Berita

Robert J Kardinal

Nusantara

Perusahaan Di Papua Harus Serius Perhatikan Warga Setempat

KAMIS, 09 AGUSTUS 2018 | 22:14 WIB | LAPORAN: DEDE ZAKI MUBAROK

Ketua Kaukus Parlemen Papua-Papua Barat Robert J. Kardinal angkat bicara terhadap aksi demonstrasi besar-besaran masyarakat Papua yang tergabung dalam Forum Masyarakat Papua Peduli Freeport (FMPPF) yang digelar di halaman Gedung DPRD Papua, Jayapura, kemarin.

Menurutnya, aksi demo ini merupakan bentuk kekecewaan mereka atas perlakuan perusahaan-perusahaan tambang yang hanya mengeruk kekayaan alam Papua namun tidak memperhatikan kepentingan masyarakat setempat.

"Itulah yang selalu saya bicarakan bahwa masalah di Bumi Papua ini harus mendapat perhatian serius dari perusahaan-perusahaan yang beroperasi di sana. Baik PT Freeport Indonesia, BP Tangguh dan perusahaan lainnya untuk bagaimana ke depan sumberdaya manusia orang Papua itu betul-betul diperhatikan," kata Robert, Kamis (9/8).


Sikap Robert ini menyikapi aksi demonstrasi besar-besaran ratusan rakyat Papua yang tergabung dalam Forum Masyarakat Papua Peduli Freeport, di depan halaman gedung DPR Papua, Jayapura, kemarin.

Dalam tuntutannya, mereka meminta Pemerintah Indonesia melibatkan mereka dalam proses divestasi saham Freeport, karena rakyat Papua adalah pemilik hak ulayat tanah tempat beroperasinya perusahaan tambang emas terbesar di dunia itu.

"Pemerintah Indonesia dan Freeport harus mengakui hak-hak masyarakat adat Papua diatas wilayah pertambangan," kata tokoh intelektual Seireri, Sam Ayomi, saat membacakan pernyataan sikap FMPPF.

Mereka juga mendesak PT Freeport memperjelas skema pendanaan CSR yang selama ini diberikan 1 persen. Freeport harus melakukan sistem pengelolaan industri pertambangan yang berlangsung hingga pasca tambang berprespestif terhadap lingkungan.

Selain itu, mereka juga meminta pemerintah Indonesia dan Freeport memperluas peluang bisnis atau manfaat ekonomi bagi masyarakat asli Papua.

"Pemerintah Indonesia dan Freeport harus memperluas peluang masyarakat asli Papua bekerja di Freeport dan perusahaan kontraktor lainnya," ujarnya.

Robert menegaskan, tuntutan masyarakat Papua ini harus disikapi serius. Toh tuntutan mereka sederhana, meminta Freeport mengakui hak masyarakat diatas tanah Papua.

"Masak puluhan tahun Freeport menambang disana tidak bisa siapkan orang Papua jadi Presdir (Presiden Direktur) disana. Berapa persesn sih orang Papua kerja di situ. Walaupun banyak orang Papua kerja di situ, tapi posisinya apa di sana," katanya.

Bendaharan Umum DPP Partai Golkar ini menjelaskan, telah banyak menerima aspirasi masyarakat Papua  yang mengeluhkan kinerja perusahaan asing yang beroperasi di Papua.

"Banyak perusahaan kontraktor Freeport BP (Tangguh) sama sekali tidak pernah libatkan orang lokal disana. Ini (aksi demo) akumulasi kekecewaan bertahun-tahun masyarakat Papua di sana,” katanya.

Kendati demo besar-besaran, dia yakin tidak akan berpengaruh pada stabilitas di Papua. Ditegaskannya, orang Papua masih bisa diajak kompromi. Demonstrasi ini lebih pada adanya ketidakadilan perusahaan terhadap masyarakat lokal.

"Coba berapa komisaris, atau orang Papua  yang duduki posisi penting disana? Freeport dan BP harus terbuka. Termasuk kantor kenapa sih tidak mau pindah ke Timika? Freeport inikan beroperasinya Cuma di Papua. Selain di Papua, di Indonesia tidak ada lagi. Tapi kenapa kantor pusatnya di Jakarta. Padahal kalau di Papua lebih besar lagi manfaat yang diterima masyarakat Papua," paparnya.

Untuk selesaikan masalah ini, dia mengajak semua stakeholder baik PT Freeport, pemerintah maupun pihak lainnya untuk duduk bersama mencari solusi terbaik bagi masyarakat Papua.

"Freeport kan sudah puluhan tahun di sana, tidak ada salahnya duduk bersama dengan masyarakat Papua. Istilah kita di Papua 'Gelar Tikar Adat'. Jadi masyarakat yang punya hak diajak bicara, bukan kepada orang-orang yang tidak punya kewenangan," pungkasnya. [fiq]

Populer

10.060 Jemaah Umrah Telah Kembali ke Tanah Air

Kamis, 05 Maret 2026 | 09:09

Menyorot Nuansa Politis Penetapan Direksi Pelindo

Senin, 02 Maret 2026 | 06:59

Rumah Bersejarah di Menteng Berubah Wujud

Sabtu, 07 Maret 2026 | 22:49

Harga Tiket Pesawat Kembali Tidak Masuk Akal

Selasa, 03 Maret 2026 | 03:51

Pengacara Terkenal yang Menyita Perhatian Publik

Minggu, 08 Maret 2026 | 11:44

Siapa Berbohong, Fadia Arafiq atau Ahmad Luthfi?

Sabtu, 07 Maret 2026 | 06:42

Rusia dan China akan Dukung Iran dari Belakang Layar

Minggu, 01 Maret 2026 | 04:20

UPDATE

Koops TNI Papua Gelar Baksos di Panti Asuhan Santa Susana Mimika

Rabu, 11 Maret 2026 | 02:09

Mahfud MD Usul Fraksi DPR Dibikin Dua Blok

Rabu, 11 Maret 2026 | 02:00

Wakapolri Ingin Setiap Kebijakan Polri Bisa Dipertanggungjawabkan secara Ilmiah

Rabu, 11 Maret 2026 | 01:33

Jimly Asshiddiqie Usul Masa Jabatan KPU seperti MK

Rabu, 11 Maret 2026 | 01:20

Iran Menolak Tunduk kepada Trump

Rabu, 11 Maret 2026 | 01:09

Inilah 11 Pimpinan Baru Baznas

Rabu, 11 Maret 2026 | 00:40

Cara Licik Fadia Arafiq Korupsi

Rabu, 11 Maret 2026 | 00:25

Setara Institute Catat 221 Pelanggaran KBB Sepanjang 2025

Rabu, 11 Maret 2026 | 00:15

Operasional TPST Bantargebang Ditargetkan Pulih dalam Sepekan

Rabu, 11 Maret 2026 | 00:01

Pramono-Rano Berhasil Tuntaskan PR Pemimpin Terdahulu

Selasa, 10 Maret 2026 | 23:29

Selengkapnya