Berita

Abdullah Abdullah (kanan)/RMOL

Wawancara

Abdullah: Sayangnya, Taliban Masih Terus Bersembunyi…

SABTU, 06 OKTOBER 2018 | 23:42 WIB | LAPORAN:

Bagi Republik Islam Afghanistan, Republik Indonesia adalah negara yang istimewa. Tidak hanya karena kedua negara memiliki hubungan yang erat sejak lama, juga karena Indonesia memiliki peran dalam proses perdamaian di Afghanistan yang kini memasuki babak baru.

Presiden Afghanistan Ashraf Ghani secara khusus melibatkan Wakil Presiden Jusuf Kalla dalam pembicaraan damai antara pemerintah Afghanistan dengan kelompok Taliban, akhir Februari lalu. Pertemuan itulah yang dipandang sebagai awal dari babak baru menuju perdamaian di Afghanistan.

Beberapa hari lalu Presiden Ghani juga mengutus Kepala Eksekutif Republik Islam Afghanistan Abdullah Abdullah ke Jakarta untuk merayakan peringatan ulang tahun ke-99 Afghanistan di Jakarta.


Abdullah Abdullah dan Jusuf Kalla tampil dalam resepsi perayaan yang diselenggarakan di Ritz Carlton, Jakarta, Kamis (4/10).

Dalam wawancara dengan redaksi Kantor Berita Politik RMOL, sehari setelah itu, Abdullah Abdullah menyampaikan apresiasinya atas peranan Indonesia dan berharap di masa depan hubungan kedua negara akan semakin erat dan hangat.  

Dalam wawancara juga ditanyakan perkembangan proses perdamaian dengan Taliban.

Berikut petikannya:

Apa hasil pertemuan Anda dengan Presiden Jokowi dan Wakil Presiden Jusuf Kalla kemarin?

Pertama-tama, kita lihat bahwa dalam kurun waktu dua hingga tiga tahun ini kepala negara baik Indonesia dan Afghanistan saling mengunjungi satu sama lain. Dimana Presiden Jokowi mengunjungi Kabul dan Presiden Afghanistan Ashraf Gani juga berkunjung ke Jakarta.

Hubungan antar dua negara selama ini selalu baik. Tapi di beberapa tahun belakangan ini semakin baik. Pertemuan ulama tiga negara Pakistan, Afghanistan dan Indonesia pada Mei 2018 lalu juga membahas tentang perdamaian dan stabilitas Afghanistan.

Indonesia adalah negara yang sangat ramah dan bersahabat. Kemarin juga membicarakan tentang peningkatan kapasitas kerja sama di bidang pendidikan serta bantuan teknis sesuai dengan pengalaman yang Indonesia miliki. Selain itu pertemuan tersebut juga akan ada banyak kerja sama antara dua negara di sektor swasta.

Selain itu juga akan ada kerja sama antara perusahaan negara dan perusahaan swasta baik di Jakarta maupun di Kabul. Afghanistan adalah negara yang kaya, ada banyak kesempatan bisnis yang bisa dilakukan bersama. Indonesia memiliki banyak sumber daya alam seperti pertambangan, gas dan minyak bumi. Selain itu Indonesia juga memiliki banyak pengalaman di bidang food and beverages jadi kemarin kita bertemu dengan Kamar Dagang dan Industri Indonesia (Kadin) dan akan banyak kerja sama antar dua negara di sektor swasta.

Setelah tiba di Jakarta menurut Anda apa yang bisa dipelajari Afghanistan dari Indonesia dan sebaliknya?

Saya pikir harus ada interaksi antar dua negara. Ada begitu banyak keinginan dan tujuan baik dalam kunjungan ini. Begitu banyak rasa hormat terhadap Indonesia yang sebagian besar penduduknya adalah muslim, dan negaranya sangat damai dan toleran. Itu yang kita lihat dan menurut saya sangat berharga dan saya menunggu apa yang bisa dikerjakan bersama.

Ada kemungkinan meningkatkan kerjasama di bidang pendidikan?

Sektor pariwisata adalah salah satu yang dibahas dalam pertemuan kemarin. Ada banyak potensi di bidang pariwisata yang kita bahas kemarin dan yang akan kita bangun kerja samanya di masa depan.

Sementara itu di bidang pendidikan kemarin Presiden Jokowi dan Wapres Jusuf Kalla telah berjanji akan menambah jumlah penerima beasiswa. Kami berharap segera ada MoU antara dua negara baik itu di bidang pendidikan juga di bidang lain.

Bagaimana suasana terkini di Afghanistan saat ini termasuk setelah bergabungnya Taliban sebagai salah satu partai di Afghanistan. Apakah masyarakat menerima kondisi tersebut?

Sebagian besar penduduk di Afghanistan ingin perdamaian dan itu tidak perlu diragukan lagi. Sayangnya Taliban masih saja terus menyembunyikan keberadaannya.

Hasil dari pertemuan Dewan Ulama belum akan menghasilkan perdamaian tapi ulama dari tiga negara dapat ambil bagian (dalam proses perdamaian). Selain itu ulama dari negara-negara muslim yang mana kami juga sering melakukan pertemuan seperti dengan WIC (World Islamic Senter).

Selain itu ulama dari seluruh dunia yang mendukung perdamaian.

Sayangnya pertempuran masih saja berlangsung di Afghanistan.

Namun sikap kami tetap siap yakni untuk kembali bicara dan negosiasi. Kami siap bicara dan negosiasi setiap ada kesempatan dari pihak sana (Taliban). Ada begitu banyak hal positif yang terjadi (sejak dimulai negosiasi dengan Taliban) di bidang pendidikan, civil society, sektor swasta, media, kebebasan dalam konstitusi yang sangat membanggakan bagi kami. Jadi ada banyak kesempatan untuk membangun masa depan yang lebih baik lagi.

Disebutkan bahwa 25 persen anggota parlemen di Afghanistan adalah perempuan. Angka ini cukup mengejutkan, bisa dijelaskan tentang ini?

Ini adalah permintaan konstitusi yang mana disebutkan bahwa seharusnya lebih dari 25 persen anggota legislatif adalah wanita.

Wanita adalah bagian dari pemerintah dan kami memiliki beberapa menteri dan beberapa posisi penting dijabat oleh wanita dan bahkan juga dalam bidang ekonomi, jasa dan juga media. Banyak yang sudah berubah dalam beberapa tahun ini termasuk peran wanita di Afghanistan itu sendiri.[guh]

Populer

Enak Jadi Mulyono Bisa Nyambi Komisaris di 12 Perusahaan

Kamis, 12 Februari 2026 | 02:33

Kasihan Jokowi Tergopoh-gopoh Datangi Polresta Solo

Kamis, 12 Februari 2026 | 00:45

Rakyat Menjerit, Pajak Kendaraan di Jateng Naik hingga 60 Persen

Kamis, 12 Februari 2026 | 05:21

Jokowi Layak Digelari Lambe Turah

Senin, 16 Februari 2026 | 12:00

Dua Menteri Prabowo Saling Serang di Ruang Publik

Kamis, 12 Februari 2026 | 04:20

Cara Daftar Mudik Gratis BUMN 2026 Lengkap Beserta Syaratnya

Kamis, 12 Februari 2026 | 20:04

Jokowi Makin Terpojok secara Politik

Minggu, 15 Februari 2026 | 06:59

UPDATE

Tips Aman Belanja Online Ramadan 2026 Bebas Penipuan

Minggu, 22 Februari 2026 | 09:40

Pasukan Elit Kuba Mulai Tinggalkan Venezuela di Tengah Desakan AS

Minggu, 22 Februari 2026 | 09:29

Safari Ramadan Nasdem Perkuat Silaturahmi dan Bangun Optimisme Bangsa

Minggu, 22 Februari 2026 | 09:23

Tips Mudik Mobil Jarak Jauh: Strategi Perjalanan Aman dan Nyaman

Minggu, 22 Februari 2026 | 09:16

Legislator Dorong Pembatasan Mudik Pakai Motor demi Tekan Kecelakaan

Minggu, 22 Februari 2026 | 08:33

Pernyataan Jokowi soal Revisi UU KPK Dinilai Problematis

Minggu, 22 Februari 2026 | 08:26

Tata Kelola Konpres Harus Profesional agar Tak Timbulkan Tafsir Liar

Minggu, 22 Februari 2026 | 08:11

Bukan Gibran, Parpol Berlomba Bidik Kursi Cawapres Prabowo di 2029

Minggu, 22 Februari 2026 | 07:32

Koperasi Induk Tembakau Madura Didorong Perkuat Posisi Tawar Petani

Minggu, 22 Februari 2026 | 07:21

Pemerintah Diminta Kaji Ulang Kesepakatan RI-AS soal Pelonggaran Sertifikasi Halal

Minggu, 22 Februari 2026 | 07:04

Selengkapnya