Berita

Ilustrasi/Net

Bisnis

Sejak Awal Tahun, Rupiah Terdepresiasi Di Atas 10 Persen

SABTU, 06 OKTOBER 2018 | 15:23 WIB | LAPORAN: ADE MULYANA

. Pada perdagangan akhir, Jum,at (5/10) posisi rupiah berada di level Rp15.183 per dolar AS. Menguat tipis dibanding ketika pembukaan di pasar spot pada level Rp15.189. Hingga kini, sejak awal tahun 2018, nilai rupiah sudah terdepresiasi diatas 10 persen.

Seperti diketahui, sepanjang semester I tahun 2018, rata-rata nilai tukar rupiah terhadap dollar AS sebesar Rp13.746. Lebih tinggi dari tahun 2017, sekitar Rp13.500.

Melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dollar AS menembus angka Rp13.500 mulai terjadi pada akhir Februari hingga awal Maret. Berkisar antara Rp13.600 sampai Rp13.700.


Pada 8 Februari 2018, rupiah melemah pada level Rp13.600 dan melorot lagi hingga level Rp13.800 pada akhir April.

Pada Selasa (8/5), nilai rupiah menembus angka diatas Rp14.000. Bercokol pada level Rp14.036. Sebelumnya masih pada kisaran Rp13.800 hingga Rp13.900.

Merujuk Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) Bank Indonesia, Jum’at (5/10), Rupiah tampak melemah ke level  Rp 15.182 per dolar AS. Sebelumnya pada level Rp 15.133 per dolar AS.

Sehingga, sejak Semester I 2018 sampai saat ini, dimana nilai tukar rupiah menembus angka Rp15.000, telah mengalami depresiasi diatas 10 persen.

Pada Rabu (9/5) Direktur Utama Bursa Efek Indonesia (BEI) Tito Sulistio, usai acara Pencatatan Perdana Saham Pertama BRI Syariah di BEI mengingatkan, salah satu faktor yang berkorelasi dengan tren pelemahan rupiah adalah soal pengelolaan anggaran negara.

Kata Tito, pemerintah masih perlu memperkuat struktur APBN dan memperjelas kebijakan. Bagi investor, kepastian dan keterbukaan merupakan kunci dari keputusan untuk menanamkan modal di Indonesia.

"Jangan sampai kita dianggap seperti Filipina, yang dalam tanda kutip kurang terbuka mengenai transparansi keuangan," ujar Tito. [dem]

Populer

Dosen Unikama Kecewa, Lima Bulan Kampus Dikuasai Kelompok Tak Dikenal

Jumat, 30 Januari 2026 | 02:25

Kasus Hogi Minaya Dihentikan, Komisi Hukum DPR: Tak Penuhi Unsur Pidana

Rabu, 28 Januari 2026 | 17:07

Hologram di Ijazah UGM Jadi Kuncian Mati, Jokowi Nyerah Saja!

Senin, 26 Januari 2026 | 00:29

Wanita di Medan Terima Vonis 2 Tahun Usai Gunakan Data Orang Lain untuk Pengajuan Kredit

Jumat, 30 Januari 2026 | 16:50

Jokowi Butuh Perawatan Kesehatan Super Intensif

Jumat, 30 Januari 2026 | 00:41

Rektor UGM Bikin Bingung, Jokowi Lulus Dua Kali?

Rabu, 28 Januari 2026 | 22:51

KPK Amankan Dokumen dan BBE saat Geledah Kantor Dinas Perkim Pemkot Madiun

Rabu, 28 Januari 2026 | 11:15

UPDATE

Jokowi Jadikan PSI Kendaraan Politik demi Melanggengkan Dinasti

Senin, 02 Februari 2026 | 10:15

IHSG "Kebakaran", Sempat Anjlok Hingga 5 Persen

Senin, 02 Februari 2026 | 09:49

Ketegangan Iran-AS Reda, Harga Minyak Turun Hampir 3 Persen

Senin, 02 Februari 2026 | 09:47

Tekanan Pasar Modal Berlanjut, IHSG Dibuka Anjlok Pagi Ini

Senin, 02 Februari 2026 | 09:37

Serang Pengungsi Gaza, Israel Harus Dikeluarkan dari Board of Peace

Senin, 02 Februari 2026 | 09:27

BPKN Soroti Risiko Goreng Saham di Tengah Lonjakan Jumlah Emiten dan Investor

Senin, 02 Februari 2026 | 09:25

Komitmen Prabowo di Sektor Pendidikan Tak Perlu Diragukan

Senin, 02 Februari 2026 | 09:14

Menjaga Polri di Bawah Presiden: Ikhtiar Kapolri Merawat Demokrasi

Senin, 02 Februari 2026 | 09:13

Emas Melandai Saat Sosok Kevin Warsh Mulai Bayangi Kebijakan The Fed

Senin, 02 Februari 2026 | 09:07

Nikkei Positif Saat Bursa Asia Dibuka Melemah

Senin, 02 Februari 2026 | 08:49

Selengkapnya