Berita

Foto/RMOL

Hukum

Warga Tapteng Desak KPK Tahan Bupatinya

KAMIS, 09 AGUSTUS 2018 | 14:47 WIB | LAPORAN: SORAYA NOVIKA

Gerakan Masyarakat Tapanuli Tengah (Gema Tapteng) kembali menyambangi Komisi Pemberantasan Korupsi.


Mereka mendesak penetapan tersangka Bupati Tapanuli Tengah Bahktiar Ahmad Sibarani dalam dugaan suap kepada mantan hakim konstitusi Akil Mochtar pada sengketa Pilkada Tapteng 2011 lalu.

Joko Pranata Situmeang selaku koordinator Gema Tapteng mengatakan, tuntutan tersebut belum juga direspon oleh KPK. Bahkan sejak awal unjuk rasa dilaksanakan tiga tahun lalu.

"Tuntutan kami ini adalah aksi yang ke tujuh kalinya, setelah enam kali aksi namun belum juga ditanggapi KPK," ujarnya di depan Gedung KPK, Jakarta, Kamis (9/8).
"Tuntutan kami ini adalah aksi yang ke tujuh kalinya, setelah enam kali aksi namun belum juga ditanggapi KPK," ujarnya di depan Gedung KPK, Jakarta, Kamis (9/8).

Gema Tapteng juga melontarkan kekecewaan terhadap KPK. Mengingat, untuk perkara korupsi yang terbilang kecil KPK mampu menuntaskan namun untuk suap sebesar Rp 1,8 miliar malah tidak merespon.

"KPK selama ini gembar-gembor keberhasilannya dalam melakukan OTT terhadap sejumlah pejabat tapi untuk kasus pemberian suap sebesar Rp 1,8 miliar ke Akil Mochtar yang jelas kelihatan malah tak merespon," keluh Joko.

Selain itu, Bakhtiar Ahmad Sibarani saat ini masih menjabat bupati aktif sehingga dikhawatirkan dapat mengulangi perbuatannya melakukan suap.

"Kami khawatir Bakhtiar Sibarani ini akan mengulangi perbuatannya," ujar Joko.

Dia menambahkan, KPK sudah memiliki lebih dari dua alat bukti atas kasus tersebut, sehingga sudah sepatutnya melakukan penahanan terhadap pihak-pihak yang diduga terlibat.

"Kami minta KPK segera tuntaskan ini. Tahan saja," tegas Joko. [wah]

Populer

10.060 Jemaah Umrah Telah Kembali ke Tanah Air

Kamis, 05 Maret 2026 | 09:09

Rumah Bersejarah di Menteng Berubah Wujud

Sabtu, 07 Maret 2026 | 22:49

Pengacara Terkenal yang Menyita Perhatian Publik

Minggu, 08 Maret 2026 | 11:44

KPK Dikabarkan Gelar OTT di Cilacap Jawa Tengah

Jumat, 13 Maret 2026 | 14:54

Siapa Berbohong, Fadia Arafiq atau Ahmad Luthfi?

Sabtu, 07 Maret 2026 | 06:42

Bangsa Tak Akan Maju Tanpa Makzulkan Gibran dan Adili Jokowi

Senin, 09 Maret 2026 | 00:13

Anggaran Pendidikan Diperebutkan, Sistemnya Tak Pernah Dibereskan

Sabtu, 14 Maret 2026 | 07:48

UPDATE

Fasilitas Server Diserang, AS-Israel Makin Kewalahan Hadapi Iran

Senin, 16 Maret 2026 | 01:30

Kecelakaan Beruntun di Tol Semarang-Batang Nihil Korban Jiwa

Senin, 16 Maret 2026 | 01:09

Port Visit di Cape Town

Senin, 16 Maret 2026 | 00:50

Program MBG Bisa Lebih Kuat jika Didesain secara Otonom

Senin, 16 Maret 2026 | 00:30

Persib dan Borneo FC Puas Berbagi Poin

Senin, 16 Maret 2026 | 00:01

Liberalisasi Informasi dan Kebutuhan Koordinasi

Minggu, 15 Maret 2026 | 23:42

Polri Buka Posko Pengaduan Khusus Kasus Andrie Yunus

Minggu, 15 Maret 2026 | 23:17

Ketika Jiwa Bangsa Menjawab Arogansi Teknologi

Minggu, 15 Maret 2026 | 23:14

Teror Air Keras dalam Dialektika Habermasian

Minggu, 15 Maret 2026 | 22:45

Yuddy Chrisnandi: Visi Menteri dan Presiden Harus Selaras

Minggu, 15 Maret 2026 | 22:32

Selengkapnya