Berita

Ratna Sarumpaet/Net

Politik

Ratna Sarumpaet Dianiaya

SELASA, 02 OKTOBER 2018 | 16:20 WIB | OLEH: ZENG WEI JIAN

KATANYA, rezim reformasi baik. Sudah 4 kali Ratna Sarumpaet dituduh terlibat makar. Tapi baru di rezim sekarang, dia dianiaya. Kedua mata dan bibirnya bengkak. Kejadian tanggal 21 September 2018, tapi baru 01 Oktober diketahui publik.

Seorang budaya pada awalnya, pemberontakan politik Ratna Sarumpaet dibuka oleh episode "Marsinah", seorang buruh perempuan yang dibunuh tahun 1993.

Jelang Pemilu 1997, Ratna Sarumpaet terlibat aksi mendukung Mega-Bintang. Dia dan Sekjen Aldera Pius Lustrilanang ditarget. Di Ancol, saat Ratna Sarumpaet menggelar Kongres Rakyat, dia ditangkap. Tapi tidak dipukuli sampe bonyok.


Semasa Habibie berkuasa, Ratna Sarumpaet kembali dituduh makar. Jenderal Wiranto memimpin pengejaran. Ratna Sarumpaet lolos. Tidak bonyok.

Ratna Sarumpaet, dan Adhie Masardi, membentuk MRI (Majelis Rakyat Indonesia). Alhasil, Pemerintah SBY kembali menyebutnya makar.

Jelang Aksi Bela Islam III, tanggal 01 Desember 2016, Ratna Sarumpaet diringkus di kamar hotelnya di pagi buta. Bersama Sri Bintang Pamungkas, Ahmad Dhani, dua orang jenderal Angkatan Darat dan lainnya, Ratna Sarumpaet dituduh makar. Dia ditahan di Mako Brimob. Habiburokhman dan ACTA mengejar, mendampinginya sampai tuntas. Atas intervensi Prabowo Subianto, Ratna Sarumpaet dan 10 orang yang dituduh makar akhirnya dibebaskan.

Baru kali ini, Ratna Sarumpaet tampak ketakutan. Sampai menutup kasus penganiayaan dua minggu lalu. Padahal katanya Rezim Orde Baru lebih jahat dari rezim reformasi. Nyatanya, saya mulai meragukan itu.

Sebelum Ratna Sarumpaet, ada kasus Novel Baswedan disiram air keras. Kasus kecil. Tapi setahun lebih tak sanggup dibongkar. Aktivis Pro Demokrasi wajib takut dengan kondisi saat ini. Biasanya, salah satu ciri rezim yang akan tumbang, dia semakin represif dan agresif. [***]

Penulis adalah kolumnis dan aktvis Komunitas Tionghoa Anti-Korupsi (Komtak)


Populer

Bupati Klaten Dikabarkan Terjaring OTT KPK

Kamis, 15 Oktober 2026 | 11:10

Adik dan Orang Kepercayaan Kepala BNPB Suharyanto Dikabarkan Ditetapkan Tersangka KPK

Rabu, 14 Oktober 2026 | 10:12

Pergantian KSAD jadi Sinyal Skenario Baru Penentuan Panglima TNI

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 03:02

Jokowi sudah Ditinggalkan Parpol, Polri, hingga Oligarki

Senin, 19 Oktober 2026 | 04:00

Gagal Atasi Karhutla, Pecat Menhut Raja Juli!

Jumat, 16 Oktober 2026 | 23:30

KPK Dalami Keterlibatan Bobby Nasution dalam Kasus Korupsi Proyek Jalan Sumut

Jumat, 23 Oktober 2026 | 09:19

Gugat Allianz Rp1,5 Miliar, Krisdayanti Ajukan Perkara ke PN Jaksel

Minggu, 18 Oktober 2026 | 13:28

UPDATE

Darwis Ismail Terpilih jadi Nakhoda Baru ISKINDO Periode 2026-2031

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 03:46

Polda Metro Bongkar Penyelundupan 54 Ton Batu Galena dari Gorontalo

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 03:27

Usul LBP Makin Terasa Janggal, Reformasi Hukum Jangan Kehilangan Arah

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 02:59

Manifesto Welfare State Pesisir

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 02:30

Gerakan 1 Juta Liter Air Bersih BEM PTNU Teruskan Semangat Resolusi Jihad

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 02:05

Sidang Praperadilan Kasus Relawan Prabowo Ditunda, Hakim Tegur Kelalaian Pemanggilan

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 01:51

Langkah Cepat Polda Jatim Cegah Potensi Kericuhan Aksi Mahasiswa Tuai Apresiasi

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 01:26

PT TIMAH Buka Opsi Buyback Saham Sikapi Dinamika Pasar Modal

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 00:49

GMNI Puji Ketegasan Kapolri Bongkar Penyelundupan 1,16 Ton Ketamin

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 00:21

PKS Dukung Pemerintah Lakukan Reformasi Bursa Saham Menyeluruh

Jumat, 23 Oktober 2026 | 23:45

Selengkapnya