meluas, Legislator Golkar Desak Evaluasi Pencegahan dan Penegakan Hukum

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 10:52

BMKG Deteksi Sebaran Asap Karhutla hingga Jakarta dan Papua

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 10:39

Selengkapnya