Berita

Tjahjo Kumolo/Net

Wawancara

WAWANCARA

Tjahjo Kumolo: Stop Kampanye, Partai Politik Kalau Mau Bagi Sembako & Kebutuhan Korban Gempa Silakan...

SELASA, 02 OKTOBER 2018 | 08:55 WIB | HARIAN RAKYAT MERDEKA

Sebelumnya, beredar kabar yang menyatakan masyarakat Palu diperbolehkan mengambil barang di minimarket pasca gem­pa dan tsunami adalah Menteri Dalam Negeri (Mendagri), Tjahjo Kumolo.


Namun, Tjahjo pun membantah kabar tersebut. Dia menyatakan tidak pernah memberikan perintah untuk melakukan penjarahan. Berikut penuturannya.

Bagaimana tanggapan Anda soal memberikan izin masyarakat untuk menjarah toko?
Hari Sabtu itu dalam rapat ka­mi hanya menyampaikan singkat saja, tolong Pak Gubernur, kare­na bantuan makan-minum belum masuk, saya melihat pengungsi yang sakit dan sebagainya, to­long dibelikan dulu.
Hari Sabtu itu dalam rapat ka­mi hanya menyampaikan singkat saja, tolong Pak Gubernur, kare­na bantuan makan-minum belum masuk, saya melihat pengungsi yang sakit dan sebagainya, to­long dibelikan dulu.

Jadi printahnya hanya beli makanan yang ada ya, bukan membebaskan masyarakat untuk ngambil atau jarah makanan?
Iya. Dalam rapat saya hanya minta Pemda fasilitasi untuk membeli minuman dan makanan di toko yang jual. Saya minta prioritas berikan dulu ke pengungsi, dan yang dirawat di rumah sakit. Cari yang punya toko, dan dibeli dulu. Saat itu saya juga minta pengawalan Satpol-PP dan Polri kemudian bagikan makanan tersebut. Saya menyuruh begitu karena saat itu darurat listrik mati, dan bantuan baru masuk malam dari daerah tet­angga. Kondisi darurat, makanan, dan minuman belum masuk. Jadi saya minta langsung ke gubernur, untuk beli minumandari toko yang tutup. Uang gotong royong. Kemendagri ikut beli juga.

Tapi kabarnya terjadi pe­jarahan dan bukan hanya di toko makanan, tapi juga toko lainnya seperti emas?
Setahu saya hari Sabtu belum ada penjarahan. Penjarahan eng­gak boleh dong. Orang sama-sa­ma korban yang kena musibah. Sabtu hanya soal makanan saja yang kami instruksikan untuk di­beli, yang kami usahakan untuk borong supaya bisa dibagikan kepada para korban. Tapi tidak ada yang jual.

Pemda setempat belum bisa beroperasi normal akibat ben­cana. Apa yang Kemendagri lakukan terkait masalah ini?
Hari Selasa ini, tim Kemendagri serta IPDN Manado dan Makassar merapat ke sana ya, membantu pendampingan, baik di Palu, Donggala, dan Sigi. Yang penting, pemerintah desa, kecamatan, kota dan provinsi, semuanya berjalan. Sehingga bisa menerima laporan, aduan masyarakat dan inventarisasi masalah. Pola perbantuan pe­layanan publik seperti ini pernah diterapkan ketika bencana di Lombok, Nusa Tenggara Barat, beberapa waktu lalu. Oleh kare­na itu, saya berharap bantuan ini bisa langsung berjalan optimal.

Belakangan kan sempat be­redar kabar hoaks soal tsunami lagi?
Saya kira soal itu sudahdikoordinasikan oleh Pak Menkopolhukam ya. Saya dengar kemarin siang Kemenkopolhukam sudah ada rapat dengan BIN dan ke­polisian. Saya kira marilah kita ikut prihatin. Saya sendiri, sesuai dengan tupoksi yang dimiliki oleh Kemendagri, sudah meminta kepada Komisi Pemilihan Umum (KPU), supaya khusus di Sulteng ini sementara tidak ada kampanye. Biar kita konsentrasi dulu menyelesaikan tanggap darurat ini. Apa pun, Pileg dan Pilpres bisa ditunda sepanjang daerahnya ada bencana, baik di tingkat TPS, kecamatan, desa, maupun kota dan kabupaten. Silakan partai politik kalau mau kampanye bagi-bagi sembako, dan kebutuhan mereka saja.

Dengan begitu apakah arti­nya tahapan pemilu di sana akan diundur?

Pokoknya yang penting saya mohon pada KPU, jangan ada kampanye dulu, stop saja dulu. Mari kita empati pada warga yang kena musibah, sambil lihat tahap yang berikutnya.

Apa tujuan Anda datang ke KPK?
Tujuan kami ke KPK ya untuk berdiskusi saja tentang daerah rawan korupsi. Terutama tentang pencegahan, supaya teman-teman gubernur terpilih ini lebih memahamilah, apa yang men­jadi program KPK khusus lnya terkait pencegahan. Sehingga mereka memahami area-area rawan korupsi. ***

Populer

Bupati Klaten Dikabarkan Terjaring OTT KPK

Kamis, 15 Oktober 2026 | 11:10

Adik dan Orang Kepercayaan Kepala BNPB Suharyanto Dikabarkan Ditetapkan Tersangka KPK

Rabu, 14 Oktober 2026 | 10:12

Pergantian KSAD jadi Sinyal Skenario Baru Penentuan Panglima TNI

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 03:02

Jokowi sudah Ditinggalkan Parpol, Polri, hingga Oligarki

Senin, 19 Oktober 2026 | 04:00

Gagal Atasi Karhutla, Pecat Menhut Raja Juli!

Jumat, 16 Oktober 2026 | 23:30

Gugat Allianz Rp1,5 Miliar, Krisdayanti Ajukan Perkara ke PN Jaksel

Minggu, 18 Oktober 2026 | 13:28

Dua Tahun Cukup bagi Prabowo Mengasuh Geng Solo

Selasa, 13 Oktober 2026 | 13:43

UPDATE

Bursa Asia Tertekan, Kospi Anjlok Lebih 2 Persen

Jumat, 23 Oktober 2026 | 08:33

Ekonom Sentil Menteri Prabowo: Jangan Jadi Beban Presiden!

Jumat, 23 Oktober 2026 | 08:21

Wall Street Tertekan Aksi Jual Saham Teknologi

Jumat, 23 Oktober 2026 | 07:56

Lonjakan Minyak Tekan Logam Dunia: Emas Anjlok ke Level Terendah

Jumat, 23 Oktober 2026 | 07:45

Saham BYAN Tancap Gas, Naik 3,16 Persen ke Rp10.600

Jumat, 23 Oktober 2026 | 07:22

Penguatan IHSG Sinyal Kepercayaan ke Pemerintah Mulai Pulih

Jumat, 23 Oktober 2026 | 07:10

Pasar Eropa Merah Gara-gara Minyak

Jumat, 23 Oktober 2026 | 07:06

Terbuka Peluang Bangun Museum Haji Indonesia

Jumat, 23 Oktober 2026 | 06:58

Pujian Prabowo Jangan Jadi Obat Tidur Menteri

Jumat, 23 Oktober 2026 | 06:57

Pemerintah Harus Berlakukan Wajib Halal pada Oktober 2026

Jumat, 23 Oktober 2026 | 06:19

Selengkapnya