Berita

Nasaruddin Umar/Net

Perempuan Hebat di Dalam Al-Qur'an (34)

Putri Nabi Syu'aib Pengusaha?

SENIN, 01 OKTOBER 2018 | 09:37 WIB | OLEH: NASARUDDIN UMAR

ADA sejumlah ayat mengi­syaratkan putri Nabi Syu'aib, yang kemudian menjadi is­teri Nabi Musa seorang pengusaha, setidaknya se­orang yang aktif di dunia publik, atau mungkin seka­rang bisa diparalelkan den­gan perempuan karier. Di antara ayat-ayat tersebut antara lain:

"Dan ketika dia sampai di sumur negeri Madyan, dia menjumpai di sana sekumpu­lan orang yang sedang member minum (ter­naknya), dan dia menjumpai di belakang orang banyak itu, dua orang perempuan se­dang menghambat (ternaknya). Dia (Musa) berkata, "apakah maksudmu (dengan berbuat begitu)"? Kedua (perempuan) itu menjawab, "kami tidak dapat memberi minum (ternak kami), sebelum para pengembala itu memu­langkan (ternaknya), sedang ayah kami ada­lah orang yang telah lanjut usianya". (Q.S. al- Qashsh/28:23).

Ayat ini mengisyaratkan sang putri seorang yang terbiasa aktif di dunia public atau dunia laki-laki. Sebelum perjumpaan dengan Nabi Musa mungkin putri itu sudah biasa mengantri di sela-sela kaum laki-laki.


Ayat lain yang mengisyaratkan aktifitas pub­lic itu ialah ketika sang putri menghadapkan Nabi Musa ke bapaknya, ia menyatakan me­nyatakan kepada ayahnya: "Wahai bapakku ambillah ia sebagai orang yang bekerja (pada kita), karena sesungguhnya orang yang pal­ing baik yang kamu ambil untuk bekerja (pada kita) ialah orang yang kuat lagi dapat diper­caya". (Q.S. al-Qashash/28:26). Kata al-qawi­yy al-amin dalam bahasa manajmen modern bisa dipadankan dengan kata "tangguh, profe­sional, dan meyakinkan", sebuah kriteria yang amat diproriataskan di dalam merekrut juga dapat dikategorikan sebagai pernyataan yang keluar dari seorang professional, karena ia tidak menonjolkan ketampanan dan latar be­lakang keturunannya tetapi mengedepankan potensi karyawan. Setidaknya sang putri fasih menggunakan bahasa manajmen yang baik.

Apa yang ditampilkan sang putri sesuatu yang istimewa, apalagi jika diukur pada za­mannya. Sekarang saja perempuan yang bekerja dalam dunia publik, masih dibedakan dengan dua istilah, yaitu perempuan bekerja dan perempuan karier atau lebih popular den­gan wanita karier. Yang pertama ditujukan ke­pada perempuan yang bekerja di sektor infor­mal sebagai buruh atau semacamnya, tidak mempunyai hak-hak inisiatif lebih besar dan semuanya ditentukan oleh para pemilik mod­al, termasuk di sini para pekerja seks. Yang kedua diperuntukkan kepada perempuan yang memiliki profesionalisme dan hak-hak inisiatif lebih luas. Ironisnya, polarisasi seperti ini tidak pernah diberlakukan bagi laki-laki.

Dalam lingkungan kerja, promosi karier se­orang perempuan selain harus memenuhi per­syaratan formal sebagaimana ketentuan yang berlaku, juga tersirat satu syarat inplisit, yaitu yang bersangkutan "direlakan" oleh kaum laki-laki di lingkungannya, baik di lingkungan unit kerjanya maupun di lingkungan keluarganya, khususnya oleh suaminya. Tidak sedikit jum­lah karyawan perempuan gagal dipromosi karena "persyaratan eksternal" tersebut tidak dipenuhi.

Sesungguhnya bekerja adalah salahsatu hak asasi manusia yang sangat mendasar. Dilihat dari berbagai sudut, seseorang yang tidak bekerja, entah laki-laki atau perempuan, apapun alasannya, seolah-olah dianggap ca­cat atau beban sosial. Berbagai asumsi negatif bisa muncul terhadap orang-orang yang tidak bekerja. Dalam berbagai penelitian juga mem­buktikan bahwa secara psikologis seseorang dalam usia proktif akan mengalami inveriority comlex syndrome, kehilangan rasa percaya diri; dan dari sudut agama, orang yang tidak beramal dianggap tidak sempurna keimanan­nya, karena hampir setiap perintah beriman dibarengi perintah beramal. Adanya isyarat putri Nabi Syu'aib perempuan karier penting dijadikan bahan renugan untuk kita semua de­wasa ini. 

Populer

PKS Anggap Permintaan Maaf Raffi Ahmad Belum Cukup

Minggu, 01 November 2026 | 22:28

Syarat Penerima BSU 2026 Resmi dari Kemnaker, Cek Kriterianya

Jumat, 30 Oktober 2026 | 16:29

Bonatua akan Diperiksa Bareskrim terkait Dugaan Pemalsuan Dokumen Suket Gibran

Rabu, 04 November 2026 | 23:19

Jokowi Jangan Mimpi PSI Jadi Partai Besar

Selasa, 03 November 2026 | 02:41

Boikot Raffi Ahmad-Willie Salim Cederai Nilai Demokrasi

Senin, 02 November 2026 | 20:11

Peringatan Yusril soal Pencalonan Gibran Problematik Kini Terbukti

Minggu, 01 November 2026 | 12:02

KPK Bongkar Dugaan Akal-akalan Cukai Rokok PT Djarum Sejak 2010

Senin, 02 November 2026 | 15:43

UPDATE

Irjen Slamet Uliandi Tersangka Keempat Kasus Penyadapan Telepon Prabowo

Jumat, 06 November 2026 | 02:03

Dzulfikar dan Fuji Abdul Tekankan Intelektualisme Pemuda untuk Pengabdian Bangsa

Jumat, 06 November 2026 | 01:31

Pramono Bertahap Menata Parkir Liar hingga Fasilitas Tanah Abang

Jumat, 06 November 2026 | 01:17

Kalau Hasil Labfor Polri Diragukan, Siapa Lagi yang Mau Dipegang?

Jumat, 06 November 2026 | 01:05

Menjaga Riau dari Ancaman Karhutla Lewat Mitigasi Berkelanjutan

Jumat, 06 November 2026 | 00:32

PPKK Perkuat Pengamanan Kawasan Kemayoran

Jumat, 06 November 2026 | 00:17

Tunjukkan Ijazah di Pengadilan Belum Tentu Akhiri Polemik

Jumat, 06 November 2026 | 00:08

Listyo Sigit Cs Pakai Mesin Sadap Seharga Rp212 Miliar

Kamis, 05 November 2026 | 23:39

Gratis Masuk Ancol Bulan November, Cek Caranya

Kamis, 05 November 2026 | 23:12

Jokowi Menolak Ijazah Diuji Ulang, Pengamat: Apa karena Kapolri sudah Diganti?

Kamis, 05 November 2026 | 23:01

Selengkapnya