Berita

Nasaruddin Umar/Net

Ormas Islam & Kelompok Radikal (36)

Belajar Dari Pengalaman Suksesi Ali Ibn Abi Thalib

SELASA, 21 AGUSTUS 2018 | 09:06 WIB | OLEH: NASARUDDIN UMAR

KEMATIAN Utsman ibn Af­fan meninggalkan rangka­ian persoalan politik dan berdampak pada suksesi Ali ibn Abi Thalib. Al ibn Abi Thalib lahir di Makkah, daer­ah Hijaz, Jazirah Arab (599- 661 M). Ibunya yang berna­ma Fatimah binti Asad, cucu dari Hasyim. Ia salah seorang pemeluk Islam pertama paling junior dan juga keluarga Nabi. Ia adalah sepupu Nabi Muhammad sekaligus menantunya setelah menikah dengan Fatimah binti Asad. Ia adalah Khalifah terakhir (IV) dari Khulafaur Rasyidin, meskipun menurut Syi’ah, ia merupakan Imam sekaligus khalifah pertama yang dipilih oleh Rasulullah Muhammad SAW. Syi’ah berpendapat bahwa Ali adalah khalifah yang berhak menggantikan Nabi Muhammad, dan sudah ditunjuk oleh Beliau atas perintah Al­lah sebagaimana sering dirujuk peristiwa Ghad­ir Khum. Ali dikenal oleh dunia sunny dan syi'ah sebagai sahabat yang cerdas dan pintar. Ali mendapatkan gelar Karramallahu Wajhah atau semoga Allah memuliakan wajahnya.

Prestasi Sayyidina Ali banyak sekali. Selain pintar, ia juga sangat setia mendampingi per­juangan Nabi. Ia bersedia tidur di kamar Nabi dan menggunakan selimutnya untuk menge­labui orang-orang Quraisy yang akan menggagalkan hijrah Nabi. Setelah pasukan elite ber­maksud membunuh Nabi, alangkah kagetnya kalau orang yang ada di kamar dan menggu­nakan selimut Nabi ternyata Ali. Nabi bersama Abu Bakar sudah jauh meninggalkan Kota Mak­kah dan lolos dari pengintaian musuh. Sayidina Ali juga dikenal sangat cerdas. Ia anak muda tetapi memiliki pendirian tegas dan otak cemer­lang. Nabi pernah mengatakan ambil separoh ilmu dari Ali.

Ali bin Abi Thalib berkuasa selama kurang lebih 4 tahun. Ali meninggal di dalam suasana umat yang sedang terpecah belah. Sepening­gal Ali, kepemimpinan diambil alih oleh Muawi­yah bin Abi Sufyan melalui kekuatan pedang. Sayyidina Ali adalah sosok terakhir kepemimpi­nan Khulafa' al-Rasyidin. Selanjutnya ia mem­bentuk sistem pemerintahan kerajaan yang suksesinya berlangsung secara turun temurun tanpa melalui proses musyawarah. Demikian seterusnya sampai Daulat Umayyah ditakluk­kan oleh Daulat Abbasyiah yang juga menga­nut sistem monarki. Para pemimpin umat se­sudahnya pada umumnya apara politisi murni, bukan lagi ulama. Berbeda dengan kepemimpi­nan sebelumnya mengombinasikan diri sebagai figur ulama dan umara. Krisis keulamaan yang dialami para pemimpin sesudah Sayidina Ali mencerminkan pola kepemimpinan pada rezim kekuasaan masing-masing penguasa. Baik rezim Mu'awiyah maupun rezim Abbasiyah su­lit sekali ditemukan figur pemimpin yang men­gombinasikan kapasitas ulama dan umara.


Dari cuplikan sejarah di atas, dapat dipa­hami bahwa Islam sepertinya tidak memiliki suatu sistem yang baku di dalam hal penen­tuan siapa sumber dan pelaksana kekuasaan, apa dasarnya, bagaimana cara menentukan dan kepada siapa kewenangan melaksanakan kekuasaan itu diberikan, kepada siapa pelak­sana itu bertanggung jawab, dan bagaimana bentuk tanggung jawabnya. Pertanyaan seperti ini ditambah dengan pengalaman sejarah Nabi dan para sahabat dan penerusnya mempersu­lit setiap orang yang akan memikirkan sebuah konsep negara Islam. Sejarah suksesi dalam Islam tidak linial dan tidak tunggal melainkan beragam.

Tidak adanya penjelasan apalagi ketegasan mengenai suksesi di dalam Islam menjadi isyarat bahwa urusan suksesi adalah masalah kontemporer dan terkait dengan objektivitas perkembangan masyarakat. Masalah sukse­si dapat dikategorikan sebagai urusan dun­iawi yang dalam penyelesaiannya Nabi pernah mengatakan: Antum a'lamu bi umuri dunyakum (kalian lebih tahu menyangkut urusan kedun­iaannya). Siapa tahu dan kita berharap, Indone­sia bisa menyumbangkan model suksesi yang ideal bagi setiap negara, khususnya negara-negara muslim. Kredibilitas pemilu yang akan datang akan ikut menentukan obsesi itu. Sela­mat berpesta demokrasi.

Populer

KPK Bakal Dalami Data Intelijen soal Dugaan Suap ke Purbaya dan Anggota Komisi XI DPR

Kamis, 27 Agustus 2026 | 02:24

KPK OTT Rektor Unsoed Prof Akhmad Sodiq

Jumat, 21 Agustus 2026 | 08:01

Dakwaan Lemah, Perkara Chromebook Murni Rekayasa

Kamis, 27 Agustus 2026 | 14:31

Profil Akhmad Sodiq, Rektor Unsoed yang Terjaring OTT KPK

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 09:02

Tidak Benar Menag Nasaruddin Umar Mundur

Rabu, 26 Agustus 2026 | 18:06

KPK Sebut Iptu Dias Tak Bisa Dijerat Dewas, Penanganan Etik Diserahkan ke Polri

Senin, 24 Agustus 2026 | 11:47

Belasan Teman Jokowi Bagusnya Batal Jadi Saksi Sidang soal Ijazah

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 03:14

UPDATE

PT CNI Serahkan Duit Rp401 Miliar ke Kejagung

Senin, 31 Agustus 2026 | 20:27

Detik-Detik Bareskrim Gerebek Kasino di Batam: Pemain Panik, Rp7,7 Miliar Disita

Senin, 31 Agustus 2026 | 20:23

Owner VIMA Buka Suara soal Legalitas dan Perizinan Resmi

Senin, 31 Agustus 2026 | 19:51

Masyarakat Diminta Berikan Data Jujur untuk Sukseskan Sensus Ekonomi 2026

Senin, 31 Agustus 2026 | 19:46

Enam Perusahaan di Kalimantan Disanksi Terkait Karhutla

Senin, 31 Agustus 2026 | 19:38

Corpus Juris Civilis Tahun 528 M sebagai Fondasi Hukum Modern

Senin, 31 Agustus 2026 | 19:34

Destry Pimpin BI Cerminkan Kuatnya Kepemimpinan Perempuan

Senin, 31 Agustus 2026 | 19:24

Prabowo Tahu Persis Siapa yang Ingin Menjatuhkannya

Senin, 31 Agustus 2026 | 19:05

PGNMAS Boyong BerandaMAS di Danantara Housing Expo 2026

Senin, 31 Agustus 2026 | 19:03

Kemenperin Minta Tambahan Anggaran Rp1,72 Triliun

Senin, 31 Agustus 2026 | 18:54

Selengkapnya