Berita

Heri Gunawan/Net

Politik

Depresiasi Rupiah Berdampak Peningkatan Jumlah PHK

SELASA, 09 OKTOBER 2018 | 17:51 WIB | LAPORAN:

Depresiasi rupiah saat ini telah meninggalkan jauh target pemerintah dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN). Di RPJMN 2018, nilai tukar rupiah ditargetkan sebesar Rp 13.400 per dolar Amerika Serikat, namun saat ini sudah mencapai Rp 15.200.

Anggota Komisi XI DPR RI Heri Gunawan mengatakan, perkembangan terakhir rupiah bisa terus mengalami depresiasi hingga lebih dari 3,94 persen pekan ini dari pekan lalu yang sebesar 3,50 persen. Sehingga, diperkirakan sementara ini, nilai tukar rupiah terhadap dolar bisa menyentuh level Rp 15.500.

Hal itu juga dapat dilihat dari exchange forward bank BCA misalnya sebesar Rp 15.600 per dolar pada enam bulan ke depan. Ini bisa jadi baru permulaan karena The Fed akan kembali menaikkan suku bunga atau Fed Fund Rate beberapa kali lagi sampai tahun depan.


"Saat ini, secara total maka Rupiah telah terdepresiasi lebih dari 11 sampai 12 persen tahun ini," jelas Heri dalam keterangannya, Selasa (9/10).

Dia mengingatkan, dampak akibat depresiasi rupiah adalah cadangan devisa yang diprediksi akan terus turun ke level 115 miliar dolar AS sampai dengan akhir bulan Oktober. Karena cadangan devisa terus turun akibat pemerintah mengintervensi rupiah, ada wacana agar Indonesia menggunakan Asia’s Crisis Reserve Pool untuk menahan laju depresiasi rupiah.

"Asia Crisis Reserve Pool ini berjumlah 240 miliar dolar AS yang bisa dipinjam oleh negara-negara asia dalam keadaan darurat untuk mengatasi gejolak keuangan. Khusus untuk situasi Indonesia saat ini, dialokasikan 23 miliar dolar AS dari pool dana tersebut jika pemerintah Indonesia memerlukan," papar Heri.

Menurutnya, pelemahan rupiah juga bisa berdampak pada peningkatan pemutusan hubungan kerja (PHK). Terutama PHK terjadi pada industri yang selama ini menggantungkan bahan baku impor.

"Potensi PHK semakin membesar seiring dengan terus melemahnya mata uang rupiah terhadap dolar Amerika," kata Heri.

Heri menambahkan, depresiasi rupiah juga menyebabkan daya beli masyarakat menurun akibat meningkatnya harga-harga barang. Saat ini harga belum naik lantaran pedagang masih menggunakan stok lama.

"Dalam dua tiga bulan ke depan, ketika pedagang sudah membeli bahan baku baru maka kenaikan harga tidak bisa dihindarkan. Sekalipun tidak ada kenaikan volumenya pasti diturunkan," imbuh politisi Partai Gerindra tersebut. [ian] 

Populer

Ketika Jenderal Memimpin yang Bukan Bidangnya

Kamis, 04 Juni 2026 | 00:15

Nama Raffi Ahmad Muncul di Sidang Blueray Cargo, Pengacara Minta Pemeriksaan Menyeluruh

Minggu, 07 Juni 2026 | 21:11

Tiga Pensiunan Jenderal Nyungsep Gegara Tersandung Kasus

Jumat, 05 Juni 2026 | 03:16

KPK Dikabarkan OTT Pejabat Imigrasi Jakarta Barat, Diduga Terkait TKA

Rabu, 03 Juni 2026 | 07:33

Rita Widyasari: Dari Suap, Gratifikasi dan TPPU hingga Korporasi Tambang

Rabu, 03 Juni 2026 | 17:07

Ketika Pencalonan Ryamizard Ryacudu sebagai Panglima TNI Dianulir SBY

Selasa, 02 Juni 2026 | 03:18

Dadan Hindayana Kena Batunya

Rabu, 03 Juni 2026 | 01:04

UPDATE

Waspadai Modus Penipuan Mengatasnamakan Bantuan Sosial

Sabtu, 13 Juni 2026 | 06:21

Ayam Mati di Lumbung Listrik

Sabtu, 13 Juni 2026 | 06:04

Narasi 'Sell Indonesia' Manipulatif

Sabtu, 13 Juni 2026 | 05:52

Krisis 1998 Meninggalkan Trauma Strategis

Sabtu, 13 Juni 2026 | 05:28

Titin Rita Lestari, Air Mata yang Tak Sempat Jatuh

Sabtu, 13 Juni 2026 | 05:09

Sangat Janggal Kejagung Tak Periksa Nanik S Deyang

Sabtu, 13 Juni 2026 | 05:01

BUMD Didorong Bertransformasi sebagai Lokomotif Ekonomi Daerah

Sabtu, 13 Juni 2026 | 04:35

Farhan Pastikan Bandung Aman Hadapi Musim Liburan

Sabtu, 13 Juni 2026 | 04:19

Bosnia-Herzegovina Gagal Bungkam Tuan Rumah Kanada

Sabtu, 13 Juni 2026 | 04:07

Jaringan Narkoba Sumsel-Jabar Dibongkar Polisi

Sabtu, 13 Juni 2026 | 03:35

Selengkapnya