Berita

Foto/Net

Bisnis

Tol Cikampek Harusnya Didiskon, Bukan Dinaikin

Masih Berantakan & Macet, Kok Tarifnya Mau Dikerek
SABTU, 25 AGUSTUS 2018 | 09:50 WIB | HARIAN RAKYAT MERDEKA

Rencana Jasa Marga untuk menaikkan tarif tol Jakarta-Cikampek diprotes oleh berbagai kalangan. Kenaikan tarif dinilai tidak layak karena pelayanan jalan tol masih berantakan. Harusnya, tarif tol justeru didiskon.

Wakil Ketua Asosiasi Pengu­saha Truk Indonesia (Aptrindo) Kyatmadja Lookman mengatakan, menaikkan tarif tol sama saja men­gerek ongkos logistik.

"Makanya kami tidak sepakat," ujarnya kepada Rakyat Merdeka, di Jakarta, kemarin.


Menurut Lukman, kenaikan tarif tidak sebanding dengan kondisi jalan tol saat ini. Tarif tol masih belum layak naik kar­ena macet, jalan banyak yang bolong. Ditambah pembangunan infrastruktur yang masih berlang­sung jadi tambah berantakan.

Jalan tol Jakarta-Cikampek dan Sedyatmo merupakan jalur ekspor impor yang seharusnya mendapat keringanan tarif dari pemerintah. "Harusnya ada diskon untuk jalur tersebut, bukan justru menaikkan tarifnya," protes Lukman.

Pemerintah juga bisa melakukan penyederhanaan golongan di jalan jalan tol agar kemacetan tidak sering terjadi. "Penyederhanaan golongan itu oke seperti rencana presiden. Sama pengurangan tarif golongan dua ke atas. Kalau go­longan satu banyak pilihan, kami tidak ada pilihan," tukasnya.

Ketua Umum Asosiasi Lo­gistik Indonesia (ALI) Zaldyy Ilham Masita menganggap, usulan kenaikan tarif tol Jakarta-Cikampek dan Tol Sedyatmo sangat tidak sesuai. "Sangat aneh rencana Jasa Marga menaikkan tarif khususnya Jakarta-Cikam­pek," semprot Zaldy.

Zaldy mengatakan, hal terse­but tidak sesuai dikarenakan lalu lintas di Tol Jakarta-Cikam­pek belum lancar. "Seharusnya Jasa Marga membereskan dulu kemacetan yang parah di Tol Jakarta-Cikampek, baru bahas penyesuaian tarif," ingat Zaldy.

Ketua Harian Pengurus Harian Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) Tulus Abadi mengatakan, usulan kenaikan tarif Tol Jakarta-Cikampek harus ditolak. "Tol Jakarta-Cikampek sangat tidak memenuhi Standar Pelayanan Minimal (SPM) yang ada," ujarnya.

Tol dinilai belum layak dari sisi kualitas infrastruktur jalan dan ke­cepatan rata-rata kendaraan. Bah­kan, antrean di loket pembayaran Tol Jakarta-Cikampek juga belum lancar dan semua permasalahan tersebut dikarenakan dampak dari pembangunan tol layang dan Light Rail Transit (LRT).

Menurut Tulus, seharusnya operator tol tersebut melakukan hal sebaliknya. "Yang adil itu tarif Tol Jakarta-Cikampek sehar­usnya diturunkan karena saat ini sangat merugikan konsumen dari sisi pelayanan," kata Tulus.

Sebelumnya, PT Jasa Marga (Persero) telah melayangkan su­rat kepada Badan Pengatur Jalan Tol (BPJT). Surat itu berupa pengajuan untuk menaikkan tarif dua tol yang dikelolanya.

Sekretaris Perusahaan Jasa Marga Agus Setiawan mengata­kan, dua ruas yang tarif tolnya akan dinaikkan adalah Jakarta-Cikampek dan Sedyatmo. Dia memastikan, usulan kenaikan tarif dua ruas tol tersebut su­dah dilakukan sesuai ketentuan seperti angka inflasi dua tahun terakhir di setiap wilayah.

Penyesuaian tarif tol juga di­lakukan sesuai peraturan ber­dasarkan Pasal 48 Undang-Un­dang Nomor 38 Tahun 2004 tentang Jalan. "Intinya, usulan kenaikan tarif dua tol ini berdasar­kan laju inflasi," ujar Agus.

Untuk berapa kenaikan tarif tol tersebut, BPJT dan Jasa Marga akan mengkajinya kem­bali. Misalnya, untuk tarif Tol Sedyatmo, kenaikan akan dit­injau dari berapa persen angka inflasi dari Oktober 2016 sampai September 2018. ***

Populer

Kekayaan Ibas Demokrat Naik Lebih 700 Persen dalam Empat Tahun, Total Rp354,7 Miliar

Kamis, 25 Juni 2026 | 05:22

KPK Sakit Jiwa

Kamis, 25 Juni 2026 | 15:08

Penggunaan Gedung Kemenhut oleh PSI Berpotensi Melanggar Hukum

Minggu, 28 Juni 2026 | 00:26

Mitra MBG Ultimatum BGN Cabut SE 12/2026 2x24 Jam

Selasa, 23 Juni 2026 | 18:32

KPK Didesak Bongkar Dugaan Aliran Dana ke Oknum Polisi dalam Kasus Bea Cukai

Jumat, 26 Juni 2026 | 01:30

Langgar HAM, Segera Tangkap Taufik Hidayat dan Dihukum Setimpal!

Senin, 22 Juni 2026 | 15:05

Tim Mawar dan Tambang

Minggu, 28 Juni 2026 | 04:59

UPDATE

Steve Hanke Ungkit Lagi Keputusan IMF 1998, Klaim Rupiah Bisa Setara Dolar AS

Selasa, 30 Juni 2026 | 08:12

Gibran Ingin Generasi Muda Jadi Perekat Persatuan Bangsa

Selasa, 30 Juni 2026 | 08:06

Komut Pertamina Mochamad Iriawan Pastikan Kesiapan SAF dan Operasional B50 di Jawa Timur

Selasa, 30 Juni 2026 | 07:57

Wall Street Berpesta! Dow Cetak Rekor

Selasa, 30 Juni 2026 | 07:53

Nasib Nadiem Ditentukan di Sidang Vonis Hari Ini

Selasa, 30 Juni 2026 | 07:42

Kekayaan AHY Naik Hampir Enam Kali Lipat, Kini Tembus Rp118,65 Miliar

Selasa, 30 Juni 2026 | 07:29

STOXX 600 Menguat Tipis, Saham Teknologi dan Energi Topang Bursa Eropa

Selasa, 30 Juni 2026 | 07:24

Jerman Tumbang, Paraguay Melaju ke Perempat Final Piala Dunia 2026

Selasa, 30 Juni 2026 | 07:14

Pimpin BEI 2026-2030, Jeffrey Hendrik Targetkan Pasar Modal Indonesia Tembus 10 Besar Dunia

Selasa, 30 Juni 2026 | 07:02

Dana GCA Diklaim Bisa Stabilkan Nilai Tukar Rupiah

Selasa, 30 Juni 2026 | 06:48

Selengkapnya