Berita

Din Syamsuddin/Net

Wawancara

WAWANCARA

Din Syamsuddin: Umat Islam Banyak, 220 Juta Jiwa, Jangan Disempitkan Hanya Kelompok Tertentu Saja

SELASA, 07 AGUSTUS 2018 | 11:31 WIB | HARIAN RAKYAT MERDEKA

Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat menggelar ra­pat pleno membahas agenda demokrasi Pemilu 2019. Salah satu topik yang mendapat so­rotan adalah klaim dukungan umat Islam yang disampaikan beberapa kelompok untuk ke­pentingan politik.

Ketua Dewan Pertimbangan MUI Din Syamsuddin menye­but, umat Islam di Indonesia secara keseluruhan ada sekitar 220 juta, tidak bisa disem­pitkan pada kelompok keu­matan tertentu untuk urusan pemilu. Berikut penuturan Din Syamsuddin selengkapnya :

Dalam rangka apa pertemuan kemarin itu?
Kemarin itu, Dewan Pertimbangan MUI menye­lenggarakan rapat pleno ke-29 yang merupakan pertemuan bulanan dan khusus untuk hari ini menghadirkan Wapres Jusuf Kalla dalam rangka dialog. Karena Dewan Pertimbangan MUI sangat meyakini kekuatan dialog. Terutama tukar menukar pemikiran antara kita dengan siapa saja, termasuk yang ber­beda pandangan dengan kita. Karena dengan dialog kita bisa berada di titik temu.

Kemarin itu, Dewan Pertimbangan MUI menye­lenggarakan rapat pleno ke-29 yang merupakan pertemuan bulanan dan khusus untuk hari ini menghadirkan Wapres Jusuf Kalla dalam rangka dialog. Karena Dewan Pertimbangan MUI sangat meyakini kekuatan dialog. Terutama tukar menukar pemikiran antara kita dengan siapa saja, termasuk yang ber­beda pandangan dengan kita. Karena dengan dialog kita bisa berada di titik temu.

Apa yang menjadi topik pembahasannya?

Khusus kali ini kita men­gangkat tema umat Islam da­lam menghadapi demokrasi Indonesia, khususnya pemilu legislatif dan pilpres yang akan diselenggarakan di 2019 men­datang.

Temanya politis sekali....

Bahwa harus diakui adanya kemajuan, perkembangan dalam kehidupan umat Islam beberapa tahun belakangan ini. Dalam berbagai aspek kehidupan, baik sosial, pendidikan, kebudayaan, seperti penggunaan lambang-lambang Islam. Namun harus diakui masih banyak permasala­han dalam bidang ekonomi, teru­tama dalam bidang kesenjangan dan ketakmampuan umat Islam untuk bisa memberdayakan diri secara ekonomi.

Oleh karena itu pertama disa­rankan agar perjuangan kebu­dayaan yang dilakukan ormas-ormas bisa dilakukan, karena sejatinya ormas-ormas Islam adalah gerakan kultural, gerakan kebudayaan untuk memperkuat landasan masyarakat yang perlu terus dilakukan. Dan juga perlu juga dilakukan perubahan struk­tural seperti yang dilakukan partai-partai politik atau lewat jalur politik. Jadi dua ini tadi didorong terus menerus melaku­kan jalan dakwah, mengayomi 220 juta umat Islam. Bukan hanya sebagian atau beberapa dari mereka. Dan juga sabilus siyasah atau jalan politik yang harus dipertimbangkan.

Selain itu apalagi?

Tadi juga dibicarakan, agar konsep keumatan tidak disem­pitkan, tidak direduksi pada sejumlah dari umat Islam. Umat Islam 220 juta, jangan direduksi menjadi puluhan juta. Dan tidak semua umat Islam itu ada di par­tai-partai Islam atau partai-partai berbasis mayoritas Islam.

Banyak menyebar di partai-partai politik yang termasuk tidak berbackground Islam. Ini harap dipandang sebagai keseluruhan umat Islam. Sebab kalau reduksionis, penyempitan jumlah umat Islam, mungkin kita hanya mengklaim sebaga­ian atau beberapa dari mereka. Nah, terkait dengan ini, tadi juga diangkat dalam dialog itu, agar dalam menyikapi agenda demokrasi, sekarang ini tidak mudah dikatakan sesuatu itu putih sesuatu itu hitam. Sesuatu itu baik sesuatu itu buruk. Karena di dalamnya semua ada potensi kebaikan.

Oleh karena itu, umat Islam agar tidak terjebak kepada pan­dangan dikotomis yang kemu­dian muncul dalam klaim-klaim, inilah jalan keislaman, inilah jalan yang harus ditempuh umat Islam, satu-satunya. Sementara jalan politik itu jalan yang terbuka. Jalan yang bisa diisi denganruh Islam, yang bisa diisi dengan semangat Islam. Kalau seandainya ini tidak bisa di­terima, bahwa jangan melihat realitas politik itu secara diko­tomis hitam putih.

Makanya tadi pesan terakhir, janganlah sampai perbedaan aspirasi, kepentingan termasuk pasang calon di dalam pilpres itu berbeda, yang berbeda kemudi­an membawa rusaknya ukhuwah (hubungan) islamiyah.

Yang terakhir ini kita tekankan dan ini juga pesan dari dewan pertimbangan MUI yang telah menyepakati dulu, awal sekali, tentang etika ukhuwah islamiyah agar islam jang saling menafi­kan, jangan saling meniadakan.

Lalu, apakah pernyataan Anda ini mengkritik pihak-pihak tertentu?

Kami sama sekali tidak meng­kritik. Tetapi pada posisi meng­ingatkan bahwa umat Islam itu banyak, 220 juta. Banyak yang bergabung dengan partai-partai Islam seperti PPP, PKS, PBB dan partai-partai berbasis masa Islam seperti PAN. Tapi umat Islam juga tersebar di partai-partai lain yang tidak mengguna­kan nama Islam seperti, Hanura, Nasdem, Demokrat, PDIP dan partai-partai baru. Maka pesan yang ditekankan sekali jangan kita mereduksi jumlah umat islam itu.

Maka itu ada klaim-klaim yang monopolistik. Insya Allah kalau berjuang atas nama Islam, bisa menampilkan nama Islam, Allah akan mengganjarinya.

Insya Allah kalau yang ber­juang tidak di partai-partai islam, tapi partai-partai lain, sekuler nasionalis, insya Allah nanti juga akan memperjuangkan cita-cita Islam dan Allah akan menggan­jarinya. Dan yang berorientasi kepada cita-cita nasional, negara yang adil dan makmur, berdaulat, bermartabat yang sesungguh­nya berhimpit dengan cita-cita Islam, baldatun toyyibatun wa robbun goffur.

Dari Wapres JK ada im­bauan untuk mengurangi politik identitas?

Tidak secara khusus dibicarakan dan juga tidak ada pertanyaantentang politik identitas tadi. Tetapi menurut saya identi­tas dalam politik adalah sesuatu yang tidak bisa dinafikan dan dilenyapkan, karena itu melekat kepada diri manusia. ***

Populer

Serahkan Bukti Dugaan Politik Uang Muktamar ke-35 NU, KPK NU Desak KPK Usut Nusron Wahid

Jumat, 25 September 2026 | 14:51

TNI Tegaskan Lahan Teuku Umar No. 2 Aset Negara

Jumat, 25 September 2026 | 22:39

KPK Dalami Dugaan Aliran Rp3,5 Miliar ke Eks Ketum HIPMI

Minggu, 27 September 2026 | 11:44

Gugatan Denny Indrayana Sia-sia, cuma Bikin Gaduh

Sabtu, 26 September 2026 | 02:36

Silfester Langsung Dicopot dari Jabatan Komisaris Independen Anak Usaha Pelindo

Kamis, 24 September 2026 | 20:07

Prabowo Diminta Tindak Tegas Kelompok yang Masih Persoalkan Hasil Pilpres 2024

Selasa, 22 September 2026 | 23:16

DPRD DKI Bakal Panggil Dishub Buntut Tarif Valet Tembus Rp250 Ribu

Minggu, 27 September 2026 | 14:20

UPDATE

Jadi Menperin, Sarmuji Tegaskan akan Lanjutkan Rintisan Agus Gumiwang

Jumat, 02 Oktober 2026 | 12:23

Mengenang Warisan Luhur Pesona Batik Tulungagung di Hari Batik Nasional

Jumat, 02 Oktober 2026 | 12:16

Ketua KPK Ucapkan Selamat kepada Kapolri Jenderal Suyudi, Dorong Sinergi Pemberantasan Korupsi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 12:10

MUI: Jangan Sampai Konser “Till The Whole World Knows” Jadi Sarana Propaganda Zionisme

Jumat, 02 Oktober 2026 | 12:10

BEI Awasi Pergerakan Tiga Saham yang Masuk Radar UMA

Jumat, 02 Oktober 2026 | 11:49

KPK Ungkap Besaran Uang Silmy Karim ke Dosen UB Saat Bimbingan Doktoral

Jumat, 02 Oktober 2026 | 11:25

Garuda Tantang Gajah Perang di Final FIFA ASEAN Cup 2026

Jumat, 02 Oktober 2026 | 11:25

Emas Antam Mulai Turun Hari Ini, Intip Daftar Lengkapnya

Jumat, 02 Oktober 2026 | 11:14

Dua Tahun Danantara, Efisiensi BUMN Digenjot untuk Kejar Pertumbuhan

Jumat, 02 Oktober 2026 | 11:02

Harga Minyak Naik Lagi ke Level 102 Dolar AS

Jumat, 02 Oktober 2026 | 10:59

Selengkapnya