Berita

Ratna Sarumpaet dan Prabowo Subianto/Net

Politik

Patah Nyali Ratna Sarumpaet

SELASA, 02 OKTOBER 2018 | 17:56 WIB | OLEH: ZENG WEI JIAN

KATANYA, rezim reformasi baik. Sudah 4 kali Ratna Sarumpaet dituduh terlibat "makar" (anslag).

Tapi baru di rezim sekarang, dia dianiaya. Dihajar tiga orang lelaki. Kedua mata dan bibirnya bengkak.

Kejadian tanggal 21 September 2018, tapi baru 01 Oktober diketahui publik. Di sekitar Bandara Husein Sastranegara Bandung.


Taxi dihentikan. Ratna Sarumpaet diseret ke area gelap. Dihajar tanpa ampun. Perutnya diinjak. Nyaris pingsan, tubuhnya diseret dan dibuang ke jalanan. Kepalanya sobek kena aspal kasar.

Seorang budaya pada awalnya, pemberontakan politik Ratna Sarumpaet dibuka oleh episode "Marsinah", seorang buruh perempuan yang dibunuh tahun 1993.

Jelang Pemilu 1997, Ratna Sarumpaet terlibat aksi mendukung Mega-Bintang. Dia dan Sekjen Aldera Pius Lustrilanang ditarget. Di Ancol, saat Ratna Sarumpaet menggelar Kongres Rakyat, dia ditangkap. Tapi tidak dipukuli sampe bonyok.

Semasa Habibie berkuasa, Ratna Sarumpaet kembali dituduh makar. Jenderal Wiranto memimpin pengejaran. Ratna Sarumpaet lolos. Tidak bonyok.

Ratna Sarumpaet, dan Adhie Masardi, membentuk MKRI (Majelis Kedaulatan Rakyat Indonesia). Alhasil, Pemerintah SBY kembali menyebutnya makar.

Jelang Aksi Bela Islam III, tanggal 01 Desember 2016, Ratna Sarumpaet diringkus di kamar hotelnya di pagi buta. Bersama Sri Bintang Pamungkas, Ahmad Dhani, dua orang jenderal Angkatan Darat dan lainnya, Ratna Sarumpaet dituduh makar. Dia ditahan di Mako Brimob.

Habiburokhman dan ACTA mengejar, mendampinginya sampai tuntas. Atas intervensi Prabowo Subianto, Ratna Sarumpaet dan 10 orang yang dituduh makar akhirnya dibebaskan.

Baru kali ini, Ratna Sarumpaet tampak takut. Nyalinya patah. Sampai menutup kasus penganiayaan dua minggu lalu. Keep silent. Padahal katanya Rezim Orde Baru lebih jahat dari rezim reformasi. Nyatanya, saya mulai meragukan itu.

Sebelum Ratna Sarumpaet, ada kasus Novel Baswedan disiram air keras. Kasus kecil. Tapi setahun lebih tak sanggup dibongkar. Aktifis Pro Demokrasi wajib takut dengan kondisi saat ini. Biasanya, salah satu ciri rezim yang akan tumbang, dia semakin represif dan agresif.

Sekarang ini, Komnas-Komnas sudah jadi alat rezim. Saat Neno Warisman dipersekusi, mereka diam. Ratna Sarumpaet babak-belur, mereka juga diam. [***]

Penulis adalah kolumnis dan aktvis Komunitas Tionghoa Anti-Korupsi (Komtak)

Populer

KSAD Maruli: Saya Minta Maaf dan Bertanggung Jawab

Jumat, 04 September 2026 | 20:28

Advokat Pitra Romadoni Dipanggil Polres Bogor

Rabu, 09 September 2026 | 01:15

Mengenal Pantas Sutardja, Orang Super Kaya AS Berdarah Indonesia

Kamis, 10 September 2026 | 05:04

Masa Jabatan Gibran Tinggal Hitungan Hari

Kamis, 03 September 2026 | 14:46

KPK Periksa Karyawan PT SCGU

Selasa, 08 September 2026 | 15:34

Purbaya Bantah Terima Suap untuk Pertahankan Pejabat Bea Cukai

Sabtu, 05 September 2026 | 16:59

Usai Dimaafkan Jusuf Hamka, KAKI Dorong Polri Buka Kembali Kasus NCD Unibank

Sabtu, 05 September 2026 | 19:53

UPDATE

Perdana sebagai Anggota Penuh, Prabowo Hadiri KTT BRICS di India

Sabtu, 12 September 2026 | 12:20

Serda Ahmad Muzammil Tewas, POMAU Periksa 4 Personel

Sabtu, 12 September 2026 | 12:06

Menteri Imipas Penuhi Janji, 82 WNI Dipulangkan dari Malaysia

Sabtu, 12 September 2026 | 11:52

Kemendikdasmen Prioritaskan Revitalisasi Ribuan Sekolah, Ini Kategorinya

Sabtu, 12 September 2026 | 11:37

Pertamina Patra Niaga Tingkatkan Pasokan BBM ke SPBU Sulsel

Sabtu, 12 September 2026 | 11:28

Soal Life Jacket yang Ditemukan, Pemilik Kapal Buka Suara

Sabtu, 12 September 2026 | 11:10

Hari Pelanggan, Manfaat Perlindungan Kesehatan Tembus Rp1,1 Triliun

Sabtu, 12 September 2026 | 11:01

LRT Jabodebek Beroperasi Normal Usai Gempa M5,9 Guncang Jakarta

Sabtu, 12 September 2026 | 10:50

Emas Antam Naik di Akhir Pekan, Satu Gram Jadi Segini

Sabtu, 12 September 2026 | 10:45

DPR Desak Usut Tuntas Penembakan Tiga Pegawai Pertanian Jayawijaya

Sabtu, 12 September 2026 | 10:28

Selengkapnya